Touring Ke Paris WS3: Melintas Myanmar

DSCF2969

Peturing asal Indonesia ini baru saja mengirimkan email tentang kisah perjalanan “Wheel Story 3 (WS3)” yang sudah memasuki negara ke-4 di Myanmar. Yuk kita simak ceritanya.

Myanmar atau dahulu yang kita kenal Burma menjadi negara ke 4 perjalanan Wheel Story season 3 dan negara ke 9 petualangan Wheel Story sejak 3 tahun lalu. Tidaklah gampang untuk masuk membawa kendaraan sendiri di Myanmar.

Kita harus memiliki pemandau dan staff pemerintahan. Semuanya telah kita urus jauh-jauh hari sebelum berada di sini. Memang mahal dan banyak dokumen yang harus disiapkan sebelumnya.

Perjalanan kali ini kami tergabung menjadi 8 motor dan 1 mobil untuk melintasi Myanmar selama 9 hari. Total berjumlah 10 orang datang dari negara Australia, Prancis, Polandia, Rusia, Jerman, Singapore dan Indonesia. Semua mengarah ke tujuan yang sama yaitu exit ke India.

Guide dan staff dari pemerintahan  juga ditemani staff dari travel agent telah menunggu kami di Border Thailand – Myanmar. Setelah semua dokumen untuk kustom dan immigrasi selesai, kami pun bertolak ke Kyaikto sekitar 343 Km dari border dan dan hotel pun telah disiapkan, dan kami tiba jam 10 malam.

Pada esok paginya kami mendapat kesempatan berkunjung ke Goden Rock, dimana ada sebuah Pagoda yang berdiri diatas batu ini berwarna keemasan sudah ada sejak 2500 tahun silam. Terbayang bukan, betapa uniknya Golden Rock yang berada di bukit ketinggian sekitar 1200 meter diatas permukaan laut.

Lanjut kami bertolak ke Naypyitaw, disini kami riding lewat tol (harus dengan izin khusus ). Nah.. jangan lupa Myanmar driving posisinya harus disebelah kanan atau berlawanan dari driving posisi di Indonesia.

Di tol ini kami memacu motor dengan bebas walau speed limit 100 Km/h, maklum sebelumnya jalanan yang sempit berlubang dan bergelombang kami lewati. Di Naypyitaw ternyata hotel mewah di kota ini menjadi tempat beristirahat para overlander, bahkan jalan di kota ini lebar banget hingga ada yang sampai 10 line.

Dari sini juga kami mengunjungi basecamp Gajah Putih, yaa ini wujud asli Gajah putih yang pada umumnya orang tahu nick name dari Thailand ehh ternyata ada di Myanmar. Luar biasa! Saya bisa memegang nya langsung dan bahkan memberi makan.

Terus kami lanjut ke arah barat, dan hari pun keburu malam, awan gelap menggumpal dan angin bertiup kencang dan badai. Kami terus riding di kegelapan malam yang dingin dan disini jarang terlihat rumah penduduk. Kami terus riding bahkan pandangan jadi buram karena saking lebatnya hujan berangin , jalan sempit bergelombang dan akhirnya sampailah kami di Bagan, parkir motor makan dan tidur. Sangat tenaga terasa terkuras hari ini.

Esoknya pagi-pagi buta, kami sudah bangun bahkan tak sempat mandi sudah berlarian ke mobil guide dan tancap gas lagi ke salah satu temple di tengah-tengah kota Bagan. Naik puluhan anak tangga di Shwesandaw  Pagoda dan semua rider pun tercengan dengan keindahan daratan berdiri sekitar 2270 pagoda yang dibangun dari abad 11 hingga abad ke 13 berjejer rapi  dan matahari mulai muncul.

Kami menikmati pemandangan 360 derajat dari sini. Pada bulan tertentu kala tak musim hujan akan berterbangan puluhan balon wisata seperti di Cappadocia (Turkey) untuk bisa lebih melihat detail keindahan bagan dari udara dan terakhir kami mengunjungi Shwezigon Pagoda yang terdapat didaerah Nyang-u.

Mandalay, kota terbesar dan tersibuk se Myanmar setelah Yangon menjadi destinasi berikutnya. Wah.. belum masuk sudah panas menerjang, semua rider kehausan dan uniknya masyarakat disini kalau bawa motor tak peduli arah dan lalu lintas, semua main terobos dan kita pun harus waspada.

Rata-rata di Myanmar kaum lelaki menggunakan sarung ataupun di sebut dengan Longhi yang sudah menjadi tradisi disini dan juga segala usia baik pria maupun wanita pada wajah terutama bagian pipi dipoles seperti pakai bedak, namanya Thanaka. Ini terbuat dari bahan dari kayu dengan cara digosok ke batu dan sambil dicampur air agar lunak dan jadilah cream berwarna putih kekuningan lalu di poles di wajah. Saya mencoba memoles di wajah dan ternyata terasa sejuk, dan memang ini cara orang Myanmar melindungi kulit wajahnya dari sengatan sinar matahari.

Monywa menjadi tujuan kami berikutnya, kemudian kami riding sekitar 4 jam dari Mandalay dan akhirnya kami menginap di sebuah Resort terbaik di kota ini. Sore harinya kami mengujungi standing Buddha yang merupakan terbesar kedua di Asia dan juga patung sleeping Buddha terbesar di Asia. Patung standing Buddha memiliki 33 lantai, kebayang bukan tingginya.

Kota terakhir kami adalah Kale. Disini kami hanya melakukan transit sebelum lanjut ke Tamu (border dengan Moreh India) yang ditempuh sekitar 2 jam ke arah barat. Tak banyak yang kami lakukan disini.

Total perjalanan membelah Myanmar kurang lebih 2.000 Km walaupun kami harus seringkali melakukan check point setiap masuk dan keluar distrik. Bagian selatan Myanmar masih belum aman, namun keramahan warga Myanmar dan juga keunikan budaya dan keindahan negara ini sungguh berkesan, belum lagi makanan khas Myanmar yang cocok dilidah kami sang petualang. 

Dalam group perjalanan ini ada 7 negara berbeda dan datang dari arah yang berbeda pula dan pada hari yang sama, jam yang sama kami bertemu di point yang sama dan riding bersama.

Pasangan Liz Kelly & Con Feyen (Australia) masing-masing mengendara Suzuki DR650, David Smith (Australia) & Ghislaine Gires (Prancis) juga dengan Suzuki DR650, Oleg Kharitonov (Rusia) dengan BMW GS650, Przemek Skoneczny (Polandia) naik Yamaha Tenere 660XT, Juvena (Singapore) dengan Vespa PX150 dan Reihold Dreier (Jerman) naik VW Transporter dan juga Mario dan Lilis dengan Benelli BN600 dari Indonesia.

Masing-masing kami akan berpisah setelah masuk India Timur (Manipur) dan mengarah ke tujuan kami masing-masing mengexplore dunia.

One thought on “Touring Ke Paris WS3: Melintas Myanmar

  1. Bagan, my dream place

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *