Kisah Paguyuban Honda Banten Tour Baduy

Baduy-04

Inilah kisah wisata budaya dari para bikers Honda yang tergabung dalam “Paguyuban Honda Banten Tour Baduy.” Cerita ini dikirim oleh Bro Ade PIC Community dari PT Mitra Sendang Kemakmuran (MSK) selaku Main Dealer Honda di Banten dan sekitarnya. Simak ceritanya bro.. siapa tau ada yang mau menyusul berwisata ke Baduy.

Siang itu suasana terminal Ciboleger sudah ramai sekali. Banyak mobil dan bus yang sedang parkir di pinggir lapangan. tampak rombongan anak-anak sekolah SMA atau mahasiswa duduk-duduk sembari makan di dekat patung “Selamat datang di Ciboleger”. Beberapa anak kecil terlihat sibuk menawarkan tongkat dari kayu seharga tiga ribu rupiah. “Ke dalam jalannya licin mang, naik turun bukit, nanti susah kalau gak pakai kayu,” begitu kata mereka.

Terminal Ciboleger merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan pintu masuk menuju kawasan baduy luar. Beberapa orang suku baduy berdiri di depan toko yang menjual souvenir. Mereka mengenakan pakaian khas berwarna hitam dan putih, dengan ikat kepala berwarna putih, tanpa alas kaki. Gak percaya rasanya kalau kami menjejakkan kaki di sini. Melihat langsung suku Baduy dalam yang waktu kecil hanya kuketahui dari buku pelajaran sekolah atau majalah.

Ini adalah kunjungan pertama kami ke wilayah ini. Jadi kami belum bisa membayangkan medannya seperti apa, meskipun sudah diberi tahu bakal melewati bukit-bukit sejauh kurang lebih 12 km. Karena membayangkan jauhnya trek yang bakal dilalui serta hujan gerimis yang sering turun, kami putuskan untuk tidak membawa kamera DSLR, hanya kamera poket saja. Lagipula di Baduy dalam tidak diperbolehkan mengambil gambar apapun.

Benar saja, beberapa saat sebelum memulai perjalanan ke Desa Cibeo di Baduy Dalam, rintik-rintik hujan mulai turun. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.10 WIB perjalanan tetap harus dilakukan karena tidak tahu kapan hujan akan reda. Perjalanan dimulai dengan melewati jalan berbatu di antara rumah-rumah berdinding kayu, kemudian naik dan turun. Kami sempat berhenti sejenak di depan salah satu rumah untuk berfoto-foto. Nampak seorang perempuan Baduy dengan kulit yang putih mulus sedang mengasuh bayi. Tapi dia keburu kabur ke dalam rumah waktu hendak kami foto. Wajah perempuan Baduy memang banyak yang putih mulus.

Agak ngeri juga melewati jalan turun naik. Aliran air yang melewati jalan setapak begitu derasnya. Kalau tidak hati-hati bisa terpeleset. Agak ribet juga kalau mau motret, Beberapa kali rombongan kami berhenti untuk istirahat di depan rumah orang baduy. Di sana kami banyak bertemu rombongan lain dengan tujuan yang sama dan rupanya ini adalah pertama kalinya saya trekking naik turun perbukitan, tutur Bro Budi dari BMCB Blade Banten yang menjadi Humas Tour Baduy Perjalanan Ke Baduy kali ini.

Tibalah kami di jalan tanah yang becek dan licin. Beberapa kali kami menyeberang melewati sungai-sungai kecil. Menyenangkan sekali karena bisa sekalian mencuci sandal yang sudah penuh lumpur, tapi sayangnya air sungainya keruh. Sepanjang jalan, kami banyak melewati rumah-rumah khas baduy dan leuit (lumbung padi). Entah berapa desa yang sudah terlewati, sebelum sampai di jembatan bambu dengan aliran sungai yang deras di bawahnya. Kalau tidak salah kami sudah lewat Desa Kaduketuk dan Gajeboh. Banyak sekali rombongan wisatawan yang akan melewati jembatan bambu ini, jadi harus antri satu per satu supaya tidak ambruk.

PIC Community PT MSK Bro Ade yang hadir untuk kegiatan itu sempat ngobrol tanya jawab dengan orang baduy. “Mang gak pernah naik gunung ya, udah pernah ke Bromo belum? ucap Armadi, salah satu pemandu. Belum pernah kalau sampai puncak, cuma di acara club nya aja. Loh kok kamu tahu Bromo sih? Jawab nya heran. Tahu dong, kalau jalan kaki berapa lama ya? Nanya lagi..

Dalam hati saya, jangan-jangan dia tahu Bromo gara-gara nonton film “5 cm” hehehe. Armadi ini masih berusia 20 tahun, tetapi sudah berkeluarga. Perawakannya gak terlalu tinggi, orang Baduy rata-rata memang seperti itu, mungkin karena sering berjalan jauh dengan membawa beban yang banyak, tanpa alas kaki pula. Katanya dia sudah pernah ke Bogor dan ke Bekasi. Kalau jalan kaki bisa sampai 3-4 hari. Gak kebayang yah di zaman modern seperti ini, mereka masih setia dengan aturan adatnya.

Gak tahu sudah berapa kilo yang kami lewati, nafas sudah ngos-ngosan. Apalagi saat melewati tanjakan yang agak curam dan lumayan jauh, mungkin ada 1 km. Akhirnya kami meminta bantuan kepada orang baduy untuk membawakan tas. Kami titip ke armadi, anak baduy yang ada di dekat kami. Lumayanlah mengurangi beban tubuh. Rasanya pengen cepat sampai di jalan yang mendatar untuk istirahat sejenak.

Sebenarnya kasihan juga dengan pemandu, harus membawa bawaan banyak sekali padahal badannya kecil hehe. Tetapi katanya sudah biasa, bahkan dia sering membawa durian sebanyak 30-40 butir. Orang-orang baduy memang luar biasa. Salah satu anak baduy yang bisa membaca Umurnya masih 16 tahun. Katanya dia pernah jalan kaki 4 hari untuk sampai ke Jakarta. Eidhaaan… Dia pernah ke Monas, Central Park bahkan sampai nonton film di Epicentrum. Hp pun dia punya, tetapi tidak dipakai saat di Baduy Dalam. Jadi kalau kita mau ke sana, bisa berkirim pesan atau menelepon.

Sepanjang jalan di daerah Baduy, kami melewati banyak sungai. Masyarakat Baduy memang akrab sekali dengan sungai dan mereka terkenal bisa menjaga kebersihan airnya. Saat menyebrangi sungai, kami sempat melihat warga baduy yang sedang menghanyutkan kayu gelondongan ke sungai untuk di jual ke kota. Akhirnya sampai juga kami di perbatasan Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Wilayah ini dipisahkan oleh jembatan bambu. Sungainya lebih lebar dibanding di Gajeboh, dan aliran airnya sedang deras-derasnya. Kalau sedang lewat di atasnya, jangan melihat ke bawah, karena jembatan akan serasa berjalan. Sampai di sini dilarang untuk memotret, memakai HP, perekam dan alat elektronik lainnya. Kamipun patuh-patuh saja karena menghormati adat istiadat mereka.

Jalanan di wilayah baduy dalam lebih sepi. Kami harus jalan setapak naik dan turun di antara bukit-bukit pegunungan Kendeng sebelum mencapai ke Desa Cibeo. Tapi senang sekali rasanya melihat perbukitan hijau yang masih begitu terjaga. Si Sapri bertutur sambil menunjuk puncak bukit yang diselimuti awan, “di sana ada yang namanya Hutan Larangan dimana orang tidak boleh menebang pohon sembarangan”. Senang rasanya sudah berhasil melewati perjalanan panjang hanya untuk mencapai salah satu desa di Baduy dalam. Total waktu yang kami habiskan untuk berjalan sekitar 2 jam 30 menit. Mungkin kalau orang-orang baduy dalam hanya butuh waktu 1 jam 30 menit, jalannya aja secepat kilat.

Desa Cibeo begitu ramai, banyak para pengunjung menginap di tempatnya masing-masing. Dan kami tidak bisa menginap karena harus kejar waktu juga untuk kembali ke aktivitas esok hari. Rumah di sana memiliki arah yang sama, yaitu menghadap utara-selatan. Kamipun sempat berkeliling melihat-lihat perkampungan di Desa Cibeo. Meskipun di sana hanya sebentar, tetapi sudah memberikan banyak gambaran tentang kehidupan mereka, yang sebelumnya gak kita tahu sama sekali. Ternyata masyarakat Baduy tidak primitif seperti yang kami kira dan mereka tampak sudah mulai terbuka dengan kehadiran masyarakat luar, kecuali dalam hal teknologi dan pendidikan.

Tenang sekali hidup di desa ini tanpa listrik, tanpa gadget dan barang-barang elektronik lainnya. Tapi jangan lama-lama bosen juga Bro hehe… Di sini juga gak ada kamar mandi, sehingga kalau mau mandi, wudhu, buang air dll harus ke sungai. Repot kan.. tapi sungainya benar-benar jernih dan menyegarkan. Di sini juga dilarang menggunakan sabun, shampoo, odol dan apapun bahan kimia yang bisa mencemari lingkungan. Sepertinya masyarakat perkotaan harus banyak belajar dari orang baduy bagaimana memperlakukan alam dan lingkungan dengan baik.

Nggak kerasa shalat ashar pun tiba, dan kami harus untuk melanjutkan perjalanan pulang, dengan jalan kaki tentunya. Rute pulang lebih singkat karena kami lewat jalur Cijahe, hanya dalam waktu 2 jam kami sudah mencapai desa di luar Baduy. Tapi dingin yang luar biasa membuat kami sangat kelelahan. Sebelum berpisah kami sempat dapat kenang-kenangan berupa madu asli, rasanya enak.

“Senang rasanya bisa mengisi hari libur dengan Tour ke Baduy dan berkenalan dengan masyarakat di sana, orangnya baik-baik. Mungkin suatu saat kita akan berkunjung lagi ke sana sekalian bakti sosial,” kata Bro Budi BMCB Blade Banten yang menjadi Humas Tour Baduy Paguyuban Honda Banten.

Sumber: http://stephenlangitan.com/archives/81376

Your comment: