Jajal ketangguhan Ban SHINKO di jalan rusak Cianjur – Pantai Rancabuaya

P1050153

Touring dengan jalan bagus adalah hal biasa, apalagi jika melewati rute Bogor – Puncak Pass hingga Cianjur yang terasa sangat mulus dan nikmat untuk dilewati. Tetapi bagaimana saat kita melewati jalan rusak mulai dari Cianjur ke arah Cibeber, terus ke Sindang Barang, Cidaun hingga Pantai Rancabuaya sejauh 111 km? Hm.. ini dia kisahnya.

Pada liburan Imlek 19 Februari 2015 yang lalu, Motobikerz.com mengajak boncenger berusia 12 tahun untuk touring ke arah Pantai Rancabuaya di Garut Selatan dengan motor Suzuki Inazuma GW250 yang dibalut dengan ban after market bermerek SHINKO asal Korea Selatan.

Bagi mereka yang ingin berwisata ke pantai Ranca Buaya umumnya akan mengambil rute dari Bandung – Pengalengan – Rancabuaya sejauh 116 KM, namun kali ini Motobikerz mengambil jalur jalan rusak mulai dari Cianjur – Sindangbarang – Cidaun – Rancabuaya sejauh 111 Km (lihat peta atau silahkan check ke Google Map).

Rute Cidaun Rancabuaya

Pada perjalanan kali ini, sepanjang pagi hari Motobikerz diguyur hujan gerimis, dimulai start dari markas Motobikerz.com di kawasan Depok pukul 8.00 kemudian berlanjut ke Parung – Bogor, hingga ke Puncak Pass yang ditutupi dengan kabut tebal.

Sensasi melewati jalan basah di trek lurus antara Parung – Bogor, kemudian jalan menikung tajam di kawasan perkebunan teh puncak, kemudian berlanjut ke Cianjur benar-benar sangat nikmat, bukan saja karena rutenya yang enak, tetapi juga karena menggunakan ban SHINKO Trail Master E-705.

Motobikerz sebagai pengendara dan boncenger, dan hanya kami berdua yang memiliki hubungan antara Bapak dan Anak sangat menikmati perjalanan ini. Disini kami berdua sedang melatih diri menguji untuk tidak bergantung kepada orang lain, dan sekaligus latihan mental dalam kegiatan touring jarak jauh.

20150219_105025

Nah.. bicara soal ban SHINKO E-705 yang kami pakai memiliki profile yang ganas dan garang seperti layaknya ban cangkul. Dalam perjalanan di semua level kecepatan sangat terasa handling motor Inazuma jauh lebih nyaman, dan lincah. Semula ada rasa kuatir ban ini kurang nge-grip, tapi setelah Inazuma dipacu kencang, baik di trek lurus maupun jalan menikung, rasanya semua berlalu dengan aman-aman saja, padahal sepanjang hari turun hujan.

Pukul 11.30 tak terasa kami sudah tiba di Cianjur, dan beruntung saat itu cuaca cerah tidak turun hujan. Kami makan siang khas Sunda disebuah restaurant. Tak lama beristirahat sekitar pukul 12.45 kami sudah melanjutkan perjalanan menuju Rancabuaya via Cibeber – Sindangbarang dan Cidaun dengan jarak tempuh 111 KM.

Baru saja keluar dari Cianjur, mendadak hujan turun cukup lebat dan anak kami segera meggunakan jaket hujan. Sementara itu Motobikerz tetap dengan jaket adventure A1AM Gear warna merah berikut dengan celana turing yang sudah terpasang sejak dari start. Motobikerz punya pengalaman dengan jaket A1AM Gear, antara lain turing menjadi lancar, dan tak perlu kuatir lagi dengan hujan yang turun sepanjang hari.

20150219_135216

Perjalanan hujan ini berlanjut hingga ke Cibeber, dan mulai dari sini kondisi jalan melewati alam bukit-bukit, naik-turun, melintasi kawasan sepi, dan ternyata kerusakan jalan semakin lama semakin parah. Untung saja kami menggunakan ban SHINKO E-705 Trail Master yang terbukti tangguh dan benar-benar sangat membantu perjalanan di jalan rusak yang memakan waktu selama 5 jam. Lubang besar, batu besar, jalan kerikil, kubangan air, jalan becek, jalan lumpur dan semuanya akhirnya dapat diterabas dengan aman.

Satu hal yang kami catat, kami pernah terperosok pada lubang besar, dan ada kekuatiran pelek depan rusak dan ini ternyata tidak terbukti, Namun demikian, kerusakan yang kami alami hanya bagian spadboard depan yang sering berbenturan dengan pelat nomor karena goncangan shockbreaker yang keras dan berulang-ulang sangat ekstrim. Alhasil spadboard depan limbah Bandit 400 tertekan menempel dengan ban, dan akibatnya kami ini harus sering berhenti untuk diangkat dengan tangan.

Target penginapan di Pantai Rancabuaya rasanya tak mungkin tercapai, pasalnya kami tiba di Sindangbarang sudah pukul 18.00. Kalau tidak salah, kami berhenti sebanyak 6 kali untuk istirahat sekaligus memperbaiki spadboard depan, karena begitu parahnya kerusakan jalan pada rute Cibeber – Sidangbarang ini.

P1050170

Saat tiba di Sindangbarang, kami bisa lega sejenak sambil beristirahat di Alfa Mart antara pukul 18.00 – 18.30, dan kamipun bertanya kepada seorang warga. Pertanyaan kami hanya satu, dimana hotel terdekat? Warga tersebut menjawab, hotel terdekat berada di Cidaun, namanya Hotel Abadi, jaraknya sekitar 30 KM, arah ke Cidaun dengan kondisi jalan sudah di beton.

Wow.. langsung saja kami tancap gas menuju ke Cidaun. Ternyata kondisi jalan beton tersebut memang baru saja selesai dikerjakan dan ini benar-benar ada didepan mata kami, treknya luruh-lurus datar, sangat sepi, dan motor Inazuma dengan ban SHINKO Trail Master langsung dipacu dalam kecepatan diatas 100 km/jam. Tak sampai 35 menit kami mendapati lagi jalan rusak, dan ini membuat kami frustrasi, masalahnya sudah malam, anak kami sudah lelah dan hotel belum juga kami temukan.

Saat lagi jalan pelan berayun-ayun dengan kondisi jalan rusak, kami melihat ada warga yang sedang membeli bensin eceran, dan beberapa warga melintasi jalanan mulai terlihat. Rasa ingin tahu dimana Cidaun dan hotel Abadi langsung kami tanyakan saja kepada penjual minyak eceran tadi.

Ooops.. ternyata kami sudah tiba di Cidaun dan Hotel Abadi berjarak 100 meter lagi didepan kami. Maklumlah, Cidaun yang berada dibibir pantai Samudera Indonesia ini sangat sepi dan kami diarahkan menuju ke hotel dengan patokan sebelum Kantor Camat Cidaun, atau jangan sampai lewat dari sebuah pertigaan yang ke arah Ciwedey. Hotel Abadi di Cidaun adalah hotel sederhana, dan harga sewa kamar juga ekonomis Rp. 150 ribu per malam.

P1050167

Besoknya hari kedua Jumat 20/2 motor kami dicuci dengan ongkos Rp. 15 ribu plus tips dan uniknya kami sering menemukan usaha cuci motor dan bengkel motor dalam perjalanan ini, sepertinya usaha cuci motor dan juga bengkel motor pinggiran sedang menjamur.

Cidaun kami tinggalkan sekitar pukul 10.00 dan kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Jayanti, dan terus ke Pantai Rancabuaya. Rute ini sepotong-potong masih rusak parah, dan jalan bagusnya sekitar 75%. Lagi-lagi dengan ban SHINKO yang dibalut pada motor Inazuma merah dengan sangat mudah menerabas semua kondisi jalan. Pada rute ini banyak ditemukan jembatan besar dimana muara sungai bertemu dengan laut Samudera Indonesia.

Tak terasa pukul 11.30 kami sudah tiba di Pantai Rancabuaya, dan kami berdua disana sejenak bermain dibibir pantai Samudera Indonesia sambil berfoto. Pukul 13.00 kami istirahat makan siang dan pukul 14.00 kami melanjutkan lagi perjalanan ke Pengalengan dengan jarak 75 KM.

Pada rute Pantai Rancabuaya ke Pengalengan, kami disuguhi dengan jalan mulus tapi sangat kecil. Yang kami rasakan hampir 2 jam perjalanan ini seperti lagi bermain Rolller Coaster dengan kondisi jalan naik-turun bukit yang curam, serta jalan penuh tikungan yang sangat tajam.

Sungguh asyik jalan ini apabila berkendara dengan sepeda motor, apalagi pemandangan alamnya sangat natural membuat kami sangat betah dan sering berfoto. Lagi-lagi ban SHINKO E-705 Trail Master dijajal habis-habisan tanpa henti pada rute yang sangat menantang ini.

P1050269

Memasuki kawasan perkebunan teh, jalan mulai melebar, dan lalulintas juga mulai ramai. Kami mendapati pemandangan alam yang indah seperti kabut, dan suhu udara dingin. Lagi asyiknya menikmati tikungan-tikungan, akhirnya pukul 16.00 kami sudah tiba di keramaian Pengalengan, dan kami langsung saja mendapati Hotel Citere di Jl. Raya Pengalengan untuk check-in.

Di Pengalengan pada sore hingga malam hari, kami hadir di acara National Nusantaride Rally Pengalengan (NNRP) yang berlokasi di Perkebunan Teh Malabar. Disana ada 400 biker peserta Nusantaride datang dari berbagai kota meraimaikan venue NNRP, mereka bersilaturahmi dan berkemah. Wah seru banget!

Pada hari ketiga Sabtu, 21/2/15 sekitar pukul 09.30 kami check out hotel dan meninggalkan Pengalengan via jalur Soreang – Cimahi – Padalarang – Cianjur – Puncak Pass – Bogor dan Depok. Pukul 11.00 kami istirahat di Cimahi dan pukul 13.00 istirahat makan siang di Cianjur. Finally kami tiba kembali di markas Motobikerz.com di Depok pukul 17.00 dengan selamat dan aman sentosa.

Catatan:

  1. Total jarak tempuh: 570 KM (BBM 1/25 km)
  2. Motor Suzuki Inazuma GW250
  3. Tankbag PATROL 7GEAR
  4. Jaket set A1AM Gear
  5. Top Box SH48 SHAD
  6. Ban SHINKO E-705 TRAILMASTER Series, diperoleh di NEOBURSA dengan harga promosi Februari 2015 untuk ban depan 120/90-17 Rp.1,350,000 dan belakang 150/70-17 Rp.1,650,000

10013436_372705742910044_2637866444641949076_o

8 thoughts on “Jajal ketangguhan Ban SHINKO di jalan rusak Cianjur – Pantai Rancabuaya

  1. itu ban ampe nempel slebor depan, kalo buat nembus jalan tanah, nanti jadi repot harus copot slebor

    • masalah spadboard sudah ditulis di artikel:
      kerusakan yang kami alami hanya spadboard depan yang sering berbenturan dengan pelat nomor karena goncangan shockbreaker yang keras dan berulang-ulang sangat ekstrim. Alhasil spadboard depan ex Bandit 400 tertekan menempel dengan ban, dan ini harus selalu kami angkat dengan tangan

  2. Joyride nya berasa adventure kemari

  3. mantap….ganti motor aja ah…pake Inazuma enak kayaknya buat touring,kira2 dengan mesin SOHC Inazuma katanya enak diputaran bawah menengah bener g om ? dan putaran atasnya agak kurang?

  4. […] West Java” yang sekaligus menjajal ban SHINKO Trail Master E-705 dimotor Suzuki Inazuma (artikel ini). Ketika kami berada di Pengalengan (Sabtu 21/4/15) kami menikmati minum Suzu Murni Pengalengan di […]

  5. […] ban Shinko ini saat turing ke pantai Cidaun – Rancabuaya serta Pengalengan pada bulan Februari 2015 lalu. Lagian ban depan Shinko ini terlalu besar, ukurannnya 120/90-17 terasa cukup tinggi dan akibatnya […]

  6. Permisi om, kalau boleh tanya, itu pakai glove dan sepatu apa ya? Makasih om.

Your comment: