Ario Sadewo, Safety Riding Entrepreneur

DEF_2165

Melakukan olahraga ekstrim bagi Ario Sadewo memerlukan alat pengaman yang ekstrim pula, tetapi di Indonesia, pemikiran Ario masih dianggap angin lalu oleh para pelaku olah raga ekstrim. Tak lelah menyebarkan keamanan berkendara, Ario mengungkapkan idenya lebih dalam kepada salah satu Tim MotoBikerz.com, Elsid Arendra.

Menggemari olahraga sepeda sejak kecil, pria satu anak ini melihat bahwa belum banyak para pelaku olahraga ekstrim seperti motor cross, enduro, sepeda down-hill, dirt-jump dan jenis olahraga ekstrim lainnya yang memandang pentingnya berinvestasi untuk membeli alat pengaman diri yang layak.

Mengungkapkan pengalamannya ketika mendapatkan cedera lutut, biaya berobat tidak murah, dan bisa lebih mahal ketimbang membeli peralatan pengaman diri ketika berkendara. “Sekarang ini, untuk scan MRI saja bisa mencapai 2 juta rupiah.” Cetus pria berkacamata ini. “Cedera otot karena terkilir dan sobek tidak bisa ditangani di tukang pijat tradisional. Harus dilakukan perawatan medis,” tambahnya.

Berawal dari hobi

DEF_2173Pada tahun awal tahun 2010, Ario melihat belum banyak toko yang menyediakan perlengkapan berkendara yang memadai. Kebanyak toko sepeda dijalankan apa adanya, mereka hanya menjual jasa perbaikan dan menjual sepeda. Hampir tidak ada toko yang menjual keperluan pengendaranya.

Hasrat terpendam itu muncul kembali ketika di tahun yang sama Ario bertemu dengan temannya satu hobi, almarhum Ogel, dan bersama-sama membangun sebuah concept store khusus sepeda bernama Adrenalin. Menempati bangunan kecil dua lantai di Bintaro, toko ini menyediakan perlengkapan berkendara dan apparel di lantai atas. Sedangkan lantai bawah disiapkan sebagai bengkel dan toko sepeda. Toko kecil itu mulai ramai didatangi penggemar olah raga ekstrim roda dua.

Ramainya toko yang menjual perlengkapan keamanan berkendara itu membuat Ario harus sering membeli dari principal dari sebuah merk perlengkapan berkendara di Singapore. Hal itu menarik perhatian distributor untuk pasar ASEAN. Fox, yang telah dikenal di dunia olah raga roda dua menawarkan Ario untuk membuat toko yang lebih besar dan menjadi pemegang merk di Indonesia.

Merasa tertantang sekaligus tersanjung karena mendapat kepercayaan dari sebuah merk internasional, lahirlah Xtrim 1st. Sebuah concept store yang telah lama diimpikan oleh lulusan arsitek ini. Inovasi Ario membuat Xtrim 1st membuka toko pertamanya di sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta. Sebuah ide yang tidak biasa untuk sebuah toko perlengkapan berkendara roda dua yang biasanya dibuka di pinggiran Jakarta.

“Konsumen yang kami sasar adalah mereka yang mampu membeli dan sadar akan pentingnya perlengkapan berkendara yang memenuhi standar. Barang yang kami jual bisa dibilang tidak murah, tetapi jauh lebih murah daripada biaya berobat karena kecelakaan saat berkendara menyalurkan hobi.” Ario mengungkapkan alasannya.

“Karena itu Xtrim 1st dibuka di pusat perbelanjaan karena banyak konsumen kami yang pulang dari kantor, atau meeting di kawasan itu, bisa mampir untuk membeli perlengkapan yang mereka butuhkan. Selain itu, pada saat akhir pekan, banyak di antara mereka berbelanja di toko kami sambil jalan-jalan bersama keluarga.” Imbuhnya.

Merintis kesadaran

DEF_2209Mengambil nama Xtrim 1st karena Ario yakin bahwa ini satu-satunya perusahaan yang muncul dengan ide concept store pertama kali untuk apparel dan perlengkapan berkendara roda dua di Indonesia. Kami tidak ingin menjadi toko biasa, tapi ingin menjadi sebuah retail company berbasis concept store yang selalu berinovasi dengan ide kreatif.

“Pada dasarnya saya ingin semua penggemar olah raga ekstrim mementingkan keselamatan diri mereka. Karena itu saya ingin menjual perlengkapan berkendara yang sebelumnya sulit untuk dibeli di Indonesia.” Ungkap Ario.

“Pada awal banyak yang memandang aneh bidang usaha yang kami rintis ini. Ah, buat apa beli yang mahal kalau ada yang murah.” Kisahnya menceritakan tanggapan konsumen.

Ario pun menyadari bahwa di pasar Indonesia, banyak barang palsu yang beredar. Tetapi Ario memilih tidak memerangi peredaran barang palsu itu. “Justru itu merupakan sebuah promosi secara tidak langsung, dan pada akhirnya konsumen bisa membandingkan produk yang mereka beli dengan harga murah dengan produk yang kami jual. Produk palsu itu malah cenderung membahayakan karena material yang digunakan dapat mencelakai pemakainya bila terjadi benturan.” tambahnya.

“Karena ada produk palsu itulah kami hadir dengan produk asli supaya konsumen yang dulu belum tahu seperti apa produk yang asli, akhirnya bisa tahu bagaimana kualitas produk yang asli. Bagaimana bisa membandingkan dua jenis kalau hanya ada satu jenis yang tersedia.”

“Kesadaran itulah yang kami rintis dengan merangkul komunitas dan klub penggemar olah raga roda dua. Tidak mudah memang karena selalu ada pro dan kontra. Tetapi kami tidak patah semangat karena bagi kami, keselamatan dan kenyamanan penggemar olah raga roda dua adalah yang utama. Edukasi ini pada akhirnya terbukti berjalan secara perlahan tapi pasti.”

Dari Concept store menuju Mega Store

Terbiasa dengan pemikiran kreatif dan selalu berkembang, membuat Ario ingin memperluas layanan Xtrim 1st kepada masyarakat. Bila masyarakat saat ini sudah terbiasa dengan department store seperti Matahari, Debenhams, Metro, Sogo atau Centro yang menjual pakaian sehari-hari, Ario ingin para penggemar olah raga roda dua menemukan surga mereka dengan konsep yang sama.

“Memang pada awalnya Xtrim 1st hanya mengusung satu brand, tetapi sekarang kami sudah mulai dengan multi brands. Concept store di Summarecon Digital Centre ini menjual brand seperti Metal Mulisha, Oneal dan SevenSeven. Kami berharap dapat membuka cabang di kota lain dalam waktu dekat sehingga konsumen semakin mudah untuk berbelanja.”

Tidak mau secara langsung membuka nilai investasi pada tahap awal, tetapi Ario memberi bayangan untuk toko di luar kota paling tidak membutuhkan investasi sekitar 1 hingga 2 miyar rupiah. Keyakinan Ario didukung dengan fakta bahwa olahraga roda dua ini, baik sepeda maupun sepeda motor semakin berkembang di Indonesia.

“Orang yang menggemari olah raga ini rata-rata memiliki sepeda atau sepeda motor paling tidak satu atau dua unit sepeda atau sepeda motor. Tetapi apparel yang mereka gunakan tidak mungkin cukup satu atau dua potong pakaian saja. Karena bila dalam satu bulan mereka main dua kali, paling tidak mereka akan membeli empat setel pakaian. Itu belum termasuk perlengkapan lain seperti sarung tangan, sepatu, helm, pelindung mata dan badan.” Ario mengungkapkan optimismenya.

Optimisme Ario bisa jadi benar karena pertumbuhan nilai penjualan sepeda dan sepeda motor di Indonesia tahun lalu sangat pesat. Indonesia menempati urutan ketiga dunia setelah Cina dan India.

“Tahun 2014 total market berkisar 7,9 juta unit,” ujar Johannes Loman, Wakil Ketua I Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) di Jakarta awal tahun 2015.

Bila 1% dari total penjualan sepeda motor itu merupakan pengendara motor yang hobi olah raga roda dua ekstrim seperti enduro, motor cross atau trail, maka Ario memperkirakan pangsa pasar apparel dan perlengkapan keamanan berkendara berkisar 79,000 konsumen. Tidak terlalu tinggi memasang target, Ario yakin bahwa kesadaran penggemar olah raga roda dua akan meningkat dengan sendirinya.

“Kami tetap konsisten untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terutama penggemar olah raga ekstrim roda dua mengenai perlunya perlengkapan keselamatan berkendara. Sebisa mungkin bila ada event, kami tidak hanya membuka booth dan berjualan, tetapi kami juga memberikan edukasi, tukar pikiran dan sharing yang dibawakan oleh pembalap yang kami endorse. Kami ingin membagi pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya keselamatan dalam berkendara.” tutup Ario.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *