Wheel Story Season 5: Dar es Salaam, Tanzania

Redaksi Motobikerz.com kembali mendapat kiriman berita dari Mario Iroth sang Petualang Indonesia yang sedang mengembara di benua Afrika. Ia telah berada di Tanzania sebagai negara ke-9 dan perjalanannya telah memasuki hari ke 100-106 dengan jarak tempuh 14569 Km. Berikut ini ceritanya:

Kamipun akhirnya masuk ke negara ke 9 di Afrika yaitu Tanzania. Enter dari border Kasumulu sebelah selatan Tanzania. Kesan pertama ketika riding di Tanzania sekitar 112 km menuju kota Mbeya, pemandangan alam yang begitu memukau.

Suasana tentram dan sejuk, serta pegunungan hijau dan pedesaan (rumah beratap seng) lalu sepeda motor lagi mangkal alias tukang ojek juga ada. Dan yang bikin kaget ketika saya melewati perkebunan teh berasa seperti riding di Jawa Barat. Saya pun berhenti disebuah warung untuk istirahat, walaupun kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris namun warganya ramah dan sopan.

Perjalanan dilanjutkan ke arah Timur. Dari Mbeya saya menuju Ibukota Tanzania, Dar es Salaam yang persis berada di pesisir Timur negara ini. Lumayan masih panjang, kira-kira masih harus menempuh jarak sekitar 800 km lebih. Kota pemberhentian pertama sebelum Dar es Salaam yaitu Iringa.

Perjalanan kesana sungguh menyenangkan. Jalan aspal yang lebar dan luas dan juga pemandangan alamnya yang berbeda dari sebelumya. Tampak pegunungan berbatu dan mulai banyak pedesaan dan juga ramai hilir mudik truk-truk logistik. Di Tanzania memang pom bensin selalu ada disetiap distrik atau ‘wilaya’ sama dengan Wilayah dalam Bahasa Indonesia. Jadi saya tak perlu kawatir soal bensin. Makananpun ramai yang jual. Tinggal lihat lokasi yang ramai dan dipenuhi kursi serta parkiran sudah pasti jualan makanan, karena disini punya sawah jadinya nasi menjadi makanan pokok juga.

Di jalur menuju Morogoro melewati hutan yang membelah gunung, jalanan menjadi banyak kelokan dengan tikungan tajam bikin asik riding di jalur ini karena ngantuk jadi hilang. Di Morogoro sendiri ada jalur melewati Mikumi National Park. Sejauh 50 km kita diharuskan berkendara dengan speed limit 30 km/jam dan dilarang memotret atau akan kena denda.

Saya sangat menikmati jalur ini karena berbagai binatang liar terlihat dari pinggir jalan, mulai dari Jerapah, Zebra, banteng, Gajah hingga Impala dan kalau beruntung bisa lihat kelompok Singa juga, tapi kalau kita lewat pakai motor kayaknya serem juga jalur ini.

Dar es Salaam memang kota macet tapi tak semacet Jakarta, untunglah sigap dan lincah karena sudah biasa dengan kemacetan di Jakarta jadi macet di kota ini masih kategori normal. Banyak kendaraan roda 3 sebagai kendaraan umun juga selain taksi, mini bus dan motor taxi alias ojek.

Kami mampir ke KBRI di Dar es Salaam, dan bersama staff PenSosBud di KBRI Dar es Salaam, kami diliput oleh beberapa media ternama di Tanzania, diantaranya di interview oleh Capital TV & Azam TV dan beberapa media cetak. Wahh seru banget!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *