Wheel Story 4: Menjelajahi Pulau Selatan Selandia Baru (Part 1)

Wheel Story 4: Menjelajahi Pulau Selatan Selandia Baru (Part 1)

Mario Iroth Menjelajahi Pulau Selatan Selandia Baru dalam Wheel Story 4:

Perjalanan Mario Iroth menjelajahi 4 negara (Selandia Baru, Australia, Timor Leste, Indonesia) dalam Wheel Story 4 kembali berlanjut. Masih di negara pertama yakni Selandia Baru, kini Mario menceritakan kisahnya menjelajahi Pulau Selatan Selandia Baru. Berikut adalah kisahnya kepada MotoBikerz.

Setelah menyebrangi selat Cook hingga tiba di Picton, saya langsung mengambil jalur ke arah Barat menuju Nelson. Suasana kali ini cerah dengan suhu udara sekitar 12 derajat celsius menyelimuti perbukitan dan lembah hijau. Setelah 2 jam riding, kami mampir makan siang saja di Nelson, lalu lanjut riding lagi hingga sore tiba kami menginap di camping area di Tapawera Village dekat Taman Nasional Kahurangi. Malam hari di tempat ini udara sedingin 1 derajat Celsius kembali dengan sekejap membekukan tetesan embun menjadi es.

Esok hari kami melanjutkan perjalanan ke pesisir barat Pulau Selatan Selandia Baru melalui Jalan SH6. Kami berjalan agak cepat kali ini agar dapat tiba di camping area berikutnya sebelum Matahari terbenam. Hal ini harus dilakukan jika tidak ingin terperangkap dinginnya udara Negeri Kiwi ini. Kami pun memutuskan untuk berhenti di sebuah desa kecil di Ahaura sebelum mencapai Greymouth.

Di Ahaura, hujan pun mengguyur sepanjang dari malam hingga pagi hari dan dinginnya minta ampun sampai menembus Jaket Respiro yang kami gunakan. Kami tidak bisa berada di dalam tenda lama-lama dan harus beristirahat di dapur umum yang jauh lebih hangat untuk berteduh. Lanjut riding lagi walau dalam keadaan hujan.

Sambil diguyur hujan kami melanjutkan perjalanan, dan berteduh kembali di desa Hari-Hari (150 KM arah Selatan Greymouth). Di desa Hari-hari kami menginap di sebuah Lodge dengan harga cukup terjangkau. Lodge tersebut merupakan rumah warga, kami terkesima dengan isi Lodge ini, pasalnya semua perabot, pakaian hingga pernak-pernik khas Selandia Baru yang rata-rata berusia lebih dari 70 tahun dan tertata rapi. Ini sesuai dengan tema penginapannya yakni ‘Living in The Past’.

Usai bermalam di Hari-Hari perjalanan berlanjut ke Wanaka, kami melewati Sanz Josef Glacier dengan pemandangan Mount Cook yang indah. Aliran air sungai di pinggir jalan yang jernih membuat perjalanan semakin menyenangkan, aliran air sungai ini berasal dari gugusan hutan rimba nan gelap di bawah puncak pegunungan yang tertutup salju.

Perjalanan semakin menguji ketangguhan Honda CB500X, dimana motor yang kami kendarai menemui jalan menanjak, berkelok dan hujan lalu nampak es di pinggir jalan berkilo-kilo meter. Tangan dan muka sudah tak tahan dingin namun harus konsentrasi karena bahaya black ice dan grit.

Akhirnya kami pun tiba di wilayah yang datar dengan pemandangan Langit Biru dan pegunungan salju, temperatur di sini terasa hangat, dan di depan muka sudah terlihat terhampar Danau Wanaka dan sebelahnya Danau Hawea.

DSC03177

Your comment: