Tips Touring Jarak Jauh: Hindari Berkendara Malam Hari

Berkendara jarak jauh atau menjalani kegiatan touring di malam hari adalah sangat berbahaya, karena sering terjadi musibah kecelakaan. Ini adalah 5 faktor utama yang sering menyebabkan musibah pada saat touring jarak jauh di malam hari, yaitu:

  1. Faktor jarak pandang atau mata tidak bisa melihat jarak jauh
  2. Faktor rasa ngantuk (waktunya tidur dipaksa tetap berkendara)
  3. Faktor keletihan karena kurang istirahat
  4. Faktor keamanan. Aksi begal/perampok lebih sering di malam hari hingga subuh
  5. Faktor motor rusak/mogok serta kesulitan mendapatkan parts/bengkel dimalam hari

Touring dan berkendara motor jarak jauh memerlukan perhitungan waktu dan jarak yang tepat, agar touring menjadi nikmat bukan menjadi masalah diantara peserta (grup turing). Apabila ada peserta turing yang lemah, sakit gara-gara kurang tidur, maka jadwal yang sudah direncanakan sebelumnya akan berubah bahkan berantakan.

Touring jarak jauh membutuhkan Time Management yang tepat dan akurat, agar kesehatan dan stamina pengendara tetap terjaga. Misalnya menyusun agenda perjalanan, dimulai dari tanggal start, kota yang dituju, jarak KM per harinya, kemudian menetapkan jam istirahatnya.

Sebagai contoh, Solo Rider Stephen Langitan  dalam setiap event perjalanan turing jarak jauh selalu membuat catatan dan agenda perjalanan. Contohnya seperti dibawah ini yaitu:

Agenda Solo Touring Sumatera Nol Km Sabang 5.500 Km

Agenda perjalanan touring seperti contoh tersebut diatas bisa dibuat menjadi patokan dan disepakati bersama oleh anggota grup riding, kemudian pada saat dilapangan group leader menentukan atau mengatur jam istirahatnya agar setiap peserta mendapatkan stamina tetap prima untuk perjalanan dihari berikutnya.

Berikut ini adalah “kebiasaan jam istirahat” dari Solo Rider SL setiap menjalani touring jarak jauh:

  1. Bangun pagi pukul 05.30
  2. Sarapan pagi pukul 07.00
  3. Start pukul 08.00 (lebih cepat lebih baik)
  4. Istirahat ngopi pertama sekitar 10.30 (20 – 30 menit)
  5. Istirahat makan siang pukul 12.30 (45 – 60 menit)
  6. Istirahat ngopi kedua sekitar 15.30 (20 – 30 menit)
  7. Finish pukul 18.00 (jika terpaksa sampai pukul 19.30)
  8. Makan malam pukul 19.30
  9. Waktu kopdar dengan biker lokal antara pukul 20.30 hingga 22.30
  10. Istirahat tidur pukul 24.00

Pada prinsipnya waktu tersebut bisa saja berubah/bergeser sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan mungkin karena hujan atau berhenti di spot pemandangan indah dengan tolorensi waktu antara 30 – 60 menit.

Namun demikian hal yang perlu diperhatikan adalah jam istirahatnya harus ada setiap 1.5 jam, dan sesering mungkin. Bahkan jam tidur pada malam hari juga dibatasi tidak lewat dari dari pukul 24.00 agar mendapat pemulihan tenaga dan kesehatan yang sempurna. Ingat, masing-masing peserta turing memiliki fisik dan tenaga yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Nah, karena kebiasaan Solo Rider SL adalah Solo Touring (tunggal) maka mengatur waktunya adalah sangat mudah, dan suka-suka sendiri bahkan ketika ngegas pun juga suka-suka sendiri tanpa melihat kebelakang apakah ada teman yang tertinggal jauh seperti yang dilakukan masbro jika menjalani grup riding.

Namun demikian, dari pengalaman-pengalaman yang ada di grup riding semoga masbro akan banyak menemukan suka dukanya, dan nanti pada suatu saat masbro pun akan memutuskan lebih suka Solo Touring ketimbang ikut grup yang lebih banyak resehnya daripada enjoy-nya. Ingat 5 faktor penyebab kecelakaan berkendara di malam hari, harap dihindari karena memang berbahaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *