Touring 1.200 Km dengan Royal Enfield Classic 500, torsi besar tenaga joss!

img_0022

Meramaikan ajang KUSTOMFEST 2016 pada 8-9 Oktober 2016 di kota Jogja, kami pun ikut serta dengan cara berkendara sepeda motor Royal Enfield tipe Classic 500 Desert Storm. Motor bermesin 500cc berkapasitas 1 silinder 4 tak TwinSpartk ini dijajal seorang diri oleh Rider Stephen Langitan (SL) melalui jalur pantura, maupun jalur pegunungan di lintasan selatan. Berikut ini adalah ceritanya.

Sebenarnya rencana awal perjalanan akan menempuh jarak sejauh 1.500 Km dengan jalur Depok – Bekasi Cirebon – Semarang – Ketep Pass – JOGJAKARTA – Banjar – Pangandaran – Pantai Ranca Buaya – Ujung Genteng – Sukabumi – Bogor dan Depok.

Namun sayang sekali, akibat cuaca buruk bahkan dibilang ekstrim dengan turunnya hujan lebat pada Sabtu-Minggu (8-9 Oktober) menyebabkan di beberapa titik ada musibah longsor dan jembatan putus di sekitar bagian selatan Jawa Barat. Akibat cuaca ekstrim ini, maka perjalanan dipotong menjadi 1.200 Km, dan setelah kami tiba di Kota Banjar maka kamipun langsung menuju Ciamis – Bandung – Cianjur – Bogor dan Depok (lihat peta). Hal ini semata-mata demi keamanan dan kenyamanan berkendara.

rute-touring-kustomfest2016

Kamis, 6 Oktober 2016

Perjalanan solo riding dimulai pukul 5.00 pagi dari markas StephenLangitan.com di kawasan Cinere Depok dengan target tujuan Semarang via jalan pantura (Bekasi – Cirebon – Pekalongan). Sepeda motor Royal Enfield Classic 500 ini dibebani dengan barang bawaan yang terdiri dari 1 tas duffle bag dan satu set side bag (kiri-kanan) yang waterproof dari merek 7Gear. Dengan barang bawaan ini menjadikan tampilan motor RE Classic Desert Storm sangat mirip dengan para pengembara Royal Enfield di pegunungan Himalaya.

Kami benar-benar menikmati berkendara motor Royal Enfield yang berpenampilan sangat berbeda dibandingkan dengan motor-motor yang berseliweran di jalan. Desain motor antik ini menjadi perhatian banyak orang, mungkin dikira motor jadul dan sudah tidak ada tenaga tetapi koq malah tampil lebih galak, dimana suara kenalpotnya nembak-nembak (blep-blep-blep) bikin orang melirik penasaran dan bahkan ada juga yang rela memberikan jalan.

Jalur Kalimalang yang terkenal padat merayap kami selesaikan hingga di Cikarang Barat, dan kemudian kami masuk ke jalan lama yaitu antara Bekasi – Cikampek via Cikarang – Karawang. Sekitar pukul 7.30 kami istirahat sarapan pagi kemudian perjalanan di lanjutkan lagi hingga Cikampek dan simpang (flyover) Jomin. Dari perjalanan ini secara rata-rata kami tempuh pada kecepatan rendah, pasalnya kondisi jalan di pagi hari memang sangat ramai dengan masyarakat pengguna lalu-lintas.

Tingkat kecepatan motor RE hanya sampai digigi-5 dan kamipun lebih banyak berkendara dengan kecepatan sedang dengan gigi 4-5. Ya.. disini menariknya karena torsi motor ini sangat besar 41.3 Nm dimana kami selalu melaju dengan santai tapi gigi sudah dioper sampai gigi-5.

Bahkan saat kami berhenti, untuk memulai perjalanan bisa langsung masuk gigi-2. Yang menarik lagi, dengan bermain di gigi 4 – 5, bunyi suara knalpot yang menembak dan berebet dup-dup-dup jauh lebih terasa. Seni berkendara motor RE sebenarnya ada disuara knalpotnya.

Memasuki jalan pantura dimulai dari persimpangan Jomin hingga Cirebon, kami beberapa mencoba kecepatan tinggi hingga 120 km/jam. Namun dapat kami katakan bahwa motor RE Classic ini adalah motor santai, dengan torsi atau tenaga yang besar. Yang paling enak dan nyaman dengan tingkat kecepatan rata-rata 80 km/jam.

Sebenarnya motor ini bisa menembus kecepatan diangka 120 km/jam tapi sayang terasa ada getaran di bagian stang. Getaran ini sudah mulai terasa di angka 90 km/kam dan makin naik kecepatannya maka getaran pun akan semakin meningkat. Hal ini wajar pasalnya motor ini hanya berkapasitas 1 silinder dengan twinspark (dua busi), bukan dua silinder, lagian motor ini adalah jenis klasik bukan motor sport.

Jika masbro berharap mau kencang, maka masbro salah besar memilih merek Royal Enfield ini. Tetapi kalau masbro mau jalan santai dengan tenaga besar, maka pilihan motor ini adalah sangat tepat. Saat turing Himalaya, motor seperti ini membawa barang bawaan yang sangat banyak plus bahan bakar cadangan dengan jerigen tambahan, bahkan ada juga rider yang membawa peralatan camping, dan rutenya adalah pegunungan Himalaya yang sangat ekstrim berbahaya..

Masuk kota Cirebon pukul 11.30, kemudian kami istirahat makan siang di restoran khas makanan Cirebon, yaitu Nasi Jamblang. Saat lagi duduk istirahat usai makan siang, sang pemilik restaurant datang menghampiri untuk berkenalan sambil ngobrol-ngobrol soal motor Royal Enfield 500 Classic Desert Storm ini, antara lain membahas soal mesin, belinya dimana, harganya berapa, bagaimana rasanya dan sebagainya. Yang pasti kami sering mendapat teman baru setiap kali menjalani solo riding, selalu ada saja yang menghampiri disaat kami lagi duduk sendiri.

Perjalanan dari Cirebon – Brebes – Tegal hingga kota Pekalongan benar-benar kami nikmati dengan turing santai pada kecepatan rata-rata diangka 80 Km/jam. Lepas dari kota Pekalongan saat jalan mulai mendaki, cuaca kemudian mulai berubah dan turun hujan gerimis dengan awan mendung yang gelap. Kamipun segera berhenti untuk menutup tank bag Patrol dari 7GEAR dengan rain cover.

Sementara itu kami tidak perlu lagi pakai jas hujan, pasalnya riding gear yang kami gunakan, yaitu jacket, pants dan boot merek Royal Enfield dijamin aman menghadapi terpaan hujan. Setelah hujan gerimis mulai turun hujan keras dan untung saja ini tidak berlangsung lama. Yang pasti ketika kami melewati kawasan hutan jati Alas Roban dalam suasana jalan sangat basah dan jelas terlihat habis diguyur hujan lebat. Tidak lama kemudian kami sudah melewati kota Kendal dan masuk kota Semarang dengan jalan basah habis diguyur hujan.

Pukul 17.30 kota Semarang sudah terasa lebih gelap mungkin karena udara mendung dan juga letak geographis Semarang yang berbeda dengan DKI Jakarta dan Depok. Setelah melewati kolong flyover di persimpangan Bandara A. Yani – Jl. Sudirman kamipun belok kanan dan berhenti di sebuah angkringan di Jl. Pamularsih untuk menikmati secangkir teh hangat dan gorengan. Lagi, terjadi obrolan ringan dengan beberapa orang yang ada di angkringan yang menanyakan kehadiran kami serta motor Royal Enfield yang baru pertama kali mereka lihat.

Pukul 19.00 kami check in di sebuah penginapan di Jl. Raya Semarang – Surakarta. Motor Royal Enfield Classic 500 terpaksa di parkir diluar didepan penginapan, dan uniknya kunci stangnya ada di bagian bawah stang dekat segitiga seperti motor-motor laki tahun 1970-an.

Jumat 7 Oktober 2016

Perjalanan menuju Jogjakarta kami mulai dari kota Semarang. Setelah sarapan pagi, kami check out sekitar pukul 08.45. Saat lagi berkemas beberapa orang petugas hotel dan satpam menanyakan perjalanan kami, dari mana mau kemana. sekaligus mengangkat jempol untuk motor klasik Royal Enfield yang baru pertama kali mereka lihat. “Antik juga motor ini, modelnya jadul tapi teknologi mesinnya sudah fuel injection, bahkan sudah pakai rem cakram,” ujar seorang petugas hotel kepada teman-temannya yang datang melihat.

Kami mengarah ke Salatiga untuk selanjutnya ke kawasan wisata Kopeng dan Ketep Pass. Kondisi jalur berubah dari jalan lurus kemudian masuk ke jalan yang penuh tikungan pegunungan. Nah, kenikmatan mengendarai motor Royal Enfield Classic 500 semakin bertambah pasalnya kami benar-benar menikmati perjalanan dengan santai tidak perlu terburu-buru sehingga pemandangan alam pegunungan sangat nikmat dipandang apalagi cuaca pada hari itu sangat cerah dengan sinar matahari yang panas.

Pukul 12.30 kami tiba di lokasi wisata Ketep Pass dengan latar belakang Gunung Merapi yang sedang ditutup kabut. Selama di Ketep Pass kami pergunakan untuk membuat rekaman video, berfoto dan juga makan siang. Di sini lagi-lagi ada orang yang menyapa kami hanya sekedar ingin tau sosok motor Royal Enfield Classic 500 yang kami gunakan.

Pukul 14.00 kami tinggalkan Ketep Pass dan meluncur ke arah Mungkid – Blabak atau pertigaan Jl. Magelang – Jogja tidak jauh dari pertigaan ke arah Candi Borobudur. Tak terasa pada pukul 15.00 kamipun sudah sampai di perbatasan antara Jawa Tengah – kota Yogyakarta dan kamipun disambut dengan hujan lebat sampai di perempatan fly over ring road barat – ring road utara Jogja.

Pukul 16.00 kami akhirnya tiba di penginapan dekat lokasi event Kustomfest 2016 di Jogja Expo Center. Pukul 16.30 motor tersebut kami serahkan kepada Royal Enfield yang ikut berpatisipasi meramaikan ajang Kustomfest 2016 selama dua hari yaitu Sabtu-Minggu 8-9 Oktober 2016.

Senin, 10 Oktober 2016

Tepat pukul 08.15 pagi kami sudah meninggalkan penginapan. Pada pukul 09.00 kami sampai di ujung roang road barat Jogja dan lokasi ini sebagai tanda berakhirnya keberadaan kami di Kota Yoyakarta.

Jalur pulang yang kami tempuh kembali ke Depok Jawa Barat adalah melalui jalur selatan, yaitu dari Jogja menuju ke arah Wates kemudian belok kiri masuk ke jalan raya lurus panjang Daendles (pantai selatan Jawa Tengah), dan kemudian belok kanan kearah Gombong – Wangon dan makan siang pukul 12.00 di RM Ayam Goreng Lumbir.

Pada perjalanan ini benar-benar sangat santai, kami hanya melaju sebatas 80 km/jam sambil menikmati pemandangan. Jalan keriting dan berlubang di lintas selatan tidak menjadi kendala, motor tetap melaju tanpa ragu-ragu melibas lubang dan jalan keriting. Bagusnya motor RE Classic 500 ini menggunakan ban/pelek depan ukuran 120/80 ring 18 dan dibelakang ukurannya 90/90 ring 19. Ini adalah ukuran yang sangat pas untuk menyantap jalan-jalan yang rusak sekalipung jalan penuh lubang. Mantap!

Menjelang perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat kondisi cuaca mendung dan sedikit hujan gerimis. Tiba-tiba jalan aspal mulus dipenuhi dengan tanah liat dan ternyata ada bekas longsoran. Tapi beruntung situasi tersebut sudah ditangani petugas. Melihat kondisi alam ini akhirnya kami putuskan tidak jadi alias batal mengambil jalur Pantai Selatan Jawa Barat (rute Pantai Pangandaran – Pantai Ranca Buaya hingga ke Ujung Genteng).

Sekitar pukul 14.15 kami tiba di jalan putus yang sama sekali tidak bisa dilewati. Untung saja ada warga yang mengarahkan kami melewati jalan kampung untuk melanjutkan perjalanan. Rutenya tidak jauh berputar sekitar 1 km saja, masuk gang sempit dan terbatas hanya sepeda motor dan pejalan kaki yang bisa melewatinya.

Lokasi jembatan putus akibat amblas ini adalah jembatan Cicapar Ketapang, di Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar yang 100% amblas akibat curah hujan ekstrim yang terjadi di hari Minggu 9/1/0/16. Dilokasi jembatan putus ini kami sempat ngobrol sejenak dengan Kapolres Banjar dan petugas TNI dari Koramil Banjar yang saat itu baru selesai diwawancara oleh stasiun TV.

Pukul 14.45 kamipun sudah meninggalkan lokasi jembatan putus Cicapar Ketapang di Banjar untuk melanjutkan perjalanan ke Ciamis – Nagreg – Bandung – Cianjur – Puncak Pass – Bogor dan terus sampai kerumah di Cinere Depok. Pada rute pegunungan antara Ciamis – Nagreg sungguh menyenangkan berkendara RE Classic 500, motor ini tetap stabil dan nyaman sambil menyalip beberapa kendaraan di jalur menanjak sekalipun di jalan turunan tajam.

Pukul 17.45 akhirnya kami tiba di Jl. Sukarno Hatta – Ujung Berung Bandung. Disini kami beristirahat di SPBU untuk mengisi bbm sekaligus melemaskan otot-otot sambil minum kopi panas di sebuah cafe. Untuk makan malam kami berhenti di rumah makan di Cimahi dan setelah itu perjalanan non-stop malam hari langsung ke kota Depok via Puncak Pass. Singkat cerita akhirnya kami sampai dengan selamat dengan status zero accident tiba dirumah hingga pukul 23.15.

Kesimpulan

Motor Royal Enfield Classic 500 Desert Storm ini sangat nyaman dikendarai untuk jalan santai dengan batas kecepatan 80 km/jam. Kecepatan 90 km/jam hingga 100 km/jam sudah mulai terasa ada getaran. Melibas jalan rusak dan berlubang di jalur pantura maupun lintas selatan tidak ada masalah, hajar terus!

Melewati jalan menanjak di lintasan pegunungan juga sangat nikmat, tarikannya mantap walaupun dengan gigi 4-5. Suara knalpot menembak dan berebet-berebet menjadi ciri khasnya, seperti motor perang sehingga menjadi perhatian orang-orang disekitar. Desainnya yang klasik menjadi pertanyaan banyak orang dan setiap kali motor ini berhenti, dimanapun pasti dilirik.

Soal bbm sangat irit bro.. mesin EFI motor satu silinder RE Classic 500 ini hanya menghabiskan Pertamax sebesar Rp. 330 ribu (44 liter) untuk jarak tempuh 1.200 Km atau 1 liter per 27 Km (hitungan seadanya). Jadi, mau dipakai buat harian, weekend, maupun touring dengan motor RE pastinya asyik banget!

Untuk informasi lengkap tentang produk Royal Enfield silahkan hubungi:

PT DISTRIBUTOR MOTOR INDONESIA
Jl. Pejaten Barat Raya No.5, Jakarta 12510
Telephone: +62 021-71795082 / +62 021-71795084

2 thoughts on “Touring 1.200 Km dengan Royal Enfield Classic 500, torsi besar tenaga joss!

  1. OtOjurnal says:

    Nais banget artikelnya bro. Moga bisa kebeli ni motor. Kalo buat turing di indonesia yg banyak jalur pegunungannya. Motor ini pas bgt. Tampangnya juga lembut. Ga arogan.
    Piss brow.. . OtOjurnal

  2. […] diinginkan. Nah, kalau ngomongin touring ke Yogya, jadi ingat waktu saya hadir meramaikan acara KUSTOMFEST 2016 naik motor Royal Enfield. Dengan Traveloka.com saya bisa mendapatkan lokasi penginapan yang bagus, dan nyaman dekat dengan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *