Edi Sudarmadi: Napak Tilas Jalur Sutra Menuju Mekkah

IMG-20141006-WA0001

Beberapa orang menjadikan hobi mereka sebagai pekerjaan, sebagian lagi tetap menjaganya sebagai hobi. Edi Sudarmadi menyalurkan hobinya sekaligus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan menyusuri jalan sutra yang digunakan oleh para pedagang dan alim ulama menyebarkan agama Islam ke Asia.

Siang hari di Jakarta yang cerah ia duduk bersama Elsid Arendra dan menceritakan pengalaman berharga itu dan berikut ini adalah ceritanya:

Awal tahun 2014, Edi mendapat kabar dari teman-temannya di Malaysia bahwa mereka akan berangkat menuju Mekkah, Arab Saudi untuk menunaikan ibadah umroh menggunakan sepeda motor menelusuri jalan sutra.

Sebuah kabar yang sudah lama ia tunggu, Edi tak berpikir lama untuk menyatakan bergabung. Setelah melalui beberapa tahap komunikasi dan terbang ke Kuala Lumpur untuk rapat dan perencanaan, akhirnya impian Edi segera menjadi nyata.

Berangkat dari Kuala Lumpur dengan total dua belas orang, 8 pengendara dan 4 orang tim pendukung di dalam satu mobil dengan perlengkapan. Meninggalkan Malaysia, mereka menuju Thailand, Laos hingga China.

Berkendara melintasi China selama 25 hari, masuk dari Mengla dan keluar di Kashgar, Edi merasa takjub dengan infrastruktur yang bagus dan luasnya wilayah negeri tirai bambu itu.

Bisa dibilang hampir tidak ada orang yang membuang sampah sembarangan dan semuanya diatur sedemikian rupa untuk kenyamanan warganya. Limbah dikelola dengan baik dan tanaman dirawat dengan seksama.

“Saya sampai kangen ingin buang air di semak-semak seperti yang biasa kita lakukan di Indonesia. Tetapi ada seorang laki-laki tua yang memanggil saya dan menawarkan toiletnya. Di China, nggak bisa kami buang air di sungai, sungai di sana jernih. Bila kami ingin buang air, penduduk setempat menawarkan toilet mereka untuk kami pakai. Dan mereka juga senang karena mereka mendapatkan limbah yang bermanfaat, belakangan saya baru tahu kalau limbah manusia dicampur dengan kotoran hewan dan dijadikan pupuk. Saya makin kagum, pemerintah di sana sangat peduli dan memanfaatkan apa yang bisa digunakan. Tapi di pedalaman, sayangnya mereka tidak menyediakan air di toilet untuk membasuh, berbeda bila di kota besar atau hotel.” ujar Edi setengah tertawa.

Sebagai orang yang bekerja di bidang transportasi darat, konstruksi dan infrastruktur, Edi benar-benar takjub.

“Mereka menggunakan semua energi terbarukan untuk membangkitkan listrik. Mereka mengelola air dan limbah dengan sangat baik. Saya lihat satu jalur air bisa dibangun beberapa pembangkit. Mereka membangun pembangkit listrik dari berbagai macam sumber energi, air, matahari dan angin. Jadi bila nabi kami menghimbau belajarlah sampai ke negeri China, saya membuktikannya sekarang.”

“Di China, kami berkendara ribuan kilometer dan berjumpa warga China dari berbagai suku. Mulai dari yang benar-benar seperti warga China kebanyakan, berkulit kuning dan bermata sipit hingga warga China yang berhidung mancung dan bermata biru. Ternyata negeri ini juga heterogen.” Edi tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Di kota-kota di China bagian barat, kami mulai lebih mudah menemukan masjid. Dan makanan halal tidak sesulit yang kami bayangkan sebelumnya.” kata Edi. “Kalau sampai nggak ketemu makanan halal, kami memasak sendiri di hotel.”

Dari badai ke badai

Selepas kota Xining, di China tengah sebelum gurun Gobi, rombongan mereka terjebak di badai salju yang datang tiba-tiba dengan suhu minus 16 derajat Celcius. Mereka tetap berjalan sampai di sebuah puncak di ketinggian 3300m dpl. Mereka berlindung di terowongan jalan raya ketika badai itu memburuk. Setelah badai reda mereka melanjutkan perjalanan menuju Kashgar, China barat.

Memasuki Kyrgyzstan di sana telah menunggu seorang pemandu yang datang dari ibu kota Kyrgyzstan. Semua kendaraan dan barang bawaan diperiksa dengan seksama oleh penjaga perbatasan. Bahkan sampai laptop dan memory card semua diperiksa. Di perbatasan itu mereka sudah diwanti-wanti oleh penjaga perbatasan bahwa di pegunungan Pamir terjadi badai salju. Timbunan salju sudah mencapai satu meter di jalan raya. Sepertinya tidak mungkin kalian bisa meneruskan perjalanan dalam cuaca seperti itu, ujar penjaga perbatasan.

Pukul 3 sore dari perbatasan, mereka tetap bertekad melanjutkan perjalanan dengan mobil di posisi paling belakang. Baru berkendara sejauh 50km dari perbatasan, mereka terjebak badai salju yang sangat hebat dan di ketinggian 4000m dpl dengan cuaca yang semakin gelap karena malam tiba. Pakaian yang mereka kenakan pada saat itu hanya riding gear yang tidak dirancang untuk cuaca sangat dingin.

Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Sepeda motor diparkir begitu saja di pinggir jalan, semua pengendaranya dievakuasi menuju desa terdekat menggunakan mobil 4×4 milik penduduk setempat. Di desa itu seluruh tim ditampung di sebuah rumah milik seorang single parent dan dua orang anaknya. Lengkap dengan penghangat, mereka disajikan makanan dan tempat tidur yang layak.

Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan dengan motor yang diangkut menggunakan truk karena kondisi jalan yang licin karena es dan sangat berbahaya. Setelah melewati area yang rawan sejauh hampir 100km, mereka meneruskan perjalanan dengan kembali di atas sadel.

Selepas Kyrgyzstan, mereka masuk ke Uzbekistan dan melalui prosedur di perbatasan yang lebih lama dan rumit. Mereka tiba di perbatasan pukul 9 pagi, dan melalui semua proses pemeriksaan dan wawancara hingga pukul 4 sore. Selepas perbatasan mereka menuju Tashkent, ibu kota Uzbekistan.

Di sana Edi berkunjung ke kedutaan besar Republik Indonesia. Di sela perbincangan dan ramah tamah, petugas di kedutaan RI bertanya kepada Edi, “Untuk menuju Mekkah, kalian akan mengambil jalur mana? Tidak mungkin kalau kalian melewati Iran dan Iraq. Di sana sedang terjadi konflik dan akan sangat berbahaya.

Tanpa bermaksud takabur, mereka menampung dulu saran dari staf kedutaan RI itu. Setelah berdiskusi, mereka memutuskan untuk menempuh rute lain melambung jauh ke utara melalui Kazakhstan, Rusia, Georgia dan masuk ke Turki dari utara.

Kode etik penjelajah dunia

Selama perjalanan menuju Rusia, perjalanan itu hampir saja batal dan terancam gagal. Selama puluhan hari, keduabelas orang itu selalu berinteraksi dan dalam berbagai situasi. Beberapa anggota ekspedisi mulai jenuh dan munculah suasana yang kurang enak, satu sama lain berselisih dan perjalanan hampir terhenti di tengah jalan.

Di sinilah dibutuhkan sebuah leadership yang kuat dan bersifat mengayomi. Edi dan beberapa anggota senior mencoba mencairkan suasana sedikit demi sedikit, mencoba menyatukan kembali semangat yang mulai luntur dan memberikan dorongan bahwa bila perjalanan ini berhasil, orang akan mendengar dan reputasi tim akan dikenal. Setelah melalui berbagai dialog, sedikit demi sedikit semangat seluruh tim mulai terbangun kembali.

Di Rusia, mereka sudah disambut oleh seorang penggemar olahraga off-road roda empat yang juga mempunyai sepeda motor. Di sinilah nilai kebersamaan antara bikers dan para penjelajah dunia mulai nyata. Walaupun sebelumnya Edi dan rombongan bertemu dengan beberapa biker yang menjelajah dunia, tetapi interaksi yang terjadi hanya sekedarnya dan tidak terlalu intens.

Oleh teman baru dari Rusia itu, rombongan diajak menuju ke basement sebuah kompleks apartemen. Di sana terdapat workshop yang lumayan besar dan menjadi ajang kumpul para pengendara dan off-roader dari seluruh dunia.

“Kami punya semua peralatan yang kalian butuhkan untuk memperbaiki motor dan mobil Anda, silakan dipakai sesuai keperluan kalian,” sambut orang Rusia yang fasih berbahasa Inggris itu.

Walaupun baru bertemu, suasana kekeluargaan sangatlah kental di basemen itu. Hal yang sama juga dilakukan Edi di kota tempat tinggalnya, Banjarmasin. Melalui pertemanannya di dunia bikers, Edi direkomendasikan oleh teman-temannya di luar negeri kepada penjelajah dunia yang berkunjung ke Kalimantan untuk bertemu Edi dan setidaknya, makan di rumah Edi. Begitulah kode etik para petualang dunia dibangun dan menjadi sebuah jaringan secara tidak langsung.

Setelah melewati sedikit bagian dari Rusia, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Turki. Dari Rusia menuju Turki perjalanan relatif lancar dan tidak ada hambatan yang berarti. Hal itu menjadi buah dari usaha Edi dan beberapa anggota tim senior lainnya yang berusaha membangun “chemistry” dan semangat kebersamaan di dalam tim.

Di Turki sebuah persoalan baru muncul. Edi sebagai satu-satunya warga negara Indonesia–– anggota tim lainnya berkewarganegaraan Malaysia– belum mendapatkan visa untuk bisa masuk ke Mesir.

Antara Mesir dengan Malaysia sudah terjalin kerjasama bebas visa untuk warga negara kedua negara itu, tetapi tidak untuk warga negara Indonesia. Sempat muncul ide supaya Edi berkendara seorang diri melalui Iran dan masuk ke Arab Saudi menyeberang melalui Bahrain.

Akhirnya ide itu dibatalkan walaupun Edi sudah menyanggupi. Tetapi mayoritas anggota tim tidak setuju karena setelah sekian lama bersama-sama, Edi harus terpisah setelah hampir mencapai tujuan. Diputuskan Edi tetap bersama rombongan dan berupaya mendapatkan visa on arrival.

Tiba di Mesir melalui laut dari Turki, rombongan menunggu sepeda motor mereka dibongkar, di sebuah pelabuhan dekat Alexandria. Sambil menunggu, Edi mencari toilet di pelabuhan itu. Tak sengaja ia melihat sebuah loket kecil di lorong menuju toilet. Edi bertanya loket apakah ini, dan dijawab petugas di dalamnya bahwa ini loket untuk pengajuan visa.

Tak berpikir panjang Edi segera memproses visa masuk untuk dirinya dan segera membayar hanya $7 saja. Dalam hati Edi bersyukur bahwa perjalanan menuju tanah suci ini seperti dimudahkan oleh Yang Maha Kuasa, lepas dari segala rintangan yang terjadi, semuanya bisa diatasi.

Rekan-rekan Edi, bikers dari Malaysia heran dengan senyum simpul di wajahnya. “Bagaimana, Anda jadi meneruskan perjalanan bersama kami masuk Mesir? Boleh kita temani mengurus visa.”

Langsung saja Edi menunjukkan visa yang ia peroleh secara singkat dan murah. Kelegaan menyelimuti seluruh rombongan. Akhirnya mereka menginap di Alexandria sambil mempersiapkan segala keperluan untuk melanjutkan perjalanan menuju Yordania dan akhirnya masuk ke Madinah dan selanjutnya Mekkah.

Berkendara diawasi sniper

Dari Alexandria, Edi dan teman-temannya berkendara menuju Kairo, sepanjang jalan masih terlihat banyak tentara berjaga-jaga mengingat Mesir masih dalam kondisi politik yang belum stabil. Tak banyak halangan yang mereka temui hingga akhirnya mereka mencapai terowongan di terusan Suez.

Setelah melewati prosedur standard dan pemeriksaan, mereka memasuki terowongan yang dijaga ketat oleh tentara Mesir dan juga tentara dari beberapa negara lain. Yang lebih menakjubkan adalah ketika rombongan menyadari bahwa mereka berkendara sambil diawasi oleh para sniper.

Lepas dari terusan Suez, mereka mengambil jalur sedikit memutar, yakni memasuki wilayah Yordania. Bermalam di Amman, mereka beramah tamah dengan kedutaan negara masing-masing dan tak lupa berkunjung ke Petra, kawasan wisata bersejarah yang terkenal. Tak berlarut-larut dalam kegembiraan berwisata, rombongan kembali melanjutkan ke tujuan utama, tanah suci di Mekkah.

Edi dan teman-temannya kembali berkendara melalui medan yang relative mudah, jalan raya yang panjang, lebar dan sangat bagus. Menempuh jarak hampir sekitar 800km, mereka tiba di Medinah dalam waktu kurang dari 7 jam.

Di Medinah inilah perjalanan Edi dengan sepeda motor berakhir. Mereka tidak dianjurkan berkendara dengan sepeda motor menuju Mekkah dikarenakan lahan parkir yang sulit untuk sepeda motor. Dari Petra menuju Medinah itulah niat Edi untuk menjejakkan kakinya di padang pasir terwujud.

Semuanya berawal ketika Edi melakukan ibadah haji sekian tahun sebelumnya. Kebetulan duduk di dekat jendela pesawat, ia bertanya-tanya dalam hati ketika melihat hamparan padang pasir tandus ribuan meter di bawahnya.

“Apa ya yang ada di sana? Bagaimana manusia bisa hidup dan bertahan dalam kondisi seperti itu? Kalau di jaman nabi, para penyebar agama dan pedagang mampu menyeberangi ribuan kilometer padang pasir itu, masa saya nggak bisa kalau naik motor.” Gumam Edi.

Dan kini tunai sudah niat Edi itu berkat pertemanan di kalangan biker internasional dan juga tentunya di atas semua itu adalah restu dan perlindungan dari Allah Swt yang mengijinkan anak manusia menapakkan kaki kecilnya di serambi tanah suci.

CATATAN REDAKSI:

1. Nama lengkap rider: Edi Sudarmadi
2. Asal propinisi: Kalimantan Tengah, kota Banjarmasin
3. Usia: 47 Tahun
4. Masa waktu perjalanan turing: kurang lebih 3 bulan.
5. Jarak yang ditempuh: kurang lebih 14.000km
6. Jumlah negara yang diliewati: 12 Negara
7. Spek motor yang digunakan: BMW R1200GS Tahun 2013.
8. Group riders: Total 12 peserta,  11 orang dari Malaysia, dan Edi Sudarmadi satu-satunya dari Indonesia

ALBUM PHOTO

8 thoughts on “Edi Sudarmadi: Napak Tilas Jalur Sutra Menuju Mekkah

  1. selamat buat bro edi dan rombongan, perjuangan berhasil.

  2. Kalau sy sbg teman sekolah Edi tentunya merasa bangga adan salut atas prestasi dan perjuangan yang dilakukannya, jadi tidak heran ketika masih sekolah dulu Edi ini memang pengendara sepeda motor tangguh bahkan sempat “dihantam” kecelakaan sehingga kakai atau pahannya sempat patah saat itu. Bravo Edi Harmadji…

  3. Rudiansyah says:

    Mantap perjuangannya brooo…
    Terinspirasiii sekali…
    Selamat pagi atas perjuangannya…

  4. Rudiansyah says:

    Gan mau tanya…
    Kalo spek motor yang bisa di pake ke Mekkah kira2 minimal motor kaya apa yah?
    Trimakasih

  5. luar biasa….

  6. Zaki Bijak says:

    doakan misi sy berjaya pada bulan mac tahun depan… hitch mengelilingi dunia… dan matlamat utama untuk pergi ke mekah buat umrah selepas itu baru sambung perjalanan mengelilingi dunia.. #ZAkiBijak #CancerFighterMalaysia #CancerBukanTiketUntukMati #MisiJelajahDunia

  7. Kisah nya buat saya melting om.. ?, insyaallah, doakan saya untuk sebagai penerus bangsa membuka rute jalur touring indonesia – tanah suci, insyaallah om.. Insyaallah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *