Day 1: Central Java Tour bersama Inazuma GW250

20150122_060319

Motobikerz.com kembali jalankan touring yang kedua di bulan Januari 2015 bersama Suzuki Inazuma GW250, dimana touring ini dinamakan “Central Java Tour” dengan tujuan utama menghadiri Munas ION (Inazuma Owner Network) pada hari Sabtu, 24/1/15 di Yogyakarta. Ya.. mumpung lagi ada Munas ION, maka pada kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh Motobikerz untuk keliling seputar Jawa Tengah antara 22-25 Januari 2015.

Motobikerz memilih rute perjalanan antara lain Jakarta – Cirebon – Dieng (nginap) – Borobudur – Jogjakarta (nginap 2 malam) – Baturaden (nginap) – Tasikmalaya – Bandung dan kembali ke Jakarta via Puncak dan Bogor.

Karena rutenya akan agak “kesana-kemari” selama di Jawa Tengah, maka Motobikerz.com lebih memilih “Solo Riding” dan hari keberangkatan dipilih pada Kamis, 22/1 pukul 06.00 pagi dari Kalimalang Jakarta Timur.

Oops.. ternyata dari pertemuan kopdar dengan anak-anak ION yang berlokasi Warung Barokah Otista, Jakarta pada Jumat 16/1 baru diketahui ada juga anak-anak ION yang akan berangkat pada Kamis pagi, 22/1 antara lain Bro Johan Heru (PIC), Al Ibrahim dan Andhika bersama istri boncenger ikut serta. Singkat cerita Motobikerz akhirnya menyatakan ikut bersedia bergabung dengan grup Johan Heru namun dengan catatan “Solo Riding” tetap berlaku bilamana diperlukan.

20150122_075502

Sebagai persiapan touring, maka motor Inazuma yang dipakai Motobikerz.com dilengkapi dengan Top Box model SHAD48, Bracket HRWR dari Baychii Shop (Mas Bayu Saputra), Drybag Duffle merek 7GEAR, dan TankBag Patrol merek 7GEAR. Sedangkan jaket touring yang dipakai adalah merek AIAM Gear warna merah dengan paduan celana touring warna hitam. Jaket dan celana turing ini diproduksi oleh Bang Irfan Arifahni

Pada Top Box SHAD48 diisi dengan peralatan kamera, tripod, sendal, kotak P3K, tas pengait, botol minuman, makanan ringan, jas hujan, dan segala keperluan yang sifatnya mudah diambil dan mudah disimpan dengan cepat. Sedangkan laptop, baju bersih, jaket cadangan, baju dalam, dan lain-lain semuanya disimpan pada tas parasut dan dimasukkan ke DryBag Duffle merek 7Gear berwarna merah. DryBag Duffle ini ditaruh pada jok belakang dan dikaitkan dengan Cargo Net dimana setiap ujungnya dikaitkan ke bracket.

Bicara soal persiapan sepeda motor Inazuma, tidak ada yang spesial karena semuanya adalah standard pabrik, bahkan oli mesinnya masih menggunakan merek Suzuki. Mesinnya sendiri tidak mengalami ubahan, settingan standard, maupun body, rantai, shock, kenalpot semuanya masih bawaan standard pabrik.

Jika dilihat ada pemasangan Engine Guard, maka hal ini semata-mata dipasang hanya untuk keperluan meletakkan lampu tambahan, yaitu lampu kabut. Bahkan lampu kabut ini tidak berfungsi karena baut-bautnya yang mengikat di engine guard sudah keburu copot/lepas ketika masih melintas kawasan Kalimalang.

Kamis,22/1/15

Start dari markas di Cinere Depok pukul 05.00 sudah turun hujan cukup deras, keluarga yang melepas rasanya tidak tega melihat keberangkatan Motobikerz untuk menjalankan touring ini karena baru mau berangkat di pagi hari sudah dengan diguyur hujan.

Turing Central Java Tour harus tetap jalan. dan Motobikerz sudah siap dengan jaket turing A1AM Gear warna merah. Saat melintas Jl. MT Haryono, motor diarahkan dulu ke SPBU untuk isi bensin pertamax full tank. Sebagai catatan bahwa kapasitas maximum tangki BBM Inazuma adalah 13.2 liter.

 

20150122_062432

Udara dingin mengantarkan Motobikerz.com tiba di tikum keberangkatan tepatnya di depan KFC Kalimalang Jaktim sekitar jam 06.00. Disana telah hadir Bro Johan Heru selaku PIC dengan motor Inazuma-nya berwarna hitam plus sepasang side box E21.

Sejenak Motobikerz minum kopi dan roti manis dari sebuah warung sambil menunggu rekan-rekan yang lain. Tak berapa lama Bro Al-ibrahim tiba dengan Inazuma warna merah dilengkapi dengan sepasang side box V35, dan kami bertiga langsung meluncur ke Bekasi untuk bertemu dengan Bro Andhika di sebuah SPBU Pertamina.Tak lama hadir Bro Andhika hadir bersama boncenger alias istrinya dengan Inazuma warna hitam lengkap dengan Top Box SHAD 39 dan side box E21.

Sekitar pukul 7.30 dengan hujan rintik-rintik rombongan kecil ini lebih dulu berdoa dan pengarahan disampaikan oleh PIC untuk konfirmasi siapa yang didepan dan siapa yang belakang, juga penetapan jam istrirahat untuk sarapan pagi yang disepakati di Cikampek sebagai perhentian berikutnya. Bro Johan Heru akan berada didepan selama perjalanan, sementara Motobikerz.com berada di paling belakang. Grup ini sepakat untuk tidak menggunakan “kode-kode” turing seperti angkat kaki, dan sebagainya karena motonya santai dan wisata.

Perjalanan bersama grup akhirnya dimulai, dan Motobikerz yang berada di urutan paling belakang hanya ikut saja kemana arahnya. Rute Kalimalang ini akhirnya ditempuh sampai benar-benar habis “Kali Malang-nya”. Menjelang habisnya Kalimalang, mungkin sudah di sekitar Karawang, jalan semakin rusak parah yang menyebabkan pelat nomor depan milik Motobikerz tercecer alias lepas dan jatuh.

Pelat nomor dipungut dulu, dan disimpan di dalam box, karena untuk pemasangan akan dilakukan saat istirahat. Sementara motor lagi menepi, seorang tukang bakso bertanya kepada Motobikerz, “Mas ini mau emangnya mau kemana?”

Dijawab singkat oleh Motobikerz, “Saya ngikut teman-teman mau ke Cirebon lewat Cikampek”. Tukang Bakso malah nyambung percakapan, “Lewat sini mah bakal tambah jauh? Kenapa tadi dipersimpangan ngga belok kiri aja.. kan tadi bisa langsung ke jalan raya Cikampek? Disana jalannya lebih bagus dan lebih cepat sampai tujuan ke Cikampek!

“Walah..saya sih ngikut aja mas.. mungkin mereka didepan lagi nungguin saya gara-gara pelat nomor ini lepas,” ujar Motobikerz sambil bartanya dalam hati benar ngga sih nih jalan Kalimalang sebagai jalan yang lebih cepat, lebih bagus, lebih lancar dari pada jalan raya Tambun Karawang Cikampek?

Akhirnya perjalanan tetap diteruskan, dan Motobikerz pun tak segan untuk minta petunjuk ke Tukang Bakso apa saja yang jadi patokan kalau jalan ini diteruskan, dan katanya antara lain nanti temui dulu jembatan gantung lalu belok kiri, lalu temui jembatan tua lalu langsung belok kanan, terus saja sampai ketemu rel KA dan seterusnya hingga sampai ke Mal Cikampek.

Nah.. singkat cerita akhirnya Motobikerz sudah sampai disekitar Mall Cikampek pukul 10.00 sambil diguyur hujan deras, dan tak lama kemudian berhenti di Kedai Soto Kedai Baru dengan lokasi “sebelum fly over Jomin, Cikampek”. Motor Inazuma pun rela parkir di bahu jalan dengan maksud jika teman-teman masih ada dibelakang bisa melihat dengan jelas.

20150122_104459

Sementara sambil makan soto khas Cikampek, Motobikerz tetap menghubungi rekan-rekan, via WA Group dan pada pukul 10.34 ternyata mereka juga lagi makan di Warung Sate Pemalang yang katanya lokasinya “setelah fly over Jomin”. Ya ngga apa-apa sih.. nantinya juga Motobikerz akan menyusul kesana, artinya teman-teman sudah berada didepan.

Selang 45 menit setelah istirahat makan soto dan sesi foto, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Motobikerz kudud jalan pelan-pelan untuk menyusul teman-teman yang katanya ada di warung sate Pemalang tidak jauh dari fly over Jomin.

Oopps.. tak terasa sudah 2 KM lebih setelah melewati fly over Jomin dan sudah melewati 2 buah SPBU.. koq warung sate yang dicari tidak ditemukan. Pukul 11.00 Motobikerz berkirim berita lewat WA dan mengatakan posisi saat ini sudah menjelang pantura. Mungkin saja warung satenya kelewatan, maka Motobikerz bersedia menunggu 30 menit di SPBU kedua setelah Jomin.

Pukul 11.30 kembali Motobikerz berkomunikasi lewat WA Group untuk mengatakan untuk ketemu di Cirebon saja. Dari sini Motobikerz “Solo Riding” dan kota Cirebon adalah titik perhentian berikutnya, yang direncanakan makan siang di Suzuki Kesambi Cirebon, karena memang sudah ditunggu oleh teman-teman ION Cirebon.

Jalur pantura dilibas dengan full speed. Tak disangka, Motobikerz sempat melirik speedometer pada angka 125-126 km/jam, selebihnya Motobikerz tidak berani lagi melihat speedomoter karena mata harus tetap fokus kedepan sambil menikmati kenyamanan turing full speed. Tak heran karena Inazuma memang sebuah motor berkarakter turing dengan kecepatan tinggi.

Secara rata-rata dalam kondisi jalan pantura yang aman dan lurus walaupun ada lobang-lobang, tapi motor Inazuma tetap bisa dipacu Motobikerz antara 80-120 km/jam, dan bagusnya pada gigi enam, putaran gas diatas masih bisa diplintir lagi untuk menambah kecepatan dengan akseleras yang cepat. Dua kata untuk Inazuma di trek lurus..mantap dan stabil! Ini membuat Motobikerz tetap betah, nyaman dalam berkendara untuk jarak jauh.

Tak terasa pertigaan Indramayu – Cirebon sudah ada didepan mata, dan Motobikerz langsung belok kanan menempuh jalur Jatibarang- Palimanan – Cirebon. Lagi asyik-asyiknya full speed di jalur Jatibarang – Palimanan ini, sosok biker Johan Heru mulai terlihat. Tapi kenapa dia sendiri saja? Kemana dua biker yang lain? Mungkin yang dua lagi tancap gas meninggalkan Johan Heru.

Setelah menyapa Johan Heru, Motobikerz terus melanjutkan perjalanan, dan di sekitar Palimanan ada pemeriksaan polisi. Kami berdua menepi dan berhenti sejenak, kelengkapan surat-surat STNK dan SIM pun diperika. Polisi juga pun menanyakan dimana pelat nomor polisi depan dan inipun dengan mudah dijelaskan, bahwa pelat nomor depan sempat lepas dari dudukannya, dan ini belum sempat dipasang.

“Nih pak.. pelat nomornya saya simpan dulu di dalam box.. saya memang belum sempat pasang lagi, nanti di bengkel Suzuki Cirebon pasti akan dipasang kembali.. aman ya pak?” kata Motobikerz sambil membuka box dan menunjukkan pelat nomornya. Akhirnya perjalanan Motobikerz bersama Johan Heru bisa dilanjutkan kembali.

Tiba di Indomart Pringsewu Cirebon telah menunggu Bro Al Ibrahim, sementara sosok Bro Andhika katanya sudah melaju lebih dulu dan perihal istirahat makan siang sudah disepakati di bengkel dealer Suzuki Kesambi Cirebon, dijamu oleh Pak Lingga pemilik dealer sekaligus sebagai Ketua Umum ION sebelum Munas Jogja.

20150122_151254

Pukul 13,30 Motobikerz bersama rombongan tiba di Dealer Suzuki Kesambi, dan disana sekaligus pasang kembali pelat nomor depan yang dilakukan oleh para mekanik Suzuki Kesambi Cirebon. Makan siang khas Cirebon berupa nasi jamblang sangat terasa nikmatnya, apalagi langsung dijamu oleh Ketua Umum ION Bapak Lingga, dan juga Bro Arief dari ION Cirebon.

Usai foto bersama di depan Suzuki Kesambi Cirebon, sekitar pukul 15.15 rombongan 4 bikerz kembali melanjutkan perjalanan dengan tujuan kawasan wisata Dieng. Dari obrolan sebelumnya dengan Pak Lingga dan Bro Arief saat makan siang di Cirebon, ada saran agar menempuh jalur Dieng via Pemalang. Lalu Motobikerz mengisi bensin premium secara full tank di SPBU Kalijaga Cirebon dengan jumlah 8.2 liter.

Pada perjalanan menuju Pemalang sekitar pukul 17.15 rombongan istirahat dan sholat di salah satu SPBU. Disini rombongan sempat berfoto bersama sebelum perjalanan di lanjutkan ke arah Batang.

20150122_170810

Menjelang maghrib pukul 18.00 rombongan sudah masuk di Pemalang untuk selanjutnya akan mengarah ke Dieng.

Sejenak dipelintasan rel KA Pemalang saat menunggu pintu rel kereta dibuka, Motobikerz membuka Google Maps via HP Samsung. Wah.. ternyata jalur Pemalang ke Dieng sejauh 114 KM sangat berliku-liku apalagi dimalam hari pasti sangat berat. Setelah berdiskusi dengan Bro Johan Heru, akhirnya dipilih jalur via Pekalongan – Batang dan nantinya terus ke Dieng yang menurut gambar Google Map jalur ini tidak terlalu berliku-liku bahkan jaraknya dari Pemalang – Batang – Dieng tertulis 104 KM.

Rombongan langsung balik badan dan kini menuju Pekalongan sejauh 100 KM. Tiba di Kota Pekalongan sekitar pukul 19.00 dan terjadi kemacetan. Selap selip kemacetan di Pekalongan membuat Motobikerz terpisah dengan rombongan, dan Motobikerz percaya bahwa kali ini berada didepan rombongan,. Berjalan pelan dan dua kali berhenti.. menunggu kehadiran rombongan tak kunjung tiba.

Saat-saat sudah mulai menjauh dari Kota Pekalongan turun hujan deras, dan Motobikerz melihat arloji yang menunjukkan sudah pukul 19.30 dan ini saatnya yang tepat untuk makan malam di sebuah warung Nasi Rawon sambil menantikan rombongan lewat.

Baru saja membuka jaket dan duduk, tiba-tiba terdengar suara rombongan motor yang tertinggal di Pekalongan tadi sedang melewati warung tempat Motobikerz sedang berhenti. Motobikerz hanya bisa berteriak. woi… makan dulu disini. Tapi rombongan ini terus meluncur. Setau Motobikerz, Bro Johan Heru mendengar dan mengetahui keberadaan Inazuma Merah milik Motobikerz yang sedang parkir di pinggir jalan.

Kebetulan di warung Nasi Rawon itu ada seorang pria yang juga baru saja turun dari motor skutik Honda Beat dan membuka jaketnya karena hujan deras. Ternyata pria ini sejak dari pantura sudah mengamati rombongan Motobikerz dan iapun banyak bertanya tentang tujuan, dan misi dari turing Motobikerz. Juga ia bertanya banyak soal Suzuki Inazuma GW250 yang baru pertama kali dilihat.

Sambil menikmati Nasi Rawon komplit ditambah telur asin, Motobikerz meninggalkan pesan di WA Grup dengan status “sedang makan Nasi Rawon di warung” dan ketemunya di persimpangan Batang – Dieng saja. harap kita saling menunggu di sudut jalan sebelum terus ke Dieng.

Dalam obrolan dengan pria di warung Nasi Rawon, karena ini sudah malam hari maka disarankan agar tujuan ke Dieng lewat jalur Weleri saja terus ke Ngadirejo – Parakan – Wonosobo – Dieng. Melalui rute ini lebih aman, jalan lebih besar dan bisa sampai Dieng sekitar pukul 24.00. Waw.. apakah rombongan benar kuat ke Dieng jalan malam hingga pukul 24.00? Entahlah..

Mengingat waktu bergulir terus, akhirnya warung Nasi Rawon harus ditinggalkan, Motobikerz dengan senang hati membayar makan malam pria tadi yang sudah bersedia menemani dan ngrobrol sekaligus memberikan banyak informasi tentang rute tujuan Dieng.

Motobikerz langsung tancap gas menyusul teman-teman yang sudah berada di depan. Tadi disebutkan bahwa titik pertemuan berikutnya adalah Batang dan persimpangan ke Dieng. Apa yang terjadi, tidab-tiba Motobikerz sudah sampai di Alas Roban, dan disana kembali berkomunikasi via HP dengan Bro Johan Heru.

“Bro.. kami puter balik 5 KM dari tikungan titik pertemuan simpang Batang – Dieng itu. Hari sudah malam jadi kita nginap dulu di Hotel Ratih Dewi Kota Pekalongan seberang pom bensin,” ujar Bro Johan via HP.

“Yah.. gw sudah di Alas Roban bro,” jawab Motobikerz. “Gw terusin aja ya.. gw ambil jalur via Weleri Parakan Wonosobo dan nanti kita ketemu di Dieng,” lanjut Motobikerz. Pasalnya jarak antara Alas Roban dengan Batang sejauh 30 KM dan rasanya malas banget untuk kembali.

Singkat cerita Solo Riding lagi harus dijalankan Motobikerz dari Alas Roban terus ke Weleri belok kanan arah Ngadirejo (60 KM) melewati jalur sepi, tanjakan, dan turunan. Pada pukul 20.30 Motobikerz kembali isi bensin pertamax full tank 6.2 liter, dan membeli minuman di Indomart tepatnya di Jl. Raya Sumber Sukerejo Kendal. Selama di parkiran, kembali Inazuma menjadi perhatian warga dengan pertanyaan, “Ini motor apa?”

Perjalanan solo riding di malam hari terus berlanjut, melewati kota Ngadirejo, kemudian sampai di Kota Parakan sudah pukul 21.30. Selama di kota Parakan, Motobikerz berjalan pelan dan bertanya kepada warga apakah ada hotel disini, jawabannya tidak ada. Kata warga mungkin hotel ada di perbatasan antara Temanggung dan Wonosobo, atau sekalian langsung saja ke Wonosobo yang berjarak 30 KM.

Lepas dari Kota Parakan jalan mulai menanjak tajam, suhu udara cukup dingin, cuaca cerah namun diselingi dengan kabut, dan terlihat ada bayangan hitam di kejauhan berupa gunung, di sebelah kanan maupun di sebelah kiri. Kondisi jalan sangat mulus, lagi-lagi Motobikerz melaju dengan kencang ditengah sunyi senyap malam hari sambil menikmati kesendirian, dan juga berharap akan menemukan sebuah pelang atau signal hotel.

Tepat pukul 22.30 Motobikerz menemukan sebuah pelang besar bertuliskan “Hotel Dieng Kledung Pass” yang berada di sebelah kanan jalan. Tapi koq hotelnya sepi, nyaris tidak orang. Sampai dipintu pun harus diketuk berkali-kali. “Ini apa benar sebuah hotel?” tanya Motobikerz kepada seorang petugas yang datang membuka pintu dengan muka ngantuknya.

Diapun terheran-heran dengan kedatangan Motobikerz datang seorang diri sebagai tamu hotel yang hanya mengendarai sepeda motor dari arah Jakarta.sampai ke hotelnya pada hari yang sama.”Koq turing sendirian mas..mana temen-teman yang lain,” tanya si petugas hotel. Motobikerz hanya bisa menjawab, “Teman yang lain lagi nginap di Kota Pekalongan, tetapi besok di Dieng kita akan ketemu lagi,”.

Setelah check-in hotel, parkir motor, melepas jaket, beres-beres, dan mandi di kamar hotel seharga 290 ribu per malam, maka pukul 23.00 Motobikerz memberikan kabar kepada teman-teman bahwa posisi Motobikerz sudah aman di Hotel Dieng Kledung Pass. Belakangan baru diketahui bahwa lokasi hotel ini masih berjarak 17 KM ke Wonosobo, atau 50 KM menuju Dieng. Posisi hotel tepatnya ada di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, yang diapit dengan dua gunung tinnggi, yaitu G. Sumbing dan G. Sindoro. Pukul 24.00 Motobikerz sudah lelap tertidur. Wzzzz..

Day 1 Central java Tour

KFC Kali Malang Jakarta – Cirebon – Weleri – Parakan – Hotel Dieng Kledung Pass sejauh 500 KM

 

5 thoughts on “Day 1: Central Java Tour bersama Inazuma GW250

  1. terpisah rombongan tp kok bisa foto bro….siapa yg pegang kamera?

    • foto yg didepan warung soto maksudnya? Itu yg jepret pemilik warung soto-nya.. gw bilang foto bakal dimuat di internet.. jadi fotoin juga nama warungnya.. sama2 seneng kan.. hehehe

  2. […] hari pertama Central Java Tour berlanjut pada hari kedua, Jumat, 23 Januari 2015 yang dimulai dari tempat menginap Motobikerz.com […]

  3. wah, mantap mas…kapan-kapan ke Aceh ya ?….Oh ya, berapa harga box sepasang seperti inazuma warna merah itu…lengkap dengan breketnya…terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *