Ini dia jalur sepi kendaraan antara Sidikalang – Subulussalam

IF

Pengalaman solo touring keliling Sumatera selama 15 hari sejauh 5.500 Km, rata-rata kondisi jalan di Sumatera sudah ramai tapi ada juga ruas jalan yang dianggap sepi kendaraan maupun penduduk. Menurut catatan pribadi Stephen Langitan (SL) sebagai solo rider, jalur yang paling sepi adalah antara Kota Sidikalang (Sumut) hingga kota Subulussalam (NAD) berjarak 75 km.

Ya, rute antara Kota Sidikalang (Sumut) hingga Subulussalam (NAD) terbilang pendek, tetapi kondisi jalan yang dilewati mayoritas di wilayah pegunungan dan perbukitan dan masih dipenuhi pepohonan yang lebat (hutan lindung). Pada jaur ini, SL berkendara pelan karena menikmati alam hutan yang masih asri.

Ketika lagi berhenti di sebuah titk untuk menikmati hawa sejuk hutan, terdengar suara binatang dari satwa Siamang yang bersahut-sahutan. Rasanya saat itu seperti berada di kebun binatang, padahal ini lagi di jalan umum antar propinsi Sumut dan Aceh. SL berjalan dengan kecepatan rendah, menikmati suasana hening dan sepi dari lalu-lintas kendaraan.

Tak lama kemudian SL mendapati jalan bagus dengan aspal yang sangat mulus (baru), dan tentu saja laju sepeda motorpun di percepat, agar saat menikung lebih terasa sensasinya. Situasinya masih sama yaitu jalanan sepi dari lalu lintas kendaraan maupun penduduk, namun sekali-kali ada juga kendaraan yang datang dari arah lawan, baik motor maupun mobil pribadi.

IF

Tugu Selamat Datang Kota Subulussalam Provinsi Nanggore Aceh Darussalam (datang dari arah Sidikalang, Sumut)

Tanpa terasa, akhirnya SL menjumpai tugu Selamat Datang di Kota Subulussalam Provinsi Nanggore Aceh Darussalam (NAD), dan sejenak berhenti untuk foto selfie. Kota Subulussalam merupakan perbatasan antara NAD-Sumut, atau kota pertama saat memasuki provinsi NAD dari sisi Barat yang memang jarang dilewati.

Sejak dari tugu perbatasan Sumut – NAD ini, kondisi jalan cenderung lurus-lurus dengan aspal yang sangat mulus, tetap masih sering ditemui pohon besar, bahkan seakali-kali ada bekas longsoran maupun pohon tumbang ke jalan.

Hanya dalam waktu 2.5 jam, akhirnya SL tiba di kota Subulussalam untuk makan siang, dan ternyata rekan-rekan biker Pulsarian sudah menunggu kehadiran SL. Kami bertemu di warung yang bersebelahan dengan SPBU Pertamina. Teman-teman biker Pulsar ini mendapat info dari Bro Dover yang sebelumnya menjamu SL minum kopi di depan kantor Bupati Sidikalang.

Uniknya di SPBU Subulussalam, terlihat antrian panjang baik mobil maupun motor, bahkan SL sempat ikut antri mengisi BBM . Asal tau saja sejak dari kota Sidikalang Sumut hingga Subulussalam, SL memang tidak melihat satupun SPBU Pertamina.

Jadi SPBU di Subulussalam ini yang pertama kali dilihat SL sejak meninggalkan kota Sidikalang jam 9.00 pagi. Jadi, rute Sidikalang hingga Subulussalam sejauh 75 Km ini memang tidak ada SPBU kecuali di tersedia di kota Sidikalang atau kota Subulussalam.

Silahkan simak video berikut ini yang menampilkan beberapa spot tentang situasi dan kondisi jalan antara Sidikalang hingga Subulussalam sejauh 75 Km. Mungkin ada rekan biker yang mau mencoba rute tersebut menuju pesisir Barat Aceh hingga ke Kota Banda Aceh.

One thought on “Ini dia jalur sepi kendaraan antara Sidikalang – Subulussalam

  1. […] Pada saat melintas di wilayah pantai Aceh Barat yang lebih dikenal dengan wolayah Tsunami Aceh, SL mengambil jalur kedatangan dari kota Sidikalang (Sumatera Utara) pada hari Jumat 2 Oktober 2105, dan kemundian mengarak ke kota Subulussalam sebagai kota perbatasan provinsi Nanggore Aceh Darussalam (NAD). Jalur antara Sidikalang – Subulussalam sejauh 75 km bisa dibilang sangat sepi, dan untuk detailnya silahkan simak artikel/videonya di halaman ini. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *