Vespa Sprint 150 plat B ini jalan-jalan ke Malaysia. Caranya?

Motobikerz.com mendapat cerita menarik dari masbro Muhammad Umar asal Pamulang, Tangerang Selatan yang berdomisili di Sambas Kalimantan Barat. Ia menyempatkan jalan-jalan ke Sarawak Malaysia dengan sepeda motor Vespa Sprint 150 miliknya plat B Jakarta. Ia dengan bebas leluasa tanpa rasa takut saat melewati pos perbatasan Indonesia – Malaysia. Koq bisa ya?

Nah.. berikut ini adalah ceritanya yang ditulis sendiri oleh masbro Muhammad Umar.

Saya sebetulnya belum banyak melakukan touring dengan sepeda motor. Palingan Sunmori dan berkeliling seputaran DKI. Namun sejak ditugaskan negara untuk bertugas di kota yang dekat dengan perbatasan negara, keinginan untuk melakukan touring terutama lintas negara langsung muncul.

Terlebih setelah saya merasakan enaknya melakukan perjalanan jauh (Pontianak – Sambas) dengan Vespa Sprint 150 3VIget yang saya miliki, keinginan melakukan touring semakin besar.

Saya sebetulnya sudah cukup sering mengunjungi kota Kuching di negara bagian Sarawak, Malaysia. Hampir semua semua cara ke Kuching dari Sambas sudah saya coba, mulai dari menumpang mobil orang (hitch hiking), naik “taksi”, bus sampai menggunakan mobil pribadi.

Terlebih saya pernah menyewa motor untuk berkeliling di kota Kuching yang mana menurut saya sangat nyaman karena jumlah pesepeda motor di Kuching memang tidak terlalu banyak dan para pengendara motor dan mobilnya sangat tertib berlalu lintas.

Memiliki Carnet De Passage en Douane (CPD)

Hal pertama yang saya lakukan untuk mewujudkan niat saya touring lintas negara ini adalah browsing perihal dokumen-dokumen atau “paspor” yang diperlukan motor saya untuk masuk ke negara lain. Dokumen yang diperlukan tidak lain tidak bukan adalah Carnet De Passage en Douane (CPD).

Singkatnya, CPD adalah sebuah dokumen ekspor impor sementara untuk kendaraan bermotor yang memudahkan rider-rider seluruh dunia untuk berkelana tanpa harus melalui banyak birokrasi terkait ekspor impor sementara kendaraan bermotor.

Saat itu hanya 2 informasi dalam berbahasa Indonesia yang cukup membantu yang saya temukan di Internet. yang pertama informasi dari website Ikatan Motor Indonesia dan kedua dari blog milik Stephen Langitan (http://stephenlangitan.com/).

Saat itu saya langsung mengkontak 2 pihak, pengurus IMI Pusat dan IMI Provinsi karena menurut websitenya, IMI memiliki pengurus daerah di Kalimantan Barat, provinsi dimana tempat saya berdomisili. Saat itu saya diberitahukan kelengkapan apa aja yang harus saya penuhi untuk melakukan pengajuan CPD, salah satu yang utama adalah menjadi anggota IMI.

Jadi hal yang pertama saya lakukan adalah melakukan pengajuan pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA) IMI. Saat itu saya ditanyakan klub apa yang saya ikuti, satu-satunya klub yang saya ikuti adalah Nissan March Indonesia atau March-i, sebuah komunitas pengguna mobil Nissan March yang resmi dan diakui oleh Nissan Indonesia.

Btw, persyaratan yang saat itu diberikan selain yang memiiliki KTA IMI adalah:

  • SIM; Paspor; STNK; BPKB; Faktur Kendaraan
  • Foto kendaraan dari depan, belakang, samping kanan dan kiri
  • Foto nomor rangka dan mesin
  • Serta mengisi formulir, declaration form dan surat pernyataan yang filenya bisa didapat di website serta menghubungi pengurus pusat IMI.

Berdasarkan informasi yang awalnya saya dapatkan lamanya pembuatan CPD adalah 14 hari kerja, namun sayang pada saat itu respon dari IMI Peng Prov Kalbar sedikit kurang baik sehingga menyebabkan pengurusan CPD saya hampir 6 bulan.

CPD saya baru diproses setelah saya berhubungan langsung dengan pengurus pusat IMI yang memang bertugas dalam memroses CPD. Prosesnya hanya 14 hari kerja saja. Di minggu ke-tiga dokumen CPD sudah sampai ditangan saya.

Dokumen CPD datang 1 minggu sebelum tahun baru dan saat itu saya tidak bisa liburan jauh-jauh dari kota sambas karena takut ada tugas kantor yang mungkin muncul tiba-tiba, sehingga saya memutuskan untuk melakukan perayaan pergantian Tahun di Kuching. Tentu saja dengan menggunakan paspor dan CPD.

Persiapan saya tidak banyak, karena saya sudah hafal dengan kondisi perjalanan dari Sambas menuju Kuching. sehingga saya menyiapkan perlengkapan seadaanya. Bawaan saya bahkan tidak terlalu banyak.

Sabtu 30 Desember 2017 saya berangkat menuju perbatasan pukul 9 pagi, jarak dari Sambas ke Pos Perbatasan Lintas Negara (PLBN) Aruk kurang lebih 1.5 jam, namun saya baru tiba pukul 11.30 di PLBN Aruk karena sepanjang jalan saya banyak berhenti untuk mengambil foto.

Perjalanan dari Sambas menuju PLBN Aruk saat ini sudah bisa dilalui dengan baik karena 98% aspalnya mulus, hanya ada 1 jembatan di desa Sajingan dekat Aruk yang masih dalam proses pembangunan dan bukit yang masih dalam proses pengaspalan.

Sampai di PLBN Aruk saya langsung mencari petugas Bea Cukai untuk memroses dokumen CPD saya. Prosesnya cukup mudah namun sedikit memakan waktu karena petugas Bea Cukai Indonesia masih belum cukup familiar dengan dokumen CPD ini. Informasi yang saya dapat, baru 2 motor yang secara resmi melewati PLBN Aruk. Yang pertama adalah motor Suzuki Inazuma milik Bro Stephen Langitan yang sudah pernah Lintas 3 Negara Keliling BORNEO, dan yang kedua adalah motor saya Vespa Sprint 150 3V Iget.

Setelah selesai proses keimigrasian (PASPORT) dan bea cukai/pabean (CARNET) saya kemudian langsung menuju Pos Perbatasan Biawak Malaysia juga untuk menyelesaikan proses Imigrasi dan CPD CARNET. Hal yang sama seperti di sisi Indonesia, petugas bea cukai/kastam Malaysia juga masih belum cukup familiar dengan dokumen CPD ini.

Selesai semua proses di pos perbatasan Biawak Sarawak Malaysia, kemudian saya langsung tancap gas ke Kuching. satu-satunya ketakutan saya saat itu adalah saat saya melihat langit yang mulai kelabu menuju gelap. Saya hanya berharap tidak turun hujan selama perjalanan saya menuju Kuching, dan bersyukur hanya gerimis kecil yang saya hadapi sehingga tidak perlu mengeluarkan jas hujan.

Kondisi jalan dari Biawak menuju kota Kuching, saat ini kurang baik, ada banyak jalan yang bergelombang dan tidak rata sehingga saya tidak bisa memacu kendaraan saya secara maksimal. Bisa dibilang saya cukup hafal dengan kondisi jalan menuju Kuching dan saya juga memahami mengapa jalan ini tidak diperbaiki. Pemerintah Sarawak Malaysia saat ini sedang giat-giatnya membangun jalan 4 ruas yang nantinya akan menghubungkan jalan Trans Borneo dari ujung Kinabalu ke ujung Sarawak.

Akhirnya saya sampai di Kota Kuching pukul 2.30 siang waktu malaysia, hanya butuh satu setengah jam dari Biawak menuju Kuching, dan yang pertama saya lakukan adalah mencari restoran yang menjual Laksa Sarawak.

Berhubung saya sudah cukup sering ke Kuching, tentu saya tau harus kemana mencari Laksa Sarawak yaitu di Foodcourt Viva City Mall. disana ada salah satu kios yang menjual Laksa Sarawak yang enak yaitu Madam Tang’s. Tempat ini menjadi favorit saya setiap berkunjung ke Kuching.

Selesai makan dan cuci mata di mall saya langsung menuju hotel tempat saya menginap yaitu hotel Place 2 Stay Riverside yang lokasinya dekat sekali dengan Kuching Waterfront dan tempat wisata lainnya. Harganya juga cukup murah, yaitu RM 50 per malam plus RM 10 pajak hotel per malam.

Damai Beach, 35 Km sebelah utara Kuching

Pada 31 Desember pagi-pagi saya sudah jalan untuk foto-foto di tempat-tempat ikonik kota Kuching (mumpung masih sepi) dan langsung menuju daerah Santubong dimana terdapat Damai Beach dan Sarawak Cultural Village. Perjalanan menuju Santubong benar-benar saya nikmati karena sepanjang jalan banyak tempat yang bisa menjadi spot foto dengan pemandangan yang bagus.

Sarawak Cultural Village pun menurut saya adalah tempat wisata yang wajib dikunjungi. Sisa waktu saya habiskan di mall karena hujan turun sangat deras sampai malam. untung malamnya  hujan berhenti dan langit sangat cerah sehingga perayaan pergantian tahun berjalan lancar dan seru.

1 Januari 2018 pagi saya kembali berkeliling kota Kuching sambil menikmati berkendara motor di kota ini. Luar biasa enak, sepanjang jalan saya hanya menyalakan klakson ketika menyapa sesama pengguna Vespa yang saya temui di jalan, selebihnya klakson hampir tidak pernah saya pakai. Dengan jalan yang bagus dan pengendara yang tertib membuat saya benar-benar menikmati berkendara.

Hanya butuh modal Google Maps untuk berkeliling kota di Kuching Sarawak Malaysia. Kebetulan saya punya SIM Card Malaysia yang sudah biasa saya pakai ketika berkunjung ke Malaysia. Pada siang hari Kota Kuching kembali diguyur hujan yang sangat lebat sehingga lagi-lagi saya menghabiskan waktu di Spring Mall, salah satu mall besar di Kuching.

Pada 2 Januari 2018 pukul 5.00 pagi saya berangkat pulang ke Sambas. Perjalanan kali ini benar-benar memberikan tantangan baru buat saya dimana saya berkendara motor dipagi buta di wilayah pegunungan yang penuh dengan kabut pekat. Saya tentu tidak bisa memacu kendaraan dengan cepat, kecepatan maksimal saat itu 30-40 km/jam ditambah dengan penerangan jalan yang hampir tidak ada di beberapa ruas jalan mmembuat saya harus ekstra hati-hati.

Namun sepertinya nasib baik bersama saya, ditengah perjalanan sinar pantulan dari bulan purnama membantu memberikan penerangan di tengah pegunungan yang gelap. Saya mampir di kota Lundu untuk mengisi bensin sebelum masuk kembali ke wilayah Indonesia, karena Lundu adalah kota diwilayah Malaysia yang terdekat dari border Biawak – PLBN Aruk Sambas, tidak lupa saya mengisi jerigen dengan bensin untuk cadangan di perjalanan.

Sampai di pos perbatasan Biawak, saya pun langsung menyelesaikan proses keimigrasian dan bea cukai Malaysia dan lalu beristirahat di PLBN Aruk untuk bersilahturahmi dengan teman-teman yang ada di Imigrasi di PLBN Aruk.

Hampir 2 jam saya nongkrong di PLBN Aruk sapai saya rasa cukup dan melanjutkan perjalanan kembali ke Sambas. Dari perjalanan ini niat menjelajah dan semangat touring saya semakin besar, sehingga saya memutuskan untuk mencoba touring dengan jarak yang lebih jauh lagi, yaitu ke Brunei Darussalam hingga ke Kota Kinabalu dan Tawau Sabah. Nantikan artikel berikutnya.

6 thoughts on “Vespa Sprint 150 plat B ini jalan-jalan ke Malaysia. Caranya?

  1. Otojurnal says:

    Kalau nggak ikut klub apapun bisa dapat Carnet ga bro

    • harus bergabung dgn klub/komunitas yg terdaftar di IMI
      registrasi KTA IMI skrg bisa melalui aplikasi IMI Online

      • Otojurnal says:

        Ane ada keinginan untuk Turing ke Mekkah, umroh.
        Kemungkinan motornya adalah CBR 250 r,
        Kalau ada Rizki mungkin yg lebih baik dari itu.

        Oh iya. Jika Turing luar negeri, apakah motornya harus standar?
        CBR ane udah dimodif motor naked Turing macam cb150r dan ada boks-nya.

        Dan club’ apakah yg bisa ane gabung untuk Turing luar negeri.

        Jujur, ane ga suka ikut klub, selalu solo Turing keseluruhan Indonesia

        • Sewaktu urus dokumen Carnet di IMI ada permintaan motor harus difoto dari berbagai sisi termasuk no. rangka dan no mesinnya. Tidak ada masalah jika motornya sudah di modif. Tapi sebelumnya harus punya KTA IMI melalui salah satu nama klub/komunitas, motor/mobil.

          Jika mau turing umroh, mungkin artikel ini bisa jadi referensi:
          Edi Sudarmadi: Napak Tilas Jalur Sutra Menuju Mekkah
          https://motobikerz.com/archives/7829

  2. trimakasih atas kisahnya..

  3. Otojurnal says:

    Baiklah, saya coba dulu main ke imi
    Oh iya dimana kantor ikatan motor Indonesia itu bro….

    Nanti disana ane baru nanya club’ apa yg bisa ane ikuti

Leave a Reply to admin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *