Wheel Story Season 5: Tiba di perbatasan Mozambique

Kabar Mario Iroth telah masuk ke negara ketiga yaitu Mozambique setelah melewati negara Swaziland dan Afrika Selatan. Namun cerita Mario disini tampaknya ia harus balik lagi ke Afrika Selatan menuju Cape Agulas (Southern most point Africa) yang berjarak 2 ribu KM lebih. Berikut ini petikan ceritanya:

Sewaktu tinggal di Backpackers di Manzini Swaziland, kami bertemu dengan pasangan yang sedang keliling dunia dengan menggunakan motor, Ferry (asal dari Belanda) dan Gulçin (asal dari Turkey). ternyata mereka pertama kali jumpa di Pulau Togean Sulawesi sehingga Indonesia sangat spesial bagi mereka. Bahkan Gulçin bisa sedikit berbahasa Indonesia. Setelah ngobrol panjang lebar petualangan bermotor kami dan ternyata memiliki rute yang sama yaitu ke Mozambique, akhirnya kami putuskan untuk riding bersama.

Dalam perjalanan ke arah perbatasan kami putuskan untuk kemping disebuah desa di atas gunung yang harus melewati jalanan offroad sekitar 15km. Disana terdapat mountain camp yang murah untuk kami membuka tenda di antara rumah tradisional dengan pemandangan spektakuler. Dan malamnya kami melakukan Braai (BBQ ala Africa) bersama sambil bercerita tentang keindahan alam Indonesia.

Exit dari Swaziland tidak ada masalah dan pemegang paspor Indonesia mendapatkan visa on arrival Mozambique dan proses sangat lancar, dan untuk sepeda motor kami di haruskan membeli third party insurance yang bisa di dapatkan di border. Proses ini kurang lebih memakan waktu 30 menit. Setelah semuanya beres dan siap riding, Ferry menyadari kalau handphone ketinggalan di tempat kemping di Swaziland yang akhirnya Ferry harus riding sendiri kembali ke Swaziland sekitar 25km melewati jalan offroad lagi dan kami menunggu di perbatasan Mozambique sekitar 1,5jam.

Riding di Mozambique sama seperti riding di Indonesia yaitu berada di jalur sebelah kiri, bahasa yang di gunakan adalah porto sehingga kami agak kesusahan ketika membeli sim-card karena minimnya yang bisa berbahasa inggris. Untuk masalah lalu lintas disini sangat ketat, banyak check-point di jalan raya, terkadang sambil menikmati suasana kami lupa mengecek batas kecepatan motor sehingga kami di berhentikan dua kali oleh polisi lalu lintas untuk menegur bahwa kami over speed. Dan syukurlah masyarakat dan polisi disini sangat ramah.

Hari sudah sore dan kami dapati lokasi kemping ditepi pantai namun harus melewati sekitar 10km jalur offroad berpasir untuk menuju tempat tersebut dan view dari tempat kemping menghadap Indian ocean dimana pada bulan tertentu bisa melihat kawanan Paus namun sayang sekarang adalah akhir dari musim tersebut, tetapi bila jeli masih bisa terlihat beberapa Paus berada sekitar 500meter dari tepi pantai.

Memacu motor di track offroad berpasir saya pun bisa merasakan akselerasi motor setiap kali saya menarik tuas gas, performa mesin yang mantap dan tanpa ada masalah dengan Oli Castrol Power1 memberikan perlindungan mesin maksimal dan perjalanan kami sangat mengasikkan.

Dari sini kami pun harus berpisah dengan Ferry dan Gulcin karena mereka akan melanjutkan perjalanan ke bagian arah timur Mozambique dan sementara kami akan kembali ke arah Barat menuju Cape Agulas (Southern most point Africa). Sekarang kami balik ke Afrika Selatan terkait dengan pengurusan visa Namibia dari Embassy Namibia di Pretoria lalu lanjut ke Cape Town menuju Southern most point benua Afrika.

Your comment: