Motobikerz – Kita semua tahu, memilih mobil harian terutama mobil listrik atau EV itu ibarat memilih jodoh. Ada yang jatuh cinta pandangan pertama, ada yang butuh waktu lama untuk yakin, dan ada juga yang cuma tergiur janji-janji manis di awal.
Dahulu di awal mula kemunculan EV, janji manis itu bernama ‘harga murah’, atau mungkin ‘irit bensin’. Tapi, kalau riset terbaru ini yang dilakukan oleh Praxis bisa bicara ‘sepertinya era jodoh cantik di luar sudah lewat’. Bisa dikatakan demikian karena para calon pengguna mobil listrik di Indonesia kini semakin cerdas. Mereka gak cuma butuh janji manis, mereka butuh janji masa depan yang lebih serius.
Mari kita analogikan begini. Membeli mobil listrik saat ini ibaratnya Anda akan mengadopsi hewan peliharaan futuristik. Awalnya, semua orang cuma teriak, “Lucu banget! Beli dong!” Tapi sekarang, calon pemilik yang waras akan tanya, “Makannya apa? Sudah terlatih bisa buang air di litter box? Umurnya berapa lama?” Mereka gak mau cuma sekadar punya, tapi juga mau merawat sampai tua. Nah, riset dari Praxis ini seperti sebuah panduan manual buat pemilik ‘hewan futuristik’ alias calon pengguna baru mobil listrik tadi.
Praxis telah melakukan survei dari Februari 2025 – Juli 2025 dengan melibatkan 1.200 pengguna mobil listrik di 12 kota besar. Hasilnya, memotret pergeseran yang sangat fundamental. Kita sudah tidak lagi bicara soal diskon 20%, tapi soal garansi baterai bertahun-tahun. Ya kalau bisa sih sampai 20 tahun.
Pergeseran Prioritas: Dari Harga ke Penggunaan Jangka Panjang
Bayangkan Anda seorang petrolhead yang hidup di era electrichead. Jika dulu, yang bikin mata terbelalak adalah raungan mesin V8. Sekarang? Yang bikin jantung berdebar adalah garansi baterai 8 tahun. Lucu, tapi nyata. Riset Praxis ini membuktikan bahwa daya tahan baterai (35,17%) menjadi faktor utama, jauh mengalahkan harga beli (21,33%) dan reputasi merek (18,5%). Ini seperti memilih pasangan bukan karena wajahnya tampan, tapi karena dia punya tabungan dan asuransi kesehatan yang mantap demi “peace of mind” di masa depan.
Menariknya ketika mereka dihadapkan pada pilihan promosi, mayoritas responden (52%) lebih memilih garansi baterai. Coba bayangkan, Anda ditawari diskon Rp 20 juta atau garansi baterai seumur hidup. Mana yang Anda pilih? Dulu, diskon adalah dewa. Sekarang, garansi baterai adalah ‘Tuhan’ yang sesungguhnya.
Garda Maharsi, Head of Research Praxis menjelaskan, “Ini menjadi tanda pasar yang semakin dewasa. Pasar ini sudah tahu bahwa mobil listrik bisa menjadi sebuah investasi, bukan cuma mainan.” Ungkapnya dalam jumpa pers pada hari ini (14/8) di Greyhound Gatot Subroto Jakarta.
Kendala Infrastruktur
Satu lagi temuan menarik, para pengguna mobil listrik ini ternyata juga memikirkan nasib masa depan. Bukan cuma masa depan mobilnya, tapi juga masa depan mereka sendiri saat mobilnya kehabisan daya. Hampir separuh responden (46%) memprioritaskan ketersediaan infrastruktur—mulai dari SPKLU sampai bengkel resmi.
Mereka butuh jaring pengaman, atau setidaknya peta jalan yang jelas. Ibaratnya, mereka sudah siap punya mobil super cepat, tapi mereka juga butuh SPBU di setiap tikungan. Dan tentu saja mereka juga butuh pengisian yang cepat dan mumpuni. Mereka menganggap waktu 6 jam itu terlalu lama, dan berharap durasi idealnya 1–2 jam. Cukup masuk akal sih, lagian siapa pula yang mau menghabiskan waktu setara nonton dua sekuel film Lord of the Rings hanya untuk mengisi baterai mobil?
Menanggapi hal ini, PLN melalui Nuraida Puspitasari sebagai Vice President Teknologi & Inkubasi Produk Niaga, mengklaim bahwa mereka sudah menyediakan lebih dari 4.000 SPKLU. “Rasanya seperti mau membangun jalan tol di seluruh Indonesia, tapi yang bisa dilewati cuma mobil listrik,” katanya. Ya, kurang lebih begitu. Tapi Nuraida optimis, mereka menargetkan rasio SPKLU terhadap mobil listrik menjadi 1:17 (saat ini rasio 1 SPKLU hanya cukup untuk 25 EV). Itu artinya, PLN sedang berpacu dengan waktu, dengan teknologi, dan dengan kesabaran para pengguna mobil listrik.
Miskonsepsi dan Masa Depan Otomotif
Hal yang paling lucu dan sekaligus penting adalah soal miskonsepsi. “Banyak yang mengira jika baterai rusak harus diganti seluruhnya dengan biaya ratusan juta rupiah,” kataMalvin Nathaniel seorang content creator dan car enthusiast (Bestindocars). Ini seperti ketakutan irasional kita terhadap hal yang tidak kita pahami. Padahal, faktanya tidak demikian. Miskonsepsi ini harus diluruskan, saat ini penggantian baterai EV bisa hanya mengganti slot / cell yang rusak.
Sementara Stephanie Sicilia, Director of Public Relations Praxis dalam kesempatan ini berpendapat, “Dibutuhkan kolaborasi, untuk memberikan edukasi, sehingga adopsi mobil listrik dapat berlangsung lebih cepat dan luas.”
Jadi apa kesimpulannya? Saat ini kita sudah melewati masa-masa ‘demam’ mobil listrik. Sekarang, kita masuk ke era yang lebih dewasa, lebih rasional, dan lebih visioner. Para pengguna mobil listrik di Indonesia tidak lagi memikirkan harga, tapi daya tahan, garansi, dan infrastruktur. Mereka mencari mobil listrik yang bisa diajak hidup susah senang, bukan cuma yang bisa diajak jalan-jalan malam minggu. Ini adalah era di mana kecerdasan mengalahkan nafsu.