Kisah TAB Jelajah Borneo masuk Kalimantan Utara lewat jalan tikus

IMG-20160519-WA0020

Dari cerita sebelumnya (artikel ini), cerita perjalanan dua bikers TAB (Tiger Association Bandung) yaitu, Bro Ferry Heriman M (40 tahun) dan Bro.Dede “Abil” Sutardi (35 tahun) semakin seru. Pasalnya saat mereka masuk kembali ke negara Indonesia bukan melalui jalan umum, tetapi jalan tikus. Bagaimana ceritanya?

Bro Ferry menyampaikan ceritanya kepada MotoBikerz.com hanya melalui telapon ketika mereka sudah mendapat signal di Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kaltara).

MotoBikerz: Bagaiman cerianya saat melewati garis perbatasan Malaysia – RI di Kaltara? Apakah lewat jalur darat atau laut?

Bro Ferry: Yang pasti alhamdulilah kami tidak pake jalur laut dan tetap melalui jalur darat. Dari Kalabakan Sabah Malaysia kami menuju ke perkebunan sawit, dan teman-teman biker Malaysia masih ikut mengantar kami sampai di sebuah sungai.

Jalan ini sangat berlumpur karena baru diguyur hujan, dan tidak ada jalan lain. Sampai di sungai, kami pasrah jembatannya putus, dan akhirnya kami harus menyeberang naik sampan. Sementara itu teman-teman dari Malaysia berpisah dengan kami dan mereka sudah tidak ikut bersama kami lagi.

IMG-20160526-WA0003[1]

Jalan tikus di perbatasan Malaysia – Indonesia, Simanggaris

Setelah menyeberang, kami kemudian kami dibantu penduduk untuk mengangkut barang-barang yang sangat berat. Kemudian kami sudah sampai di perbatasan dan masuk Desa Sekaduyan Taka, Kecamatan Simanggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) Republik Indonesia. Saat itu rasa terharu antara saya dengan teman saya Bro Dede, dan kamipun berpelukan erat telah tiba ke Tanah Air.

Oleh seorang penduduk setempat yang adalah aparat Desa Sekaduyan Taka, kami kemudian dijamu dengan sangat baik dan ramah. Bahkan kami boleh menginap di tempatnya. Sebagai catatan bahwa Desa Sekaduyan Taka adalah desa di wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia.

IMG-20160525-WA0011[1]

Bersama Keluarga Bpk. Abdul Majid dan anggota Pamtas TNI

Pak Abdul Majid (aparat desa dimaksud), sangat welcome menerima kehadiran kami yang berasal dari daerah lain (red=maksudnya dari Bandung, Jawa Barat). Kamipun dipersilahkan menginap semalam di rumah Pak Majid yang sangat sederhana.

Besoknya kami lapor ke pos perbatasan di Kaduangan. Dokumen paspor kemudian diperiksa, serta barang bawaan kamipun diperiksa, dan ternyata jalur yang kami lewati adalah jalur tikus yang memang sering dipakai para penyeludup narkoba dan TKI illegal. Di pos tentara ini memang belum ada Kantor Imigrasi untuk cap paspor.

IMG-20160525-WA0023[1]

Jalan tikus di perbatasan Malaysia – Indonesia, Simanggaris

Jadi sebenarnya, rute ini adalah bukanlah rute umum untuk motor biasa. Jalur yang kami lewati tersebut adalah rute yang sangat cocok untuk motor trail dengan ban cangkul. Kesan yang kami dapatkan, untuk tantangannya sangat luar biasa bahkan kami sampai kelelahan, dan saya sendiripun sempat dehidrasi karena kurang membawa bekal dan minuman. Untuk bisa melewati rute tersebut, pada intinya harus punya mental yang kuat.

Setelah kami diperiksa di pos tentara, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Sungai Ular untuk selanjutnya dengan naik speeboad kami harus ke Nunukan untuk proses administrasi passport dan carnet yang harus di cop oleh kantor imigrasi dan bea cukai Republik Indonesia.

Pelabuhan Sei Ular, akan menuju Pelabuhan Tunon Taka Nunukan untuk cop paspor masuk Indonessia

Pelabuhan Sei Ular, akan menuju Pelabuhan Tunon Taka Nunukan untuk cop paspor masuk Indonessia

Di ujung Sungai Ular, ada sebuah dermaga kecil, dan dari situ ada angkutan umum boat ke arah Nunukan dimulai dari jam 7 pagi sampai jam 10 pagi. Ongkos per orang sebesar Rp. 50.000,-. Kemudian sepeda motor kami difoto, dan dititip ke tempat penitipan sepeda motor.

Sayang, pada saat kami tiba di Sungai Ular sudah lebih dari jam 10 dan angkutan regulernya sudah keburu habis sehingga kami terpaksa naik speedboat charter untuk sampai ke pelabuhan Tunon Taka Nunukan selanjutnya ke imigrasi di Nunukan untuk mendapatkan cap passport masuk Indonesia.

IMG-20160525-WA0013[1]

Pelabuhan Tunon Taka Nunukan

Nah dikarenakan hari Jumat, maka kami memutuskan sholat Jumat dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke pos imigrasi Nunukan. Setelah sholat Jumat, barulah kami mencarter speedboat pulang pergi seharga Rp. 600.000,- dengan waktu tempuh speedboat hanya 30 menit.

Sampai di kantor imigrasi Nunukan, dokumen pasport kami akhirnya di cap. Di kantor bea cukai kamipun sudah dinanti oleh petugas Bea Cukai (untuk urusan Carnet), dimana mereka sangat antusias melihat kehadiran kami pulang ke Indonesia.

Bea Cukai Nunukan untuk urus CPD Carnet bahwa motor bisa masuk kembali ke Indonesia

Bea Cukai Nunukan untuk urus CPD Carnet bahwa motor bisa masuk kembali ke Indonesia

Ngomong-ngomong, para petugas Bea Cukai Nunukan ternyata memantau perjalanan kami melalui MOTOBIKERZ.com. Selama di bea cukai, kami tidak menemukan masalah walaupun kami tidak membawa motornya, namun hanya menunjukkan fotonya yang sedang parkir di Sungai Ular. Lagian petugas bea cukai juga sudah kenal betul dengan motor Honda Tiger yang hanya ada di Indonesia. .

Setelah itu kami balik ke Sungai Ular sudah sore sekitar jam 4 (Jumat 20/5/16). Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pos Gabungan Perbatasan Indonesia-Malaysia Sei Simanggaris. Disana kami menginap dan tidur seadanya, juga makan malam pun seadanya. Petugas aparat TNI yang bertugas disana sangat welcome dengan kehadiran kami.

Piagam Penghargaan untuk teman-teman TNI di Pos GABMA Simanggaris. Kami menginap disini

Piagam Penghargaan untuk teman-teman TNI di Pos GABMA Simanggaris. Kami menginap disini

Besoknya hari Sabtu, 21/5/16 kami melanjutkan perjalanan ke arah Sebuku, masih di Kabupaten Nunukan. Perjalanan ini harus melewati Gunung Menangis, dengan jalan yang sangat ekstrim. Jalannya licin kalau hujan, juga hancur sekali karena diatas tanah merah. Bahkan buruknya, disana sepi dan sangat jarang orang melintas.

Waktu kami melewati kawasan Gunung Menangis, saya mengalami kecelakaan. Saya terjatuh saat melewati jalan tanah liat. Tangan kanan dan bahu terkilir. Akhirnya kami berdua kebingunan, dimana mau mencari pertolongan. Selagi bingung, ternyata dari arah belakang ada rombongan biker dari YVCI Nunukan yang mau jalan ke arah Sibuku juga untuk menghadiri acara deklarasi YVCI Sebuku Chapter.

Bersama YVCI Nunukan yang menolong Bro Ferry terjatuh dan tangan kanannya sakit, Mereka memmbawa motor Bro Ferry samapi Sebuku sekitar 4 jam dari Simanggaris karena kondisi jalan masih dalam proses

Bersama YVCI Nunukan yang menolong Bro Ferry terjatuh dan tangan kanannya sakit, Mereka memmbawa motor Bro Ferry samapi Sebuku sekitar 4 jam dari Simanggaris karena kondisi jalan masih dalam proses

Mereka datang dari Nunukan dimana sebelumnya naik speedboat. Saat itu ada 11 motor, dan 1 motor berboncengan. Bagusnya mereka bersedia menolong kami menuju Sibuku. Ketua rombongan YVCI Nunukan membonceng saya, sementara motor sayapun dibawa oleh salah seorang biker dari YVCI Nunukan tersebut.

Kami tiba di Sibuku sekitar jam 11 pagi. Di sana, saya diobati cederanya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Malinau, start dari Sibuku jam 2 sore. Kondisi jalan ke Malinau sudah mendingan bagus. Kami pun tiba di Malinau jam 5 sore. Dari Malinau, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Tanjung Selor dengan waktu sekitar 5 jam.

Bersama bro Yopi di Malinau

Bersama bro Yopi di Malinau

Ternyata, pada kenyataannya jalan antara Malinau – Tanjung Selor ada beberapa bagian yang tidak mulus. Jalanan rusak parah, ada aspal yang dikeruk, gunung dibelah, dan penuh tanah merah. Kami berjalan pelan disertai menahan rasa sakit pada bagian yang cedera. Akhirnya kami pun tiba di Tanjung Selor sekitar jam 11 malam atau 7 jam perjalanan dari Malinau. Karena saya lagi ada cidera, sehingga kecepatan pun memang agak lambat.  Usai dari Tanjung Selor ini, kami akan terus ke Bontang dan Samarinda.

IMG-20160525-WA0018[1]

Bersama bro Mulyadi, pecinta Honda Tiger di Tanjung Selor Bulungan, Kalimantan Utara

One thought on “Kisah TAB Jelajah Borneo masuk Kalimantan Utara lewat jalan tikus

  1. […] Jam 09.30 kami berempat masuk kawasan perkebunan Malaysia dengan kondisi jalan tanah, dan beberapa kali kami sempat salah jalan untuk mengindari arah Serudung Laut. Tujuan kami adalah Sempadan, karena jalur ini tidak akan melewati sungai atau naik sampan melainkan ada jembatan penyeberangan. Jika kami ambil jalur lewat Serudung Laut maka resikonya kami akan melewati sungai dan naik sampan. Lewat Serudung Laut adalah jalur yang pernah dilewati oleh 2 biker TAB (artikel ini). […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *