Solo Touring BORNEO hari ke-20, lewat jalan setapak di hutan (Perbatasan Malaysia – RI)

Hari Sabtu, 21/1/17 adalah perjalanan Solo Rider Stephen Langitan (SL) di hari ke-20 dalam rangka menyelesaikan ajang Solo Touring BORNEO Lintas 3 Negara (Indonesia – Malaysia dan Brunei). Rute dihari tersebut saya menempuh jalan darat di jalur perbatasan Malaysia – Indonesia dalam waktu 14 jam mulai dari pukul 09.00 sampai 22.00 jarak sekitar 90 Km dengan cerita sebagai berikut:

Gambaran Rute Perbatasan Sepadan Malaysia – Kaltara RI

  1. Jam 07.30 Saya sarapan pagi bersama keluarga pemilik rumah di Kampung Kalabakan Malaysia. Pada kesempatan ini 2 rekan bikers Malaysia Bro Zack dan Zuan yang siap mendapingi saya mengajak satu orang lagi yang bernama Bro Hairi. Jadi ada 3 orang bikers Malaysia yang akan menemani Solo Rider SL melewati jalan darat perbatasan Malaysia dan Kalimantan Utara RI.
  2. Jam 08.30 Sesi foto dengan banner Solo Touring BORNEO Lintas 3 Negara
  3. Jam 09.00 start dan beli bekal roti sekaligus isi bensin untuk motor Bro Hairi di stasiun minyak Petronas Kalabakan
  4. Jam 09.30 kami berempat masuk kawasan perkebunan Malaysia dengan kondisi jalan tanah, dan beberapa kali kami sempat salah jalan untuk mengindari arah Serudung Laut. Tujuan kami adalah Sempadan, karena jalur ini tidak akan melewati sungai atau naik sampan melainkan ada jembatan penyeberangan. Jika kami ambil jalur lewat Serudung Laut maka resikonya kami akan melewati sungai dan naik sampan. Lewat Serudung Laut adalah jalur yang pernah dilewati oleh 2 biker TAB (artikel ini).
  5. Jam 13.00 kami sudah tiba di pinggir hutan. Seorang pekerja kebun sawit asal Flores bernama Pius menunjukkan sebuah jalan setapak masuk kedalam hutan. Pasalnya jalan tanah yang biasanya dilewati roda 2 maupun mobil 4WD tidak bisa lagi dilewati, karena ada galian lubang besar dan pohon besar yang ditumbangkan untuk menutup akses jalan. Selain itu signal HP dari Malaysia sudah menghilang, sementara signal HP dari Indonesia juga tidak ada sehingga kami tidak bisa berkomunikasi lagi melalui HP.
  6. Jam 14.00 kami mulai bekerja keras mendorong-dorong motor Suzuki Inazuma masuk kedalam hutan dengan kondisi jalan setapak menanjak dan tanah yang lembab. Inazuma terasa sangat berat walaupun semua perangkat box sudah dilepas, serta tas duffle diturunkan. Alhasil kami bertiga bekerja keras agar Inazuma bisa bergerak sedikit demi sedikit. Sayapun kelelahan dan Inazuma diserahkan kepada Bro Zack dibantu Bro Zuan dan Hairi yang mendorong dari belakang. Beberapa kali tali diikat di Inazuma dan ditarik secara manual. Jika Inazuma sudah maju, maka secara bergantian 3 motor lawas milik bikers Malaysia juga harus bergerak kedepan. Akhirnya kami ber-empat kehabisan tenaga dan kamipun belum mendapatkan tanda-tanda situasi ini akan berakhir sampai jam berapa.
  7. Jam 16.30 setelah duduk beristirahat saya putuskan untuk jalan kaki sendirian untuk melihat medan yang akan dilewati. Pertimbangannya adalah untuk mendapat kepastian trek yang akan diliewati, karena kami ber-empat belum pernah melewati jalan setapak ini.  Saya menyusuri jalan setapak dan ternyata medannya semakin berat, ada jalan menurun, mendaki, dan juga ada parit yang harus dilewati. Wow.. sangat berat dan sayapun mulai frustrasi karena sudah jam 17.00. Saya terus berjalan kaki dan menjumpai jalan tanah yang bisa dilewati kendaraan roda 4 walaupun masih di dalam hutan.
  8. Pukul 17.30 saya berjalan kaki lagi dan melihat ada papan perbatasan Malaysia – Indonesia. Artinya masih ada jarak sekitar 250 meter buat Inazuma sampai ke wilayah perbatasan, tetapi apa daya jika motor tidak bisa bergerak dan masih terdiam di hutan.
  9. Pukul 17.45 tiba-tiba terdengar ada suara orang dan saya berteriak minta tolong. Puji syukur ternyata ada rombongan WNI yang akan melintas menuju Malaysia melalui jalan darat. Singkat kata saya memohon minta bantuan agar kiranya 5 orang dari mereka bisa ikut membantu mendorong motor Inazuma sampai ke wilayah Indonesia. Akhirnya pertolongan diberikan dan Inazuma keluar dari jalan setapak hutan dan berpindah ke jalan tanah liat.
  10. Pukul 18.00 turun hujan dan ke-5 orang tadi yang telah membantu mendorong Inazuma telah pergi karena mereka pun harus bergegas melanjutkan perjalanannya. Kini tinggal saya bersama 3 rekan bikers Malaysia persis di garis perbatasan Malaysia – Indonesia.
  11. Pukukl 18.30 Inazuma terjerembab di dalam tanah liat dengan trek menanjak. Sama sekali tidak bisa bergerak kecuali ditarik dan didorong-dorong. Saya lagi-lagi kelelahan dan proses pergerakan Inazuma ditangani oleh 3 bikers Malaysia yang mana mereka benar-benar sangat membantu saya. Jika tidak ada mereka ber-tiga maka apa jadinya.
  12. Pukul 19.00 hari sudah gelap dan hujanpun sudah berhenti, Inazuma sudah bergerak maju masuk ke wilayah Indonesia berada di jalan tanah liat. Ke-tiga bikers Malaysia masih berusaha keras agar motor bisa maju tetapi kamipun tidak tahu jalan aspalnya ada dimana. Sementara itu kami sudah kehilangan kontak sejak jam 10.00 pagi karena memang tidak ada signal HP, baik itu dari Malaysia maupun Indonesia.
  13. Jam 20.00 saya putuskan motor Inazuma ditinggal atau menginap di pinggir hutan. Saya katakan kepada ketiga sahabat bikers Malaysia mari kita selesaikan perjalanan ini sampai menjumpai rumah penduduk untuk melepas lelah. Urusan motor Inazuma dibiarkan dulu sampai besok, karena jika saya sudah berjumpa dengan penduduk tentunya saya bisa sewa mobil pick up untuk diangkut. Kemudian saya jalan kaki menyusuri jalan tanah liat, sementara 3 bikers Malaysia bersama motornya masing-masing menjajal jalan lumpur dan tanah liat baik tanjakan maupun turunan.
  14. Pukul 21.00 kami ber-empat berisitirahat setelah melewati sebuah medan jalan tanjakan dan sepertinya saat itu kami berada di sebuah ketinggian. Kami kehabisan air minum, dan roti yang dibawa dari pagipun sudah habis. Rasa lapar, haus, letih, kedinginan, dan gelap gulita semuanya menjadi satu karena kami tidak tahu jarak sampai ke jalan aspal. Kami butuh rumah penduduk, tetapi kami tidak tahu berapa jauh lagi. Kami berempat hanya bisa terdiam mencoba mendengar suara-suara yang mungkin dapat memberikan harapan.
  15. Jam 21.15 tiba-tiba kami mendengar ada suara motor yang mendekat dan ternyata benar motor itu berhadapan dengan kami. Ternyata ada dua orang pria yang akan melintas perbatasan di malam hari dan pengendara motor inipun (sebut saja Bapak S) memberikan informasi penting soal jarak agar kami bisa menjumpai rumah penduduk. Sebuah harapan dan kamipun menjadi semangat untuk menyelesaikan sisa perjalanan sampai menjumpai rumah penduduk. Saya dibonceng naik motor lawas Bro Zack dengan lampu motor yang sering redup, dan sesekali mati.
  16. Jam 22.00 akhirnya kami menemukan jalan aspal. Sontak saja saya dan rekan-rekan bikers Malaysia sangat gembira sudah berada di jalan aspal. Kemudian kami mengikuti pesan dan petunjuk Bapak S tadi agar kami segera mencari rumah Bapak HJP yang berjarak 8 Km.
  17. Jam 23.00 setelah melewati jalan aspal yang berliku-liku dan sangat sepi kendaraan akhirnya saya menjumpai rumah Bapak HJP. Saya mengetuk pintu rumah Bapak HJP, dan dibalik pintu seorang Ibu mengatakan bahwa Bapak HJP sedang keluar kota. Setelah saya memberikan penjelasan tentang keberadaan kami berempat akhirnya Ibu HJP ini mempersilahkan kami masuk kedalam rumahnya, sekaligus mandi dan makan malam. Oh.. puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Besar yang telah menguji iman kami agar kami tetap memiliki keyakinan bahwa Tuhan Itu Baik adanya.
  18. Jam 24.30 setelah mandi, makan malam, serta berbincang-bincang dengan putra-putri keluarga Bapak HJP dan akhirnya kami berempat tertidur pulas. Terima kasih Tuhan.

VIDEO

Catatan:

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang Resmi antara Indonesia – Malaysia hanya ada 4 lokasi, yaitu PLBN Aruk Sambas (artikel ini), PLBN Entikong, PLBN Nanga Badau dimana ketiganya ada di Kalimantan Barat.

Sedangkan pos yang ke-4 adalah melalui jalur Tawau Malaysia – Pulau Nunukan Kaltara RI yang khusus hanya melayani penumpang kapal ferry (tidak boleh membawa sepeda motor). Oleh karena itu Solo Rider SL harus menempuh jalan setapak hutan ini agar bisa masuk alias pulang ke Indonesia sesuai dengan rute Solo Touring BORNEO Lintas 3 Negara yang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya.

Artikel dihari berikutnya adalah melapor ke Pos GABMA Indonesia – Malaysia Simanggaris Kab. Nunukan Provinsi Kalimantan Utara, kemudian evakuasi Suzuki Inazuma dari hutan perbatasan, dan melepas sahabat bikers Malaysia pulang melalui hutan perbatasan.

SPONSORED BY:
SUZUKI – PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS)
FEDERAL OIL – PT Federal Karyatama
BOSCH – PT Robert Bosch
CST – CST Tire
SINNOB – Sinnob Gear

SUPPORTED BY:
KYT, 7GEAR, RESPIRO, IMI (Ikatan Motor Indonesia)

5 thoughts on “Solo Touring BORNEO hari ke-20, lewat jalan setapak di hutan (Perbatasan Malaysia – RI)

  1. Luar biasa Bro… Jika kita punya niat baik, aura positif selalu hadir…

  2. keren om.

  3. […] Wajib melapor ini sangat penting sebab saya membawa tamu warga negara Malaysia yang tidak dilengkapi dengan dokumen passport, jadi kehadiran tamu Malaysia di Desa Kanduangan ini jangan sampai menimbulkan masalah karena awalnya mereka bermaksud baik mengantarkan saya masuk Indonesia lewat jalan darat yang sangat berat (arftikel ini). […]

  4. […] Solo Touring BORNEO hari ke-20, perbatasan Malaysia – RI (Kalabakan – Simanggaris Kab. Nunukan 90 Km) https://motobikerz.com/archives/20048 […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *