Asyiknya Menyisir Lintas Barat Aceh sejauh 584 Km

Rute Lintas Barat Aceh

Sebuah video disajikan untuk melihat keindahan Tanah Air dimana Stephen Langitan (SL) sebagai solo rider menyisir Lintas Barat Aceh sejauh 584 Km. Rekaman video ini dibuat saat SL menuju Nol KM Sabang dalam rangka menyelesaikan solo touring Keliling Sumatera pada periode 26 September s/d 10 Oktober 2015 lalu.

Pada saat melintas di wilayah pantai Aceh Barat yang lebih dikenal dengan kawasan musibah Tsunami Aceh, SL mengambil jalur kedatangan dari kota Sidikalang (Sumatera Utara) pada hari Jumat 2 Oktober 2105, dan kemudian mengarah ke kota Subulussalam sebagai kota perbatasan provinsi Nanggore Aceh Darussalam (NAD). Jalur antara Sidikalang – Subulussalam berjarak 75 km bisa dibilang sangat sepi, dan untuk detailnya silahkan simak artikel/videonya di halaman ini.

Setelah makan siang di Subulussalam kemudian SL melanjutkan perjalanan solo riding-nya ke Tapak Tuan dan kemudian bermalam di Blang Pidie. Pada rute ini masih banyak ditemui kebun kelapa sawit dengan kondisi jalan yang sepi dan lebar, serta lurus-lurus panjang nan mulus. Menariknya ada banyak lintasan di perbukitan yang membuat SL sangat menikmati setiap tikungan menanjak, maupun tikungan menurun, serta kemiringan jalan sedang maupun curam.

Menjelang kota Tapak Tuan, kondisi jalan pelan-pelan naik kebukit atau tebing yang menghadap ke lautan Samudera Indonesia. Sayang sekali, pada saat itu pemandangan indah ke laut bebas tertutup dengan polusi asap yang berasal kebakaran hutan. Setibanya di kota Tapak Tuan pada sore hari, SL berhenti sejenak untuk menikmati minum kopi khas Aceh dan makan mie Aceh. Sedap!

Perjalanan pada hari Jumat sore tersebut kemudian dilanjutkan lagi hingga maghrib, dan akhirnya SL tiba di Blang Pidie untuk bermalam atau menginap disebuah hotel. Esok harinya, pada Sabtu, 3 Oktober udara lumayan cerah karena malam harinya turun hujan, perjalananpun dilanjutkan. Kami menyusuri jalur lintas barat Aceh yang kondisinya tidak ramai dibandingkan dengan lintas timur. Target perjalanan hari itu adalah menuju kota Banda Aceh dengan jarak sejauh 363 Km dari Blang Pidie.

Usai mengisi BBM pada sebuah SPBU Suak Puntong, SL sejenak membuka HP dan ada sebuah pesan masuk dari Kang Denis yaitu seorang rekan anggota ION (Inazuma Owner Network) yang juga memiliki Inazuma GW250. Bunyi pesannya adalah “Bro ini telp saya 08138407xxxx posisi saya diperbatasan Nagan Raya Aceh Barat”

SL langsung mengontak nomor tersebut, dan ternyata lokasi Kang Denis tidak jauh dari lokasi SPBU Suak Puntong dimana SL sedang berhenti saat itu, jaraknya hanya 5 menit saja. Wah.. ini berita gembira karena lagi berkendara seorang diri keliling pulau Sumatera ternyata ada rekan yang sedang berada di Aceh, dan iapun bersedia menerima kehadiran SL walaupun lagi bekerja disebuah site batubara.

Sumatera_093

SL kemudian berjalan pelan menempuh jarak pendek dalam waktu 5 menit, dan segera melihat lokasi PLTU Nagan Raya. Setelah itu, tak jauh dari gerbang PLTU Nagan Raya, SL maju kedepan sejauh 250 meter untuk menemui Kang Denis yang lagi berdiri di pinggir jalan dengan mobil double cabinnya.

Singkat cerita SL dan Kang Denis bertemu, dan iapun segera mengarahkan SL ke kantornya di lokasi site batubara yang bersebelahan dengan PLTU Nagan Raya. Dalam pertemuan singkat padat tersebut kami berdua sangat gembira, selain menjadi kopdar pertama, kami juga berbagi cerita mengenai kelebihan-kelebihan Inazuma ketika melahap jalan di pulau Sumatera. Kang Denis adalah anggota ION dari kota Padang Sumatera Barat.

Suguhan minuman dingin dan pesan-pesan dari Kang Denis tentang rute yang ditempuh SL menuju Banda Aceh sangat penting. Kang Denis menyebut beberapa nama kota, kondisi jalan, bahkan lokasi wisata Gunung Geurutee agar jangan sampai dilewatkan begitu saja. Setelah kami foto bersama bersanding dengan motor Inazuma dan mobil proyek double cabinnya Kang Denis, akhirnya SL berpisah untuk melanjutkan perjalanan.

Hanya berselang 10 menit sejauh 10 Km dari site Kang Denis tadi, ternyata SL sudah berada di Kota Meulaboh. Pada sebuah traffic light, seharusnya SL belok kekanan untuk terus ke Banda Aceh. Tetapi karena SL ingin melihat-lihat kota Meulaboh, maka SL tetap terus ke Jl. Teuku Umar dengan maksud ingin melihat bekas-bekas Tsunami. Alhasil tak ditemukan lagi bekas-bekas Tsunami di kota Meulaboh tersebut karena kondisi kota sudah ramai.

Setelah kota Meulaboh, perjalanan dilanjutkan menuju kota Calang dengan jarak sejauh 97 Km. Bagusnya kondisi jalannya adalah trek lurus panjang dan lebar. Disini SL dapat memacu motor turing Inazuma secara maksimum dan tentu saja harus tetap waspada, walaupun jalanan sepi dari lalu-lalang penduduk maupun kendaraan. Nah.. di rute ini yang harus lebih diwaspadai adalah kehadiran ternak sapi dan kambing yang sering menyeberang jalan.

Informasi yang diterima SL, seluruh infrastruktur jalan yang dimulai dari kota Meulaboh terus ke utara hingga sampai di kota Banda Aceh, pembangunannya dilakukan oleh negara asing setelah kawasan ini mengalami musibah Tsunami tahun 2004.

Selang 5 tahun kemudian jalan lintas Barat Aceh akhirnya tuntas seluruhnya termasuk puluhan jembatan baru yang disokong oleh United States Agency for International Development (USAID) yang merupakan badan independen dari Amerika Serikat yang telah memberikan bantuan untuk pembangunan, dan kemanusiaan bagi masyarakat Aceh yang mengalami musibah Tsunami.

Setelah kota Calang, kemudian kota Lamno yang berjarak 75 Km dengan kondisi jalan yang sama. Oh ya.. saat melintas di jalan baru lintas barat Aceh ini, baik di kota Calang dan di kota Lamno keduanya tidak sempat digali lebih dalam oleh SL. Pasalnya kedua kota tersebut berada jauh dari jalan raya, dan lokasinya memang tidak berada persis dipinggir jalan baru lintas barat Aceh.

Perlu diketahui jalan baru yang kini disebut sebagai jalur lintas barat Aceh yang dibangun setelah musibah Tsunami, pada umumnya dibuat terpisah dari jalan lama demikian pula jembatannya. Hampir semua jalan dan jembatan adalah konstruksi baru, yang terpisah cukup jauh dari jalan lama maupun jembatan lama yang rusak karena kena Tsunami.

Setelah mengisi BBM di salah SPBU dengan titik koordinat 5.146430, 95.324014 kemudian SL melanjutkan perjalanan memasuki kawasan Gunung Geurutee, yaitu sebuah gunung yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Aceh Jaya dan Aceh Besar. Menariknya kondisi jalan ini persis berada di pinggir tebing yang curam dengan pemandangan ke laut bebas Samudera Hindia.

IF

Deretan warung berjejer di satu titik kawasan wisata Gunung Geurutee, dan akhirnya SL sejenak mampir disebuah warung untuk minum kopi. Oops.. ternyata posisi warung berada di atas tebing dengan view ke laut, dan lagi-lagi asap tipis dari polusi kebakaran hutan menutup pemandangan ke arah lautan bebas. Disana terlihat ada banyak binatang kera yang bebas berkeliaran dipepohonan datang ke warung untuk cari makan.

Usai menikmati kawasan wisata Gunung Geurutee, SL kembali menghidupkan mesin motor untuk melanjutkan perjalanan solo riding menuju Banda Aceh. Tikungan-tikungan tajam menuruni Gunung Geurutee dapat dilewati dengan aman dan lancar, sembari mendahului beberapa kendaraan didepan. Tak lama kemudian SL menghadapi jalan lurus panjang hingga Lhok Nga dan akhirnya masuk ke kota Banda Aceh sekitar pukul 16.00.

Setelah melakukan “check in” penginapan di Jl. Sultan Iskandar Muda Banda Aceh pukul 16.30, SL kemudian menghabiskan waktu di sore hari di lokasi PLTD Apung dan menikmati matahari sore (sunset) di Pantai Ulee Lheu yang saat itu sangat ramai dikunjungi masyarakat mengingat tanggal 3 Oktober 2015 adalah hari Sabtu (jelang malam minggu). Wah.. pantas saja.

Pada esok harinya, Minggu 4 Oktober 2015 adalah perjalanan SL menuju Nol Km Sabang yang berada di Pulau Weh. Nantikan artikel dan video berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *