Kang JJ: Australia Sajikan Petualangan Penuh Tantangan

01_RFP_Australia_2015

Peturing dunia Jeffrey Polnaja, sang penjelajah dunia seorang diri dengan sepeda motor asal Indonesia, pada akhir pekan lau tepatnya Sabtu, 25 Juli 2015, telah berada di Timor-Leste, sebagai negara tujuan terakhir misi Ride for Peace (RFP). Kang JJ demikian akrab disapa, sebelumnya datang dari Australia, dan ia menceritakan pejalanan di benua yang terakhir tersebut.

Bagi Jeffrey Australia telah memberikan kesan tantangan petualangan penting. Negara satu benua ini menyimpan beragam keunikan alam dan budaya yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih untuk pengendara kendaraan roda dua seperti dirinya. Tidak kurang dari 11.500 km, di mana tidak sedikit di antara lintasan itu berpemukaan tanah, dilalui dengan penuh resiko.

Jalur penjelajahan RFP di Benua Australia yang dijalani Jeffrey nyaris tiga per empat dari rute reli klasik Mobilgas Around Australia Rally pada 1958 (sekitar 16.500km), sebuah kejuaraan balap ekstrim memutari garis pantai Benua Australia searah putaran jarum jam.

Bedanya, Jeffrey tidak menyusuri pesisir pantai menuju Perth, Australia Barat, dan menjelajahi garis pantai di sepanjang Darwin, Teritorial Utara hingga Birsbane di wilayah Queensland. Tapi Jeffrey justru mengambil lintasan beresiko besar ke Alice Spring di Australia Utara dari Adelaide, Australia Selatan hingga menembus Leonora, Australia Barat yang tidak menjadi tahapan Australia Rally.

“Bagian tengah dari benua Australia saya anggap sebagai kawasan penting yang perlu dikunjungi Ride for Peace. Alice Spring boleh disebut sebagai titik tengah benua Australia. Di sepanjang perjalanan dari Adelaide ke Alice Spring hingga Leonora saya sempat melalui wilayah-wilayah tidak berpenghuni, atau yang hanya ditempati suku-suku Aborigin. Ini tantangan tersendiri,” ungkap pria yang sejak remaja terbiasa menunggang kuda ini.

Salah satu jalur menantang yang dilalui Jeffrey adalah Great Central Road, sebuah ruas terkenal menantang di Australia di mana jalan masih berpemukaan  tanah sepanjang hampir 1.200 km. Untuk melalap lintasan sepanjang itu Jeffrey mengaku menghabiskan waktu tiga hari, sebuah perjalanan yang termasuk singkat karena dilalui sorang diri dengan sepeda motor.

Seperti diketahui, jalur Great Central Road yang pertama kali dibuka pada 1930 tidak memiliki banyak tempat pemberhentian. Jeffrey bahkan hanya menemukan tiga titik penghentian untuk pengisian bahan bakar. Ironinya, di tempat tersebut tidak tersedia penginapan. Alhasil selama tiga malam dirinya harus bermalam dengan tenda di alam terbuka.

“Saya diingatkan bahwa tidak ada pihak di Australia yang bisa bertanggung jawab terhadap keselamatan saya di sepanjang jalur Great Central Road. Sedikit pun saya tidak menganggap remeh. Saya juga perlu surat izin perjalanan dari pemuka adat Aborigin sebelum memasuki daerah-daerah tertentu untuk keselamatan,” ujar Jeffrey.

Jeffrey menambahkan rintangan terbesar dalam penjelajahan di alam Australia adalah lintasan ekstrim, hewan liar, dan cuaca yang tidak terduga. Di beberapa titik lintasan tanah yang dilalui bahkan bisa menenggelamkan roda-roda sepeda motor. Sementara hewan liar juga bisa menyeruduk sewaktu-waktu. Bahkan Jeffrey sempat mengalami terpaan hujan butiran es yang sangat menyakitkan ketika menghantam tubuhnya.

“Saat siang suhu udara bisa antara 28 sampai 30 derajat selsius, tapi malam tiba-tiba jatuh hingga minus 4 sampai 6 derajat selsius,” tarang pengelana yang sempat mengunjungi makam pahlawan perintis kemerdekaan Indonesia di Cowra, New South Wales ini.

Sebagai catatan, sepanjang penjelajahan di Australia Jeffrey mengambil rute dari Sydney, Cowra, Canberra, Wollongong, Snowy Mountain, dan melumat lintasan berpasir menuju Bairndale hingga Melbourne. Dari situ, dia melajutkan perjalanan ke Adelaide melalui Great Ocean Highway, sebuah jalan berliku dan curam dengan pemandangan indah.

Setelah menghabiskan beberapa waktu di Adelaide, Jeffrey meneruskan misi RFP menuju Port Augusta, Alice Spring (Stuart Highway/Explorer Highway), lalu menjajak ke Uluru (Ayers Rock), hingga tiba di Leonora setelah tiga malam perjalanan di sepanjang Great Central Road.

Dari Leonora, Jeffrey ditemani Silver Line yang sangat bersahabat dengannya naik ke atas menuju Port Headland di utara bagian Barat Australia. Dengan stamina yang masih bugar dan pengalaman mental yang kuat dirinya menyusuri pantai barat Australia hingga Darwin, melalui Broome, Pine Creek, serta menyempatkan diri turun ke selatan ke daerah Devils Marbel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *