Yuk.. jalan-jalan ke Tugu KM Nol Sabang di Pulau Weh, Aceh

Video di halaman ini menunjukkan suasana jalan menuju ke Tugu Kilometer Nol Sabang di Pulau Weh. Kondisi jalannya sangat bagus dan mulus sekali, pokoknya masbro akan merasa puas bak disuguhi karpet merah nan bersih berkilau. Perjalanan dengan motor dari Pelabuhan Balohan menuju Tugu Km Nol Sabang hanya berjarak 33 Km ditempuh paling lama 45 menit.

Ya.. ini adalah pengalaman MotoBikerz.com yang dilakoni oleh solo rider Stephen Langitan (SL) yang melakukan solo touring Keliling Sumatera sejauh 5.500 Km selama 15 hari, dimana salah satu target touring ke Sumatera ini adalah menuju Tugu Kilometer Nol Sabang yang berada di Pulau Weh provinsi Nanggore Aceh Darussalam (NAD).

Untuk mencapai Pulau Weh sebenarnya sangat mudah, masbro hanya menumpang kapal ferry yang setiap hari menyeberang dari Pelabuhan Ulee Lheu di Kota Banda Aceh menuju Pelabuhan Balohan di Pulau Weh. Waktu penyeberangan plus minus dengan waktu bongkar muat adalah 3 jam dan ongkosnya adalah Rp. 60.000,- sekali menyeberang (sekali jalan).

Saat SL datang ke Pulau Weh bertepatan pada hari Minggu, 4 Oktober 2015 dan kapal berangkat pukul 07.00 WIB dari pelabuhan Ulee Lheu di Kota Banda Aceh. Suasana penumpang kapal ferry pada hari itu sangat ramai karena memang hari libur banyak warga masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya yang akan berwisata ke Pulau Weh, Kota Sabang, ataupun ke Tugu Km Nol.

Setibanya kapal ferry di Pelabuhan Balohan di Pulau Weh sekitar pukul 10.00, SL langsung tancap gas menuju Tugu Kilometer Nol Sabang yang lokasinya berada di barat laut Pulau Weh. Jalur penunjuk disepanjang jalan cukup jelas dan medan jalan pun sangat bervariasi, namun yang pasti kondisi jalan sangat sepi, mulus, bersih dan melewati kawasan hutan lindung (lihat video).

Pulau Weh Aceh

Secara geografis, lokasi Tugu Kilometer Nol ini terletak di areal Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya, sekitar 5 km dari Pantai Iboih. Letaknya di sebelah barat kota Sabang. Saat tiba di kawasan Tugu Kilometer Nol setiap pengunjung wajib membayar uang restribusi di pintu gerbang dan kemudian setiap kendaraan berjalan pelan untuk kemudian mencari parkir yang nyaman.

Beruntung motor Inazuma GW250 yang dikendarai SL berasal dari Jakarta mendapatkan parkir yang tepat, yaitu persis berada didepan pelang besar bertuliskan “KILOMETER NOL INDONESIA” sehingga sesi foto dan video sangat mudah dilakukan.

Karena hari itu adalah hari Minggu, maka wajar warga masyarakat banyak yang datang berekreasi ke lokasi wisata Kilometer Nol Indonesia ini. Sesi grup foto maupun selfie menjadi pemandangan unik disekitar tulisan “KILOMETER NOL INDONESIA” tersebut.

Sayangnya, tugu Kilometer Nol yang “sebenarnya” yaitu bangunan setinggi 22.5 meter sedang direnovasi sehingga pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke area tugu yang desainnya menjulang tinggi seperti tower berbentuk lingkaran berjeruji. Mau tak mau lokasi area berfoto pengunjung lebih banyak terfokus di depan tulisan besar yang berwarna oranye “KILOMETER NOL INDONESIA”.

Warung-warung penjual makanan/minuman, maupun penjual bermobil sangat ramai memadati bahu jalan di sebelah kiri dan kanan jalan, bahkan mereka menutupi pemandangan ke arah laut Samudera Hindia (arah barat). Untung saja masih ada celah sehingga banyak pengunjung yang berfoto dengan latar belakang laut Samudera Hindia.

SL menghampiri seorang wanita yang sedang bekerja dengan laptop di warung, dan ternyata wanita ini yang menerbitkan sertifikat “KILOMETER NOL INDONESIA” dengan kalimat Kilometer Zero, The Westernmost Point Of Indonesia dengan tandatangan dari Walikota Sabang. Untuk menebus sertifikat ini, SL harus membayar sebesar Rp. 25.000,-. Oh ya.. di sertifikat tersebut tercatat nama SL sebagai pengunjung ke 115.611 pada hari Minggu, 4 Oktober 2015.

Dengan mendapatkan sertifikat tersebut setidaknya SL telah memenuhi panggilan sebagai warga negara Indonesia dengan slogan “Dari Sabang sampai Merauke” yang pernah dipopulerkan oleh Presiden Soekarno.

Ketika sedang berada di dalam warung proses pembuatan sertifikat, SL agak kaget melihat batu beton bersegi empat dimana tertempel sebuah prasasti (mirip batu nisan) yang bertuliskan penetapan posisi geografis KM-0 Indonesia yang diukur dengan GPS oleh BPP Teknologi pada September 1997. Yang menjadi keheranan SL adalah mengapa prasasti itu berada di dalam warung? Lihat fotonya dibawah.

Pukul 12.30 SL sudah meninggalkan lokasi Tugu Kilometer Nol dan kembali menyusuri jalan semula untuk makan siang di Kota Sabang. Setibanya di pusat kota Sabang yaitu Jl. Perdagangan tampak suasana kota sangat sunyi senyap, semua toko tutup dan ini mungkin dikarenakan hari Minggu. Alhasil SL mendapat tempat makan Nasi Uduk Jakarta di Malahayati, Sabang dengan pemandangan ke arah laut. Lagi-lagi disini suasananya sepi sekali.

Usai makan siang pukul 14.00 SL berputar-putar di Kota Sabang, ternyata kota ini sangat kecil, dan mudah dicapai dalam waktu singkat. Lokasi geografis kota Sabang  berada di sebelah Timur Laut pulau Weh, sementara  Tugu Kilometer Nol berada di sisi Barat Laut pulau Weh. Sedangkan Pelabuhan Balohan berada di sebelah selatan dari Kota Sabang (berjarak 10 Km).

Pukul 15.00 SL sudah tiba kembali di pelabuhan Balohan dengan maksud akan pulang dan menyeberang dengan kapal ferry menuju ke pelabuhan Ulee Lheu di Kota Banda Aceh. Setelah membayar Rp. 60.000 kapal ferry meninggalkan Pelabuhan Balohan tepat pukul 16.30 dan tak lama kemudian tiba pelabuhan Ulee Lheu di Kota Banda Aceh sekitar pukul 18.30.

Dari pengalaman ini, semoga masbro memiliki gambaran jika ingin datang ke Tugu Nol Km Sabang. Rasanya masbro tidak perlu menginap di Sabang kecuali ketinggalan kapal ferry. Sebagai catatan sedapat mungkin datang lebih awal ke pelabuhan untuk menghindari antrian panjang masuk ke dalam kapal ferry. Siapa yang datang lebih awal maka ia berhak masuk lebih dulu. Jika kapal sudah penuh maka silahkan menunggu pada jadwal berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *