Ngga ragu-ragu menjajal ban dual purpose, spoke wheel dan Jacket CONTIN

RE Camera

Artikel ini sebagai kelanjutan dari artikel berjudul “Ke Kuningan Jabar menikmati jalur anti-mainstream untuk latihan dan tes fisik” yang dimuat di MotoBikerz.com. Disini kami akan menjelaskan performa motor Inazuma menggunakan ban bekarakter dual purpose yang melekat di pelek jari-jari sekaligus merasakan jacket four seasons (4 musim) merek CONTIN Osiris LE untuk iklim Indonesia.

Ban Dual Purpose (DP)

Kadang-kadang ban DP ini disebut ban street enduro, tapi menurut kami lebih pantas disebut ban untuk segala medan (multi puprose) yang bisa dipakai di kondisi jalan apapun. Dalam agenda touring ke Kuningan Jawa Barat pada 1-2 Oktober 2016 kami memakai ban depan merek Swallow tipe SB117 dengan ukuran 110/80-17 sedangkan ban belakang merek SHINKO tipe Trail Master E-705.

Loh.. kenapa beda merek antara ban depan dan belakang? Jawabannya adalah kami hanya ingin melakukan pengetesan. Kalau mau cerita pengalaman kami yang pernah menggunakan sepasang ban SHINKO, masbro bisa membaca artikel sebelumnya, yaitu berjudul “Jajal ketangguhan Ban SHINKO di jalan rusak Cianjur – Pantai Rancabuaya“.

12826055_1695547950722624_210171484_nUkuran ban depan SHINKO 120/90-17 kami rasakan sangar, terlalu besar, maka dari itu kami ganti dengan ukuran default ban depan Inazuma 110/80-17 yaitu merek Swallow yang kini sudah tersedia dipasaran.

Sebagai alternati lain adalah ban merek CST tipe 61017 yang nantinya akan kami gunakan dalam ajang turing ke BORNEO 7.000 Km. Sayang ban CST ini memang  belum kami pakai, karena harus disimpan dulu menunggu waktu yang tepat.

Bagaimana rasanya setelah menggunakan ban dual purpose ini?

  1. Dijalan aspal suara ban menjadi berisik, suara mengaum terdengar karena profil ban model kotak-kotak (tahu). Inazuma kami pacu lebih kencang, maka suara mengaum ban-nya juga semakin keras. Lumayan, membuat perhatian motor-motor yang ada disekitar jadi tercengang.
  2. Dijalan hancur – rusak parah – tanah – becek – lumpur maupun bebatuan terasa lebih mantap. Hal ini kami buktikan pada jalan off road antara Pasar Loji Karawang hingga Waduk Jatiluhur yang kami lewati sambil menikmati kondisi alam yang masih asri dan sepi dari lalu-lalang motor.
  3. Saat melewati kondisi jalan tikungan-tikungan diaspal mulus, apakah tikungan tajam maupun sedang, ban sama sekali tidak slip/licin dan terasa nge-grip dengan baik. Pengalaman kami mengendarai Inazuma seperti mengendarai motorcross, yaitu ketika masuk tikungan badan agak maju kedepan (bukan bungkuk) dan posisi badan dillawan dengan posisi motor. Jalur antara Purkawarta hingga Wanayasa yang sarat dengan tikungan, disana kami mendapat tekanan dari sebuah motorsport 250cc merek tetangga yang berusaha keras ingin mendahului kami, dan hasilnya kami tetap didepan alias tidak bisa dilewati, Intinya kami bisa melewati tikungan dengan aman dan terbukti ban model dual purpose memang bisa diandalkan saat menikung.. Cerita ini adalah pengalaman kami sendiri dari Rider SL.
  4. Bagaimana ketika melewati hujan atau jalan basah? Pengalaman kami saat melewati jalur tanjakan dari Cikijing ke Kuningan, beruntung kami diguyur hujan. Disana kami juga merasakan ban sama sekali tidak slip/licin dan terasa nge-grip. Cara bawa motor sama dengan cerita diatas, harus berubah dengan gaya motorcross.
  5. Jalur pantura yang sarat dengan lubang-lubang pun bisa dilewati tanpa ragu dengan kecepatan tinggi. Untung saja tinggi ban ini berukuran 80 sangat nikmat melibas lubang-lubang Pantura tanpa rasa takut pelek ban akan rusak.
  6. Kecepatan yang paling aman di trek Pantura atau trek lurus, at least 120 Km/jam. Bisa lebih namun demi keamanan dan kenyamanan cukup sampai 120 km/jam untuk titik-titik tertentu.

Kesimpulan kami, menggunakan ban dual purpose sangat tepat bagi mereka yang hobi touring adventure khususnya mereka yang menyukai melintas jalan-jalan rusak, atau jalan tanah sekalipun. Namun masbro tak perlu kuatir saat melintas jalan aspal yang sarat dengan tikungan, setidaknya masih enak dikendarai, demikian pula saat jalan aspal basah masih tetap aman dan nyaman.

Jacket CONTIN Osiris LE

Jacket dan pants CONTIN Osiris LE (empat musim) ini pertama kali kami gunakan dalam ajang touring Himalaya Odyssesy 2016 selama 9 hari perjalanan sejauh 1.500 Km di pengunungan Himalaya di India bagian utara. Saat touring di Himalaya kami merasakan suhu udara yang dingin sekali, pasalnya kami sempat melewati jalan tertinggi dunia, yaitu Khardungla Top 18.380 Feet (5.600 meter dpl).

Jadi, menurut kami jacket CONTIN ini sudah terbukti ketangguhannya, dan ketika kami pakai di iklim tropis pada saat touring ke Kuningan Jawa Barat tentu saja dua layer didalam jacket Osiris LE yang berfungsi untuk thermal (penghangat tubuh) terpaksa kami lepas. Kami merasakan kenyamanan selama dalam perjalanan diterik panas matahari, mau[un saat diguyur hujan lebat. Lubang-lubang ventilasi tersedia cukup banyak, tetapi tidak pernah kami gunakan.

Oh ya.. apakah tidak merembes saat kena hujan lebat? Jawabannya ya.. lama kelamaan akan terasa ada rembesan air, tetapi karena kami memaakai baju dalam base layer tanpa celana dalam, jadi rembesan air ini akan cepat kering (menguap) pada waktu kami sudah membuka jacket untuk berirtirahat.

Pengalaman diguyur hujan deras ketika kami melewati jalur Cikijing hingga Kuningan, setelah itu kami tiba dilokasi acara HUT Ke-3 ION dan tentu saja langsung membuka jacket. Disana kami bertemu dengan teman-teman ION, dan ada rekan ION yang melihat sendiri jacket CONTIN ini. Dalam obrolan para biker ION, katanya jacket ini sangat bagus, dan sudah terbukti. Ada rekan ION yang iseng membuka bahan proteksi-nya dan dilihatnya ada kode CE serta bahan yang disebutnya sebagai produk paling teratas dikelasnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *