Wheel Story Season 5: Rwanda

Mario Iroth kirim cerita perjalanan Wheel Story Season 5 yang kini sudah berada di Rwanda. Berikut ini petikan ceritanya di hari ke- 118-122 dengan jarak perjalanan di angka 17.050 KM.

Pagi itu saya dikejar warga lokal dengan motor sambil  membunyikan klakson sebelum memasuki setelah memasuki perbatasan Rwanda dari border Rusumo. Saya bingung apa yang dia sampaikan karena saya tidak mengerti bahasanya. Namun setelah beberapa saat didepan ada trailer datang dan kelihatan mengambil jalur saya disebelah kiri.

Setelah saya amati tanda panah di jalan, rupanya saya salah posisi berkendara. Rwanda posisi berkendara di sebelah kanan mirip Eropa, saya masih mengikuti posisi berkendara Tanzania yang mirip di Indonesia yakni sebelah kiri. Saya langsung mengubah arah berkendara di sebelah kanan sambil ketawa sendiri dan tak berapa lama sampailah saya di gedung Imigrasi.

Kantor ini disebut ‘one stop border post’ karena disini ada kantor imigrasi dan custom Tanzania – Rwanda dalam satu atap. Dan ini merupakan proses imigrasi dan custom tercepat selama di Afrika, bagaimana tidak karena untuk orang Indonesia mendapat free visa masuk Rwanda dan motor saya hanya cap dan ambil voucher carnet, selesai dan langsung gas!

Beberapa km pertama riding di Rwanda saya sudah bisa merasakan perbedaan dengan negara sebelumnya. Terlihat mulai ramai warga lalu lalang dengan sepeda dan sepeda motor. Maka kecepatan berkendara di pemukiman dibatasi 40 km/jam sedangkan jalan raya 80 km/jam. Jalannya banyak kelokan , tanjakan dan turunan.

Landscape disini memang daerah pegunungan makanya Rwanda dijuluki negeri seribu bukit. Warganya ramah dan bersahabat. Bahasa yang dipakai di Rwanda adalah Bahasa Inggris, Perancis dan Kinyarwanda. ketika sedang rehat di pom bensin salah satu kota kecil sebelah Timur Rwanda, aetiap orang yang lewat suka menyapa dan murah senyum termasuk anak-anak yang baru pulang sekolah melihat motor dan saya bagaikan hiburan tersendiri karena penasaran dengan bentuk motor yang beda dengan biasanya dan pakaian berkendara lengkap dari atas sampai bawah.

Perjalanan menuju Kigali ibu kota Rwanda memang asik, jalanan mulus penuh kelokan, melihat pedesaan dan warga yang lalu lalang di pinggir jalan tak ada habisnya, belum lagi motor taksi (Boda Boda) lalu lalang.

Sampai di Kigali saya menyempatkan untuk nongkrong di sebuah kafe pusat kota. Dengan populasi sekitar 11,2 juta orang memang terlihat padat untuk negara kecil seperti Rwanda ini namun jangan heran kalau negara ini sangat bersih, penggunaan tas plastik dilarang dan recycle paper bag sebagai penggantinya. Suasana kota yang adem dan aman, ya sangat aman disini, saya bisa pastikan karena saya parkir motor diluar dengan sidebags masih melekat di motor dan motor tidak dikunci kemudi aman-aman saja.

Perjalanan dilanjutkan ke arah barat hingga Danau Kivu. Ini menjadi tempat terindah yang pernah saya kunjungi. Melihat danau yang luas dan bersih dikelilingi perbukitan hijau dan sejuk, berada pada ketinggian sekitar 1.400 Mdpl memang bikin betah. Rwanda menjadi negara favorit selama petualangan Wheel Story di Afrika saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *