Berkendara ke Pelosok Bali, Menyentuh Hati

irc-tire-adbanner

Kalau ada yang bilang bulan terbaik mengunjungi Bali adalah April hingga November, sepertinya mereka benar. Matahari bersinar cerah dan alam pun ramah. Pagi itu, sekelompok pengendara motor adventure mengajak Elsid Arendra untuk berkendara bersama mereka menjelajahi pelosok pulau Bali.

Pertengahan Juli 2017, sekumpulan pengendara motor adventure yang tergabung dalam program perjalanan RoFA-KTM Adventure Tour & Camp bangun dengan suasana hati riang walaupun pagi itu cuaca sedikit mendung di Ubud, Bali. 25 sepeda motor adventure dari berbagai merk berjajar di halaman depan Casa Ganesha Hotel yang lokasinya tak jauh dari pompa bensin jadi pas sekali sebelum berangkat, tangki bisa diisi penuh.

Tak lama raungan mesin dan deru knalpot mewarnai jalanan di Ubud. Kadex Ramayadi, tour leader kami memimpin rombongan melalui jalanan sempit Ubud, memasuki gang sempit yang hanya cukup satu motor hingga tembus ke kolong jembatan tempat wisata yang dipenuhi monyet-monyet.

Matahari mulai bersinar cerah ketika kami mengaspal di jalan raya yang lebar pas kebetulan lalu lintas juga sedang sepi. Tak jauh berkendara kami tiba di tepi pantai dengan pasir berwarna hitam. Hari masih sangat muda sebelum kita nyebur ke lautan pasir. Memastikan semuanya lancar, Kadex memberikan tips dan trik berkendara di atas pasir yang gembur dan cara berkompromi dengan ombak yang datang dari samping. Sejenak berfoto usai briefing, masing-masing pengendara kembali ke atas sadel mereka.

Dan kegilaan pun dimulai. Tak mudah berkendara mengimbangi kekuatan alam, yang bisa dilakukan mau tidak mau adalah berkendara berirama dan menikmati alam. Ombak berdebur mengiringi raungan mesin dan knalpot. Walaupun semua motor menggunakan ban off-road atau dual-purpose tetap saja beberapa pengendara mengalami kesulitan melintasi medan. Pasir yang gembur seperti jebakan untuk motor-motor adventure itu. Ban dual-purpose dan off-road malah semakin membuat motor makin dalam terbenam. Di sinilah terlihat perlunya kerjasama tim.

Bersama kita kuat

Mengeluarkan motor berbobot ringan cukup dua orang, tetapi beda cerita kalau mengeluarkan motor dengan bobot lebih dari 150kg dengan medan yang sulit. Jalan saja susah, apalagi mendorong motor. Saya sendiri pernah mendengar tips dari sesepuh off-road, sebisa mungkin kalau main off-road jangan sendirian. Kali ini saya melihat sendiri perlunya kerjasama tim di medan off-road.

Sebuah KTM 690 milik Youk Tanzil dengan tangki modifikasi yang dirancang mampu menempuh jarak hingga 700km terpaksa dituntun menuju jalan aspal karena mengalami kerusakan pada kopling. Yang lebih seru ketika dua motor jenis KLX450 dan KTM250 menyeberangi sebuah muara sungai kecil dengan laju yang cukup tinggi untuk ukuran off-road.

Air tawar telah menyatu dengan air laut, kepalang tanggung ketika rider kedua terlalu dekat dengan rider pertama. Mereka tak sempat menyadari ketika cekungan berbentuk V menjebak motor pertama dan motor kedua tak cukup waktu lagi untuk berhenti. Bersamaan kedua motor dan pengendaranya hilang ditelan ombak sebelum mereka berdiri kembali, basah kuyup dan tertawa konyol.

Segera rekan-rekan di dekat mereka memberikan pertolongan dengan menarik motor keluar dari air dan membalik posisi motor dengan dua roda di atas, menguras tangki bensin dan membuang oli. Perlu waktu lebih dari dua jam untuk mendapatkan bensin dan oli baru sekalian membilas motor agar bersih dari air laut.

Sementara sisa dari group menunggu di sebuah pom bensin yang menyediakan kran air dan selang. Pucuk dicinta ulam tiba, semua motor dibilas di situ saat itu juga! Tak ingin hutang budi, para rider patungan uang sekedarnya dan diberikan kepada petugas pom bensin. Wajah ceria terpampang ketika mereka menerima “uang kaget” itu sekaligus melambaikan tangan ketika rombongan berpamitan.

Kejutan dari penduduk setempat

Kembali ke atas sadel masing-masing, rombongan bergerak menuju titik makan siang yang sudah lewat satu jam. Perut keroncongan, nafas ngos-ngosan dengan seluruh badan basah air laut dicampur pasir, membuat para rider semakin ngegas supaya cepat sampai di tempat makan siang.

Kadex berbelok memasuki jalan perkampungan keluar dari jalan utama. Seluruh tim mengekor di belakang pembalap off-road AXCR Thailand itu. Jalan yang dilalui bukanlah jalan yang sangat sulit untuk off-roader kawakan. Di sinilah ujian sesungguhnya diawali. Sebuah tanjakan panjang berkelok tajam dengan batuan besar yang mudah lepas, seperti gravel tetapi lebih besar dan kondisi basah hampir berlumpur menahan rombongan karena motor harus lewat satu persatu.

Kadex memberikan kembali menebarkan virus adventure kepada para rider sebelum melepas mereka satu persatu. Tips dan trik meluncur lancar dari mulutnya. Saya sendiri nggak tahu Tuhan sedang apa ketika Kadex lahir, yang pasti dia mampu membuat pecinta adventure riding berejakulasi di atas jok motor mereka masing-masing.

Keseluruhan rombongan berhasil melalui tanjakan panjang dan berkelok itu dengan lancer, beberapa terjatuh, nyangkut atau terperosok ke dalam cekungan sedalam satu meter tetapi kerjasama tim menyelamatkan mereka.

Nafas semakin pendek. Kalori terbakar lumayan banyak. Warung kecil di ujung tanjakan menjadi tempat rehat sejenak untuk sekedar minum dan makan kudapan. Sebotol air mineral di tengah daerah terpencil dijual seharga air mineral di atas pesawat. Tak apalah, toh kita sudah diberkati dengan pengalaman yang luar biasa ini.

Saat rehat itu, seluruh tim tertawa terbahak-bahak ketika melihat motor bebek dengan ban standar menanjak berboncengan. Motor itu meliuk-liuk melahap satu persatu kelokan tanpa terlihat bersusah payah. Hahahahahaa….  Jangan pernah meremehkan penduduk setempat.

Sebagian besar jalan yang dilalui bukanlah jalan yang mudah terbaca di peta atau GPS sekalipun. Beberapa kali kami melewati ladang penduduk di jalan setapak atau menerobos sungai kecil.

“Trip ini memang kami rancang sedemikian rupa sehingga peserta mau tidak mau harus menggunakan Locust map. Jadi mereka bisa merasakan bagaimana rally dengan peta buta.” Ungkap Kadex yang akan berlaga kedua kalinya di ajang Asia Cross Country Rally tahun ini. “Di sini kita bersama-sama belajar navigasi seperti yang digunakan di ajang rally, belajar berbagai teknik berkendara di segala medan, dan berlatih bekerja dalam tim,” katanya.

Tak lama setelah melalui jalan setapak di tengah hutan kecil, kebun dan sawah, kami kembali ke jalan yang benar. Jalan beraspal. Hanya sekian gas ketika rombongan berhenti karena Kadex berpapasan dengan mobil pembawa makan siang.

Rata-rata pengendara motor adventure ini mengenakan helm dan perlengkapan yang tidak murah, tetapi hal itu tidak membatasi mereka bergaul dengan siapapun. Kali ini mereka menumpang selonjor di teras dan halaman sebuah toko, makan nasi kotak dengan lahap seperti tunawisma yang kelaparan berhari-hari.

Sejenak beristirahat, mereka kembali memasuki jalur yang lebih ramah, jalan setapak dan easy-to-ride di tengah hutan pinus. Pemandangannya sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kamera pun bekerja dengan baik merekam frame demi frame untuk jejaring sosial. Matahari mulai redup saat mereka kembali menyentuh jalan raya yang mengarahkan mereka ke penginapan berikutnya di Ocean View, Tulamben.

Pelosok Bali yang memikat

Pagi harinya usai sarapan, semua rider telah siap di tempat parkir. Kadex memberikan briefing tentang medan yang akan ditempuh hari ini dan mengingatkan untuk membawa perbekalan yang cukup. Selepas hotel, kami tak banyak menginjak aspal kecuali saat menyeberang saja. Kali ini jalurnya terasa lebih kering dan tandus, gravel dengan batuan kecil dan debu membelah kebun jati yang meranggas. Di latar depan gunung Agung memamerkan keagungannya, mewakili sebagian kecil bentang alam lukisan sang Khalik. Selepas hutan jati kami tiba di padang rumput dengan beberapa pohon palem yang menyebar.

Sungguh, seperti bukan di Bali. Mungkin inilah salah satu bagian Bali yang paling pelosok. Kami menyusuri sungai kering dengan pasir dan batuan kecil, menyapa penduduk setempat yang tersenyum ramah walau tengah bergulat dengan pekerjaan dan mungkin beban hidup mereka. Di beberapa tempat kami menemui rumah-rumah yang jauh dari sederhana.

Pemandangan alam yang indah kontras dengan nasib sebagian kecil penduduk Bali. Dan kamipun merenung, memanjatkan syukur karena telah diingatkan tentang mereka yang belum beruntung. Perpaduan keindahan alam Bali dan kesederhanaan sebagian warganya menyentuh hati para pecinta petualangan roda dua ini.

Melanjutkan perjalanan usai keluar dari sungai yang kering, rombongan menyusuri jalanan berbatu dan berpapasan dengan truk penambang batu dan pasir. Debu beterbangan di siang yang terik. Sudut elevasi semakin lebar, jalanan menanjak perlahan dan beralih ke jalanan berbatu padat dengan suhu yang semakin dingin.

Kami tiba di kebun jambu monyet yang sangat luas. Teduh dan temaram seolah sinar matahari tak menyentuh tanah di bawah rindangnya  ribuan pohon jambu monyet ini. Penduduk melambai-lambaikan tangan mereka menyambut pemandangan yang tak dijumpai setiap hari. Di tepi kebun, kami menuruni jalur setapak dan disambut lautan batu kerikil berwarna merah. Rupanya ini sungai yang kering tempat lewatnya lahar ketika gunung Agung sedang batuk.

Dan kegilaan kedua pun dimulai. Seperti kanak-kanak yang dilepas di taman bermain, begitulah bapak-bapak pengendara motor trail itu yang usianya rata-rata di atas 40 tahun. Boys will be boys, begitulah dunia lelaki. Rider termuda adalah Gahar Tedjo yang datang beserta ayahnya, dokter spesialis Tedjo Rukmoyo yang hampir mendekati usia 60  tahun tetapi masih terlihat segar dan awet muda. Kuda-kuda besi itupun berlarian sepanjang sungai merah yang mengering, bercumbu dan bermesraan dengan alam.

Menikmati kebesaran Ilahi mereka bersyukur diberi kesempatan mengalami kejutan demi kejutan yang tersembunyi di pulau dewata. Sore hari mereka tiba di gunung Batur hanya untuk, sekali lagi dari sekian banyak kali, mengagumi indahnya lukisan alam. Di situ di ketinggian 1400 meter dpl, sinar matahari yang beranjak pulang menyentuh hati semua anggota tim, seolah mengingatkan betapa kecilnya manusia di hadapan Maha Pencipta.

Usai memanjakan mata dengan pemandangan danau dan gunung Batur, rombongan beranjak ke penginapan yang menyatu dengan alam, Baliwoso Camping Ground. Kudapan dan minuman sehat menyambut, menyegarkan otot dan tulang yang penat lelah. Sejuknya udara Kintamani seperti membelai kulit yang seharian terbakar matahari.

Usai makan malam di alam terbuka, seluruh anggota tim bercengkerama dengan api unggun di tengah tenda. Jagung bakar, pisang, singkong goreng, kopi kintamani dan teh serai menemani senda gurau yang menghangatkan malam yang semakin dingin. Hari terakhir adalah hari yang paling ditunggu. Usai sarapan, rombongan akan bercanda intim dengan black lava, julukan untuk lautan pasir hitam di punggung gunung Batur.

Lautan pasir hitam

Selepas sarapan semua rider kembali menunggang kuda besi mereka menuju pom bensin dan mini market terdekat untuk belanja perbekalan. Dan kegilaan ketiga yang paling seru segera dimulai. Semua pengendara seperti tak sabar untuk segera bermesraan dengan cantiknya punggung gunung Batur. Sejenak mendahulukan truk-truk pengangkut pasir, puluhan motor ini segera memasuki jalur kering berbatu. Debu pun beterbangan.

Batuan di sini seperti karang yang tajam, hitam dan seperti spons tapi keras. Seperti mengingatkan untuk berhati-hati agar tak jatuh dari motor. Kadex memandu rombongan mengikuti jalan berbatu berliku hingga menemui deretan gundukan pasir hitam. Inilah black lava, taman bermain off-roader di gunung Batur, Kintamani Bali. Pria asli Bali itu mendaki puncak gunung kecil dengan Husqvarna miliknya membawa sebuah bambu panjang yang ia temukan di jalan menuju black lava.

Bukan hal yang sulit untuk Kadex mendaki puncak yang cukup terjal dengan pasir dan batu yang gembur. Black lava ini seperti halaman belakang rumahnya. Beberapa jengkal dari puncak Kadek menancapkan bambu tadi dan mengibarkan jersey berwarna cerah di pucuk tiang bambu seperti bendera. Permainan segera dimulai. Setiap pengendara yang bisa mencapai puncak dengan motornya akan mendapat penghargaan dari panitia.

Hanya segelintir pengendara yang dapat mencapai puncak, yang pertama tentu saja Kadex sendiri, tetapi rider tamu, Irwan Djunaedi adalah yang pertama berhasil mendaki dengan motornya. Disusul kemudian oleh Dury Belona. Rider lain tumbang sebelum puncak karena medan yang cukup sulit. Pasir berbatu yang gembur seperti menarik setiap motor yang lewat. Berbagai  tantangan disajikan oleh Kadek seperti menuruni tebing yang curam, mendaki tanjakan setapak berbatu dan berkelok.

Semua permainan yang dihidangkan oleh Kadek dilahap satu persatu oleh para peserta, beberapa jatuh terguling tetapi mereka pantang menyerah. Tanpa disadari waktu berlalu begitu cepat ketika matahari telah melewati ubun-ubun. Waktunya makan siang.

Kembali Kadex memandu para pemotor keluar dari black lava dan menuju daerah Pengosekan melewati jalan raya dan membaur dengan lalu lintas setempat sebelum berbelok ke kiri memasuki jalur setapak di tengah kebun rakyat. Deretan pohon jeruk berjajar menyambut kami di jalan setapak. Itulah kebun yang menghasilkan buah jeruk terkenal, jeruk kintamani. Buahnya bergelantungan lebat, menggoda hati untuk memetik. Tak lama kami berhenti di sebuah warung untuk istirahat karena ternyata makan siang kami berada di Ubud, masih puluhan kilometer jauhnya.

Kopi, teh, minuman dan makanan ringan segera menjadi santapan kami. Tak lupa jeruk yang diberikan secara cuma-cuma oleh pemilik warung. “Ambil saja pak, petik saja nggak usah bayar.” Kata pemilik warung yang sumringah karena dagangannya laris siang itu. Warung itu memang berada di tengah kebun jeruk. Jeruk yang matang tanpa dipetik, hanya disentuh sedikit bisa dengan mudah jatuh ke tangan. Jadi ya kami santap saja buah kaya vitamin C itu.

Youk Tanzil sebagai koordinator perjalanan mengatakan, “Wisata seperti ini mungkin bukan yang pertama di Bali, tapi kami menambahkan nilai lebih dengan adanya coaching clinic cara berkendara di medan off-road dari pembalap yang pernah ikut AXCR dan tahun ini akan berkiprah lagi.” ujar ayah empat anak ini.

“Ke depan tujuannya bukan hanya Bali, tapi bisa saja daerah lain seperti Jawa, Lombok atau Nusa Tenggara, dan daerah lain di Indonesia. Harapan saya akan banyak rider dari luar negeri yang datang ke sini dan berkendara menikmati keindahan Indonesia sehingga mereka juga membawa devisa dari luar masuk ke negara kita,” tegasnya.

Kembali ke atas motor masing-masing, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri deretan pohon jeruk. Di beberapa tempat kami melihat hasil panen yang berlebih, tumpukan jeruk teronggok. Padahal di kota besar jeruk-jeruk ini punya nilai rupiah. Tak lama kami melewati jalan longsor dengan jembatan yang putus, kami menyusuri tepian jurang, masuk ke dalam sungai yang kering dan kembali mendaki untuk mencapai tepi jalan di sisi lain. Tidak sulit karena jalan tikus ini sering dilalui penduduk setempat.

Inilah akhir perjalanan. Kembali ke jalan beraspal, kami menyusuri ladang dan sawah khas Ubud yang terkenal. Indah sekali. Teras siring dengan pura kecil tempat sesaji terhampar di kanan kiri jalan. Tak terasa hingga kami tiba di restoran tempat kami makan siang dan berkemas untuk mengejar pesawat yang akan membawa sebagian besar rombongan kembali ke Jakarta.

Tiba di sebuah restoran untuk santap siang, seluruh peserta tersenyum puas dan saling bercerita tentang hal-hal konyol dan seru sepanjang perjalanan. Program riding adventure bertajuk RoFA – KTM Adventure Tour & Camp ini bisa diikuti minimal 5 orang dengan menghubungi nomor +62 812-133-13369.

Sambil makan siang, usai sebagian rider berganti pakaian tanpa dikomando, semua peserta menyisihkan sebagian rejeki mereka untuk diberikan kepada yang kurang beruntung. Kadex yang diberikan amanah hampir berlinang air mata. Agus Medi, salah satu peserta mengatakan, “Perjalanan kami ini hampir sempurna. Semua yang dilakukan panitia sudah bagus, akomodasi dan makanan sangat baik, untuk sebuah adventure riding, ya begini ini sudah bagus. Karena itu berikanlah rejeki ini sebagai ucapan syukur kami.”

Youk Tanzil menambahkan, “Kita sudah sangat bersyukur karena perjalanan tiga hari ini boleh dibilang zero accident. Ada beberapa yang jatuh, tapi itu biasa dan hanya rusak ringan. Jadi ijinkan kami berbagi dengan warga Bali sebagai ucapan terima kasih walaupun nilainya tidak seberapa.”

Rupanya benar, perjalanan dengan sepeda motor adventure ke pelosok pulau dewata ini benar-benar menyentuh hati para pengendara.

Sumber: Elsid Arendra
Foto: Dharma dan Reza Dana

Your comment: