Wheel Story Season 5: Mengintip Gereja Tua Dari Abad Ke-12 Di Ethiopia

Kisah perjalanan Mario Iroth dalam Wheel Story 5 kali ini masih seputar Ethiopia. Untuk kali ini, Mario akan menceritakan perjalanannya di Lalibela, Ethiopia yang telah menempuh jarak total 21.752 klimeter di hari ke 165. Berikut kisahnya:

Pagi itu KBRI Addis Ababa menjadi ramai, Staff KBRI Addis Ababa bersama warga Indonesia di Ethiopia memadati halaman depan kantor KBRI, Duta Besar Indonesia untuk Ethiopia merangkap Djibouti & African Union, Bapak Imam Santoso dan staff KBRI Addis Ababa turut melepas keberangkatan kami menuju bagian utara Ethiopia dan nantinya akan ke Sudan.

Kita berhasil keluar dari hiruk pikuk kota Addis Ababa, melihat aspal mulus dengan pemandangan tanah lapang dan pedesaan membuat saya lega memacu motor, melewati jalanan nanjak berkelok manis, membawa kami masuk ke kabut tebal hingga ketinggian 3.200 mdpl, sangat dingin dan misterius, serasa riding masuk ke awan.

Di ujung jalan terlihat tebing hijau setelah masuk 3 kali terowongan. Daratan luas menunggu di seberang. Lambaian tangan warga local dan anak-anak serta kerbau dan kambing yang bikin macet dengan suasana pedesaan dan mobil tua, seolah masuk kembali ke mesin waktu. Warga disini sangat ramah hingga sore menjelang kami bermalam di Dessie.

Pagi yang cerah, mentari bersinar hangat kami kembali riding menuju utara, kali ini jalan membawa kami hingga ketinggian 3480 mdpl, oksigen menipis dan dingin hingga hujan es terjadi di beberapa km kedepan. Orang disini sudah biasa akan kondisi ini. Kami terus bergerak hingga jalan berubah menjadi gravel dengan hamparan pegunungan gersang dan bebatuan terlihat tanpa batas. Tibalah kami di Lalibela, kota yang menyimpan sejarah hampir 1 milenium.

Tiba di Lalibela, kami melusuri gereja dari abad 12, yang terbuat dari pahatan batu besar dari atas ke bawah. Gereja ini sangat unik hingga apa yang kami saksikan seperti membawa kembali pada masa itu. Sungguh luar biasa, terlihat ratusan pemeluk Kristen Ortodoks tak henti-hentinya beribadah di setiap gereja kompleks ini.

Sesekali kami masuk ke goa untuk menuju gereja lainnya, dan melihat lukisan berabad-abad lamanya hampir di tiap pilar dan langit-langit gereja. Salah satu yang menarik adalah gereja St.George dengan arsitektur yang kokoh dan utuh dari atas hingga ke bawah. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *