Perjuangan Berat Melintas Gurun Pasir – Savana – Tebing di Bromo

 

MelintasBromo

Kawasan wisata terkenal “Taman Nasional Bromo Tengger Semeru” di Jawa Timur menjadi agenda perjalanan Motobikerz.com saat jalani turing sendiri “Solo Touring Jawa Bali Lombok” pada 9 – 19 Mei 2015 lalu. Datang dari arah Denpasar Bali pada hari Minggu, 17 Mei, Motobikerz langsung tarik gas motor Suzuki Inazuma GW250 dengan target menginap di Bromo pada hari itu juga.

Melalui jalur Situbundo – Probolinggo akhirnya Motobikerz tiba di kawasan Bromo pukul 21.00 WIB dan mendapat kamar untuk menginap di Bromo dengan harga Rp. 150.000,-. Lokasi penginapan persis di belakang posko jaga gerbang Kawasan Wisata Bromo atau di sebelahnya Mount Bromo Hotel. Penginapan sederhana tersebut diperoleh melalui seorang warga lokal yang mencegat Motobikerz sewaktu mencari-cari hotel di Bromo.

Sebelum masuk kamar, seorang warga lokal bernama Mas Iwan menawarkan diri untuk membantu mengantar Motobikerz pada esok hari, yaitu berwisata di Bromo. Motobikerz sepakat dengan tawaran Mas Iwan dan ia akan menemani Motobikerz dengan paket berwisata berkendara motor di Gurun Pasir Bromo, Savana Bromo dan ia bersedia membantu Motobikerz merekam video dan membuat foto.

Mas Iwan berpesan kepada Motobikerz, jika perjalanan Motobikerz ingin sampai di pertigaan Jemplang, yaitu pertigaan antara Bromo – Ranu Pane – Ngadas maka ia minta uang tambahan karena menurut Mas Iwan trek atau jalur sampai ke Jemplang mulai dari Savana adalah jalan bukit dengan tanjakan terjal dan sangat berat, jadi sarannya kepada Motobikerz sebaiknya perlu ditemani olehnya.

Keluarga di Jakarta sebelumnya telah berpesan agar motobikerz selama berada di Bromo sangat disarankan agar mencari teman/guide dari warga lokal yang bisa menjadi teman sekaligus pengawal. Pasalnya Motobikerz adalah tamu dan keberadaan selama di Bromo yang terkenal memiliki budaya asli dan adat istiadat Suku Tengger ini setidaknya perlu ada teman dari warga lokal.

Sedang asyiknya berbaring tidur, sekitar pukul 04.00 pagi terdengar suara berisik dari kerumunan orang yang sedang ngobrol serta dibarengi dengan suara mesin mobil berderu, dan ternyata itu adalah rombongan wisatawan yang akan berangkat menuju kawasan Pananjakan untuk menikmati pemandangan matahari terbit. Wisata ini sudah pernah di jalani Motobikerz pada tahun 2006.

Jadi, kali ini Motobikerz tidak ikut serta berwisata dengan mobil di Bromo, tetapi tujuan Motobikerz disana adalah berwisata di Bromo dengan sepeda motor dengan target melintas trek kawasan Wisata Bromo atau jalur melengkung 90 derajat di kaki Gunung Bromo.

Pada pukul 06.00 WIB Motobikerz keluar kamar, dan ternyata sinar pagi pada saat itu sangat cerah. Kemudian Motobikerz bergegas mencari sarapan pagi ke sebuah warung. Pukul 07.30 persiapan dengan motor, dimana semua barang bawaan harus dibawa karena Motobikerz akan check out dari penginapan. Bagusnya Mas Iwan warga lokal yang akan menjadi guide/teman Motobikerz sudah hadir dengan motor sendiri.

Tepat pukul 08.00 hari Senin, 18/5 Motobikerz menuju pos jaga di pintu gerbang Bromo untuk membayar karcis masuk Kawasan Wisata Bromo dengan ongkos, Rp. 27.500 untuk pengunjung hari biasa, dan Rp. 5.000 untuk kendaraan roda dua. Perjalanan melintasi Bromo pun dimulai, dan Mas Iwan sebagai warga lokal yang menemani Motobikerz selama hari itu dipercayakan memegang kamera Canon milik Motobikerz untuk merekam video, sementara itu Motobikerz juga memasang Action Cam di helm.

Video #1

Perjalanan yang ditempuh Motobikerz selama berada di kawasan wisata Bromo adalah, masuk ke padang pasir, kemudian belok kanan arah pura. Tak sampai di pura, kemudian Motobikerz berbalik arah menuju kawasan padang rumput Savana. Udara pada saat itu sangat cerah, bahkan terik matahari sangat menyengat mengalahkan udara sejuk Bromo.

Wah.. jalur padang gurun pasir Bromo sungguh menakjubkan. Hamparan pasir yang disebut dengan Pasir Berbisik ini menjadi daya tarik sendiri. Lautan pasir ini terkenal dengan deru angin yang membawa butiran-butiran pasir bagaikan bisikan-biskan yang menyerukan keindahan alam. Motobikerz sendiri kewalahan dengan adanya tiupan angin yang datang secara tiba-tiba. Rasanya ingin sekali berlama-lama, tetapi karena banyak angin dan debu, maka Motobikerz ingin pula menjauh dari lokasi ini.

Trek padang pasir Bromo ini sangat luas, sehingga untuk meliintas juga sangat lama, kalau tidak salah memakan waktu hampir 45 menit berkendara sepeda motor. Melintas di padang pasir suasananya gersang tetapi alam bukit, puncak Gunung Bromo serta langit biru yang cerah justru memberikan pesona yang sangat indah. Berkendara motor di gurun pasir pun ternyata tidak mudah, saat ban motor masuk dalam gundukan pasir tebal maka sepeda motor akan oleng.

Motobikerz behenti sejenak untuk merekam video memberikan testimoni singkat tentang produk-produk yang menjadi sponsor utama, yaitu pelumas Pertamina Enduro Racing, ban Michelin Pilot Road 4, dan aparel Respiro yang telah mendukung perjalanan Motobikerz hingga sampai di kawasan wisata Bromo yang penuh tantangan ini.

Video #2

Perlahan-lahan Motobikerz telah menjauh dari gurun pasir, dan selanjutnya masuk ke dalam kawasan padang rumput Savana. Nah, biasanya Savana yang berada di sebelah selatan Gunung Bromo ini memberikan pesona yang bertolak belakang dengan gurun pasir. Savana terkenal dengan padang rumput berwarna hijau, tetapi kali ini malah dominan berwarna coklat karena sedang diterpa debu tebal.

Musim kemarau memang sedang melanda kawasan wisata Bromo, dan tentu saja gurun pasir serta gundukan pasir yang tebal yang dilewati Motobikerz menyulitkan perjalanan. Jujur saja sangat sulit bergerak di jalan pasir yang tebal, membuat motor hilang keseimbangan sehingga kedua kaki harus turun menghindari motor terjatuh. Namun suatu ketika, Motobikerz kesulitan menahan beban berat motor Inazuma yang full box melintas di trek pasir tebal, dan akhirnya motor terjatuh juga.

Menyusuri trek di Savana Bromo, terasa semakin sulit, selain pasirnya tebal, juga jalannya semakin menanjak, ditambah lagi dengan kesulitan memilih jalur antara jalur roda empat atau jalur roda. Sebagai catatan bahwa kendaraan roda empat yang diizinkan masuk ke kawasan gurun pasir dan Savana Bromo ini hanya kendaraan double gardan (4×4), dan motor Inazuma pun harus berjuang keras melewati jalur yang sudah dilintasi oleh kendaraan 4 x 4.

Berbagai kesulitan satu persatu dilewati Motobikerz dengan rasa gembira, sekalipun ada rasa penasaran yang selalu muncul di dalam hati, sebenarnya jalur begini kapan habisnya ya?

Video #3

Dari GPS, tercatat jarak yang harus ditempuh Motobikerz di kawasan Bromo ini sepanjang 10 Km. Lumayan jauh rek! Tapi bagusnya Motobikerz ditemani Mas Iwan sebagai guide, yang sekaligus merekam video dari belakang dan samping, serta sebagai penunjuk jalan. Artinya tak sia-sia jika Motobikerz membayar uang jasa Mas Iwan Rp. 150.000. Tapi tunggu dulu bro.

Saat memasuki jalan batu, tepatnya pada jalur tanjakan, rupanya ini sudah berada di kawasan tebing dan kondisi jalannya semakin menanjak tajam. Pepohonan pinus yang cukup rindang yang dilewati seakan menandakan jarak tempuh ke tujuan akhir Bromo, yaitu pertigaan Jemplang sudah semakin dekat. Tapi jangan ditanya jika berkali-kali Motobikerz disini sering mendapat kesulitan, dan jasa Mas Iwan benar-benar sangat berguna. Ia yang menemani Motobikerz terpaksa sering turun dari motornya hanya untuk mendorong Motobikerz bergerak keluar dari kesulitan.

Di trek yang paling sulit dihadapi Motobikerz, dan itu hanya berjarak 25 meter dari pertigaaan Bromo – Ranu Pane – Jemplang, Motobikerz sangat sulit memajukan motor Inazuma ini. Tapi untung saja disana ada biker BMW GS1200 asal Solo, yang baru saja melewati rute yang sama meilhat kesulitan yang dihadapi Motobikerz, dan iapun datang menghampiri Motobikerz memberi pertolongan mendorong motor bersama Mas Iwan keluar dari jebakan pasir tebal ditanjakan curam.

Wow.. akhirnya selesai juga melintasi kawasan wisata Bromo ini. Setelah memarkir motor, kemudian Motobikerz turun dari motor sambil membuka helm, mengambil nafas dalam-dalam dan meneguk air mineral. Setelah itu barulah Motobikerz menyadari lokasi pertigaan Bromo – Ranu Pane – Jemplang ini berada di belakang Gunung Bromo, atau 90 derajat dari hotel. Perjalanan ini membutuhkan waktu 1.5 hingga 2 jam sejauh 10 km.

Video #4

Dari lokasi ini, jika mau diteruskan ke arah Ranu Pane persisnya ke arah kaki Gunung Semeru hanya berjarak 6 Km. Selesai berkenalan dan ngobrol sejenak dengan biker BMW GS1200 yang telah menolong Motobikerz, dan juga biker Ninja yang juga usai melintas kawasan Bromo, akhirnya Motobikerz pamit sekaligus berpisah dengan Mas Iwan yang sejak tadi bertugas sebagai guide.

Saat itu juga Motobikerz menambah uang jasa Mas Iwan Rp. 50.000 sesuai kesepakatan karena ia telah membantu Motobikerz melewati tanjakan yang terbilang sangat berat tadi. Jadi total uang jasa Mas Iwan jadi Rp, 200.000 termasuk mengawal di padan pasir, padang rumput dan membantu foto/video. Nah, jika ada rekan-rekan biker yang ingin mencoba rute yang sama seorang diri, silahkan kontak Mas Iwan Bromo 082131285529 yang siap menemani masbro riding di kawasan Bromo tersebut.

Dari pertigaan Jemplang ini kemudian Motobikerz kembali riding seorang diri, menyusuri jalan aspal menurun bukit sambil berkelok-kelok antara Jemplang – Ngadas – Gubugklakah dengan panorama yang sangat indah. Disatu titik Motobikerz sempat melihat puncak Gunung Semeru yang lagi mengepulkan asap. Dalam perjalanan menurun bukit dengan hutan pinus ini, banyak ditemui mobil-mobil Toyota Hardtop tahun 1980-an mengangkut para pendaki Gunung Semeru, karena ini adalah jalur yang paling dekat menuju ke Gunung Semeru dari arah Malang – Tumpang.

Video #5

Selanjutnya Motobikerz tancap gas ke arah Tumpang dan tiba disebuah pertigaan Tumpang untuk berhenti di sebuah warung membeli minuman segar. Setelah bertanya dengan pemilik warung, disarankan kalau Motobikerz mau ke arah Ponorogo, maka langsung saja belok kiri via jalur Turen dan Kepanjen, kemudian langsung bablas ke arah Barat jalan lurus arah Blitar, Tulungagung dan Trenggalek.

Tujuan Motobikerz setelah melewati Kawasan Bromo adalah makan siang di Kepanjen, pada siang harinya menuju Pacitan, kemudian pada malam hari riding dijalur Wonosari dan targetnya pada hari itu juga harus menginap di Jogjakarta.

Solo Touring Jawa Bali Lombok 9-19 May 2015 supported by:

  • Lubricant by Pertamina Enduro Racing 4T
  • Tire by Michelin Pilot Road 4 (Michelin)
  • Gear & apparels riding by Respiro Ridingware

5 thoughts on “Perjuangan Berat Melintas Gurun Pasir – Savana – Tebing di Bromo

  1. Waduh, padahal kan kemarin sudah pasang Shinko E705, mungkin lebih cocok tuh untuk trek Bromo daripada Michelin Pilot Road 4?

    • Betul sekali bro Gorga, pakai ban Shinko tampilan motor jadi lebih kekar tapi spadbor depan yg cocok belum ketemu, jd kalau lewat jalan basah/becek motor kotor banget

  2. mosok inazuma keteteran lewat tanjakan dari savana ke persimpangan jemplang om?

    • Hehehe.. trek Bromo-Jemplang lebih asyik pake motor trail, kalau Inazuma yg full box buat dites saja.. walaupun berat tapi lolos juga

  3. […] catatan Motobikerz, berangkat dari Bromo pukul 08.00 yang kemudian melintas jalur berat Bromo yang tembus ke pertigaan Bromo – Ranu Pane – Jemplang. Kemudian makan siang pukul 12.00 di […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *